Home / Topik / Teknologi / Desain Grafis/Komunikasi Visual: Perlukah Seorang Desainer Mempelajari Bagaimana Mempergunakan AI?

Desain Grafis/Komunikasi Visual: Perlukah Seorang Desainer Mempelajari Bagaimana Mempergunakan AI?

AI Design (sumber: LinkedIn)
1

Sebagai seorang desainer grafis/komunikasi visual, penulis juga turut memperhatikan perkembangan serta kekhawatiran akan semakin maraknya penggunaan AI (Artificial Intelligence) yang konon turut mengancam profesi desain, khususnya desainer grafis. Saking mudahnya mendesain atau merancang sebuah produk desain hanya dengan menggunakan prompt, industri kreatif seperti periklanan (advertising) hingga wadah atau rumah desain kreatif lainnya tidak luput dari ‘godaan’ akan terjadinya pengurangan tenaga kerja desainer grafis. Jika dahulu diperlukan minimal kursus atau training sebelum bisa menguasai ilmu desain, apalagi jika ingin memperoleh pekerjaan yang jauh lebih baik sebagai desainer grafis profesional harus memiliki gelar akademis setinggi mungkin, sekarang barangkali sudah tidak lagi. Hanya dengan mengetikkan serangkaian prompt, dengan cepat dihasilkan gambar atau foto yang diinginkan. Tidak cocok? Tidak menyukai hasilnya? Tinggal ulangi lagi. Apalagi dengan adanya aplikasi atau situs gratisan, tidak lagi mahal, sukar atau sulit. Hanya dengan trial and error, apa saja dan kapan saja pada dasarnya bisa dikreasikan.

Hanya saja, para desainer grafis ‘jadul’ seperti penulis, barangkali masih belum terbiasa atau kudet dalam menggunakan teknologi AI yang disebut nge-prompt ini. Selain karena itu, mungkin juga para desainer yang biasanya berangkat dari kertas/layar kosong alias dari nol, masih jauh memilih membangun desain dari awal. Penyusunan konsep atau tema ‘mau mendesain apa?’, survei atau riset ‘apa yang diinginkan target market?’, brainstorming ide, pengumpulan bahan-bahan desain secara manual entah ilustrasi, foto objek atau produk iklan yang ingin dipromosikan customer dan lain sebagainya, hingga eksekusi pendesainan, menelurkan berbagai alternatif hingga dummy yang bisa dipilih oleh customer hingga disetujui dan menjadi final artwork. Nah, semua tahapan nan kompleks alias rumit ini bisa dipangkas dengan sekejap apabila si desainer atau bahkan si customer mau sedikit ‘bersusah-payah’ menelurkan prompt AI yang pas.

Tapi, apakah benar, seinstan itu proses desain bisa dilakukan?

Pertanyaannya, “Apakah semua desainer, jika tidak mau ketinggalan arus teknologi atau bahkan menjadi pengangguran, harus menguasai teknik menelurkan prompt?”

Inilah beberapa opini penulis:

  1. Seorang desainer grafis sebaiknya tahu dan mengenal sedikit-banyak mengenai penggunaan AI, akan tetapi tidak perlu selalu menerapkannya dalam mendesain.
  2. Seorang desainer grafis sejati tidak hanya akan mengandalkan prompt semata-mata demi mencapai hasil yang diinginkan. Ia akan jauh lebih bangga dan puas apabila bisa melakukan tugasnya dengan bantuan teknologi seminim mungkin. Apabila masih mungkin/masih bisa memotret sendiri, menorehkan ilustrasi sendiri, lakukanlah. Pergunakanlah bantuan AI apabila memang merasa kesulitan mendapatkan foto/ilustrasi, tentu saja tidak semaunya/seenaknya.
  3. Jadikanlah AI sebagai asisten pekerjaan Anda, bukan pengganti/substitusi otak atau talenta/keahlian Anda. Bidang-bidang Seni Rupa dan Desain adalah dunia kreatif di mana manusia mengekspresikan seni dan keindahan lewat kreativitas bersama atau mandiri. Jika Bidang Seni Rupa ada untuk mengekspresikan hasrat seni seorang seniman, Bidang Desain ada untuk mengkomunikasikan keinginan manusia (pengguna/penikmat/pemesan atau customer) melalui bantuan manusia lainnya (desainer). Tentu saja hal-hal tersebut tidak mudah tercapai hanya dengan penggunaan mesin dan listrik belaka.

Kesimpulan: Meskipun dengan sebuah prompt AI mudah saja menghasilkan karya desain, desainer tidak dapat langsung mempergunakannya tanpa pengolahan dan pengeditan lebih lanjut. Selayaknya keahlian menyusun prompt diketahui (sebagai pengetahuan umum/dasar), akan tetapi janganlah dijadikan satu-satunya andalan dalam mendesain. Sebisa mungkin, penguasaan desain secara manual tetap dilakukan. Desainer perlu mengutamakan dan mempergunakan talenta, rasa dan karsa yang ada padanya terlebih dahulu. AI, sama halnya dengan aplikasi dan tool desain lainnya, hanya akan bisa dipergunakan dengan tepat dan bijaksana apabila penggunanya bukan hanya sekadar belajar nge-prompt. Yang diutamakan dalam desain komunikasi visual bukan desain yang bagus, melainkan tiba pada sasaran proses komunikasinya.

Tangerang, 22 April 2025 Wiselovehope

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image