Puk-puk hangat di punggung Hanny menyadarkannya dari pemandangan menakutkan tersebut. Ternyata tangan kakeknya. Sontak Hanny membenamkan tangis di dada sang kakek.
“Sabar, Nduk… Sabar…” hibur MJK Riau sambil mengusap punggung sang cucu dengan penuh kelembutan.
Setelah surut kesedihannya, Hanny bertanya kepada sang kakek, “Bagaimana kisah selanjutnya, Kek?”
“Harusnya hal itu ditanyakan kepada pengarang cerita silat semau gue ini,” keluh MJK Riau sambil mendelik kearah pengarangnya, yang hingga pukul sembilan dua puluh tujuh malam ini masih mengetik kisah pilu berlatar silat dengan amat khidmat. “Tapi karena kakek adalah tokoh pengantar di episode yang ke-4 kali ini, tak ada salahnya jika kakek yang menjelaskan,” lanjut MJK Riau sambil menghela napas dengan amat berat.
MJK Riau meneruskan kisahnya, bahwa setelah Sam Trader melihat kitab serta memeriksa pedang milik Zul, dia segera tersadar, bahwa dari bercak serupa tetesan air yang terukir di batang pedang, menunjukkan bahwa pedang itu adalah Pedang Tetesan Air Mata yang pernah menghentak jagad persilatan tanah Tiongkok.
“Pedang Tetesan Air Mata adalah simbol keadilan rimba persilatan Tiongkok, Nduk. Walau mungkin ada cukup banyak tosan aji bermutu di negeri ini, namun tak satu pun yang mampu menepiskan kehebatan dan pedang ini,” wejang MJK Riau.
“Termasuk Keris Setan Kober yang terkenal sakti itu, Kek?” polos Hanny.
“Untuk urusan keris kakek kurang mendalami, Nduk,” senyum MJK Riau. “Tapi yang kakek tahu, pedang ini memang memilki riwayat yang amat menyayat.”
“Pedang ini adalah yang tertajam dari begitu banyak pedang kenamaan yang pernah ada sejak masa tiga ratus tahun yang lalu hingga sekarang. Bahkan masih lebih tajam dari cuwi-kiam yang pernah membuntungi tangan Sin Tiaw Tayhiap Yo Ko,” lanjut si Kakek.
Tanpa sadar Hanny berdecak kagum.
“Siapa pembuatnya, Kek?”
“Setahu kakek, yang menempa pedang ini seorang Taysu keturunan Ouw Cu-ki, dengan pemegang terakhir bernama Siau-ko, seorang pemuda pendiam yang amat misterius. Dan setahu kakek pula, pedang ini amat keji sehingga tiap kali keluar dari sarungnya niscaya selalu menyeruput darah lawan.”
Hanny bergidik ngeri.
“Benar-benar pedang yang jahat.” komentarnya.
“Kau salah, Nduk. Pedang ini justru terkenal sebagai pedang keadilan yang amat ampuh, hingga mampu menghukum nyaris setiap kejahatan yang ada di Tiongkok dulu, bahkan termasuk juga para pejabat negara yang korup pada masa Dinasti Anu, di mana ada kejadian salah satu anggota kesatuan militer setingkat kepolisian kerajaan ditampar oleh juragan pompa namun tak ada yang berani menangkapnya, karena kabarnya si juragan pompa dibeking oleh anggota yang sama tapi dengan pangkat yang jauh lebih puncak.”
“Saat itulah Pedang Tetesan Air Mata kembali menunjukkan taringnya, dengan cara mengebiri si juragan pompa di alun-alun kerajaan hingga menjadi tak berbeda dengan seorang thaykam istana.”
Tiba-tiba MJK Riau melompat dan berjumpalitan di udara. Tangannya meraih Hanny untuk dibawa berlari dengan amat cepat. Hanya sekejap jarak ratusan li sudah terlampaui oleh keduanya.
“Ad-ada apa, Kek? Kita mau ke mana?” tanya Hanny bingung, walau diam-diam dia amat kagum dengan ginkang kakeknya yang maha dahsyat ini. Tapi dia heran, kenapa waktu pergi haji Kakek tak menggunakan ginkang saja. Bukankah lebih cepat dan terutama sekali: Gratis!
“Kau harus ke Kalimantan, sementara kakek akan ke jurusan yang lain. Darurat sipil,” jawab MJK Riau misterius.
“Ja-jauh sekali, Kek. Memang ada masalah apa? Tapi ginkang Hanna tak akan mampu menuju ke sana dalam waktu singkat.”
MJK Riau terbahak-bahak sambil terus mempertahankan laju larinya. Sungguh sebuah kepandaian yang amat langka, mengingat seseorang jika berlari mempergunakan ginkang biasanya harus mengatur napas sedemikian rupa tanpa boleh sedikit pun tertawa.
“Kau pikir ini zaman Wiro Sableng apa, Nduk? Hahaha. Kau ke sana naik Sukhoi bareng kenalan Kakek waktu jaman perjuangan kemerdekaan dulu, yang kini telah jadi perwira di Angkatan Udara.”
Diam-diam hati Hanny bersorak mendengar dirinya akan naik pesawat keren tersebut.
“Jangan senang dulu, Nduk, karena kau akan turun pesawat dengan cara terjun tandem dari ketinggian 17.000 meter.” Kembali MJK Riau tertawa, sementara wajah Hanny langsung pucat pasi.
“Ap-apakah kakek bercanda?”
MJK Riau menggelengkan kepala.
“Tadi kakek terciprat paparan gelombang S.O.S. dari seseorang bernama Pepih Nugraha entah siapa melalui jalur AA-Eneng dalam jaringan khusus ber-tagar #jangansensi. Katanya ada beberapa Pendekar Besar yang terluka dan hampir mati di posisi yang berjauhan. Satu di Kalimantan, sementara yang satunya lagi kakek kurang begitu jelas. Terdengar seperti di Maroko atau Mabolro atau entah apa,”
“Terus, ini kita mau kemana, Kek?”
“Kemana lagi jika bukan ke Lanud Wirasaba yang tak kunjung selesai itu?”
Entah mengapa suara Kakek terdengar agak sewot, mungkin sebal dengan lambannya birokrasi antar institusi yang ada di Negeri Semar ini.
***
Pesawat Sukhoi, Waktu Indonesia Bagian Ngeri.
Tak ada yang lebih mendebarkan dibandingkan pengalaman pertama, sejak mulai masuk TK hingga malam pertama pengantin baru.
Begitu juga yang dirasakan Hanny saat ini. Jantungnya seakan berpacu beberapa kali lebih laju dari biasanya, dengan lonjakan aneh antara rasa takut bercampur penasaran bergelut di relung hatinya. Inilah pertama kalinya dia akan mempraktekkan kepandaian Camar Menari Diantara Tiang Sampan ajaran kakeknya dari ketinggian 17.000 meter di udara.
Dan di sinilah Hanny berada sekarang, di depan pintu Sukhoi yang hanya boleh dibuka dalam tempo yang tak lebih dari satu per sekian ratus detik saja, sebab jika lebih lama dari itu, dia tak dapat membayangkan apa yang akan menimpa pesawat tempur yang ditumpanginya ini.
Hanny mengangguk perlahan pada pilot yang mengacungkan jempol kepadanya.
Tampan juga nih pilot, sayang hidungnya terlalu pesek, batin Hanny, sempat-sempatnya mengumbar perasaan sesaat sebelum tubuhnya melayang di angkasa.
Masih seperti pengalaman malam pertama kebanyakan orang, kengerian yang Hanny rasakan sebelum meluncur di udara tadi perlahan menguap, berganti dengan kenikmatan yang sangat buah sensasi lain yang menerpanya kini. Tak terlukiskan!
Walau agak aneh, tapi Hanny benar-benar merasakan dirinya bergelayut manja dibawah tali-temali payung terjunnya, dengan hembusan angin yang genit meraba setiap pori yang ada di atas kulit tubuhnya. Belum lagi pemandangan super indah dengan begitu banyak bentuk yang mirip jajaran pegunungan, lembah juga kumpulan hijau serupa permadani yang kian waktu kian membesar dan memperlihatkan bentuk nyatanya sebagai pepohonan hutan.
Syuuutttt! Hup.
Akhirnya Hanny mendarat di atas tanah dengan amat cantik. Tapi belum sempat dia melepas payung terjunnya, ketika sebuah erangan yang amat merintih keluar dari gua tepat di depannya.
Dengan agak berjinjit Hanny mendekati mulut gua, mencoba mengintip ada apa atau siapa di dalam sana, hingga tiba-tiba matanya tertumbuk tubuh sesosok pria yang terus muntah darah bercampur sedikit asap.
Sontak Hanny meloncat ke sosok yang terluka parah itu. Tanpa ba-bi-bu lagi dia langsung menotok tiga puluh lima jalan darah penting yang ada di dada, serta tujuh puluh sembilan titik nadi di punggung pria tersebut, untuk kemudian tangannya ditempelkan ke punggung si sakit untuk menyalurkan hawa murni.
Tak kurang dari sepeminum kopi lamanya, pernapasan yang penuh sengal berangsur teratur.
“Te… terima kasih atas kebaikan Nona yang telah menolong saya,” ucap pria tersebut sambil berpaling ke arah Hanny.
“ Tidak apa-apa, Pak. Sudah menjadi kewajiban sesama kaum persilatan untuk—Lho, Mas Aldy?” kaget Hanny.
“Hah … kamu? Mbak Hanny? Yang dulu biasa inbokan di Kompasiana versi lama itu, kan? Wah!”
Sesaat keduanya terpana, untuk kemudian tawa meledak melewati bibir keduanya.
“Kita kayak lagi kopdar aja, yah, Mas Aldy, hihihi.”
“Iyah, Mbak Na, Padahal Kompasianival masih lama. Dasar juru ketiknya kurang kerjaan, masa pertemuan menyedihkan seperti ini malah diubah jadi aneh. Mana saya ditempatin di peran konyol yang terus muntah lagi. Untung aja udah nggak campur kentut, tapi tetap kurang gagah rasa kependekarannya kan? Ha ha.”








