Mengajak warga negara asing bereksplorasi, tentu bukan hanya soal objek yang menjadi target, tapi juga sekaligus mengenalkan kulinernya. Kali ini aku ingin mengajak Elaine mencicipi masakan yang berbeda, bahkan yang mungkin belum pernah dia bayangkan sebelumnya.
Mobil kulakukan ke arah jalan yang menghubungkan jalan raya Menowo – Pucang, melewati Sindas mobil berhenti di Cetokan Satu, Desa Candiretno, Kecamatan Secang. Sebuah rumah makan yang meski tidak besar tapi cukup terkenal karena menjadi pelopor dalam menyajikan hidangan lezat berbahan dasar entok. Aku mengajak Elaine masuk dan mencari tempat duduk di sudut.
“Enthok itu apa?” tanya Elaine saat membaca menu yang tersedia.
“Enthok adalah sejenis unggas yang masih merupakan keluarga yang sama dengan bebek,” jawabku menjelaskan. Elaine manggut-manggut sambil meneliti setiap judul masakan yang tertera pada buku menu. Di rumah makan Johar Sari enthok menjadi bahan utama dalam hidangan kulinernya. Aku memilihkan olahan opor enthok untuk kami berdua. Makanan ini juga menjadi bagian yang akrab bagi masyarakat Magelang.
Meskipun bahan pembuatannya mirip dengan opor ayam, mulai dari rempah-rempah yang beragam, kaldu, hingga santan, yang membedakannya adalah penggunaan daging enthok yang memberikan cita rasa tersendiri. Konon biasanya saat Hari Raya Idulfitri, opor enthok menjelma menjadi hidangan utama yang dinanti-nanti di Magelang. Saat bersama keluarga dan rekan-rekan, hidangan ini menjadi magnet yang mengundang selera untuk dinikmati bersama-sama.
Dengan keunikan bahan dasarnya dan sentuhan rempah yang khas, opor enthok Magelang bukan sekadar hidangan, melainkan juga potongan kearifan lokal yang dijaga dan dirayakan oleh masyarakat setempat. Berbeda dengan opor ayam pada umumnya, hidangan ini meciptakan kelezatan entok yang diolah dengan rempah-rempah khas.
Elaine beberapa kali melihat ponselnya seperti menunggu seseorang menghubunginya. Sesaat menoleh padaku, lalu kembali melihat ponselnya.
“Menunggu telepon?” tanyaku.
“Papa, dia berjanji hendak menelepon,” jawabnya sambil kembali melihat ponselnya. Aku menghela nafas panjang, jika Pierre menelepon, pasti laki-laki itu akan meminta bicara denganku juga. Rasanya seperti orang asing setelah peristiwa silam yang sempat mengoyak hubungan kami.
“Makanlah!” perintahku saat pesanan tiba, semangkuk opor enthok dengan aroma rempah yang khas dan asap mengepul begitu menggugah selera. Elaine mengangguk dan mengikuti makan. Awalnya dia ragu, kemudian melihat caraku mengiris daging enthok, lalu memasukkan potongan nasi dan irisan daging yang lembut dengan kuah yang lumer tersebut, sesaat kemudian senyumnya mengembang.
“C’est très délicieux, Maman.”
“L’opor enthok ici est le plus délicieux,” jawabku sambil mengunyah. Selanjutnya hanya ada suara besi yang beradu dengan piring.
Tak perlu waktu lama, piring di hadapan masing-masing telah tandas tanpa menyisakan sebutir nasi pun. Elaine bersendawa, puas dengan makanan yang disantapnya. Aku segera mengajaknya melanjutkan perjalanan. Entahlah … diam-diam aku justru berdoa agar Pierre tidak jadi menelepon. Aku butuh waktu untuk mengumpulkan nyali sebelum berbicara dengan Pierre.
Mobil yang kukemudikan terus menuju arah Pucang. Untuk menuju ke Grabag harus melewati Desa Pucang yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Secang, dengan ketinggian rata-rata 470 mdpl, terletak di sebelah utara Kabupaten Magelang, dengan jarak 4 km dari kantor kecamatan Secang, atau sekitar 30 km dari kantor Kabupaten Magelang.
Sambil mengemudi aku menjelaskan tentang nama desa yang kami lalui. Konon nama pucang di ambil dari nama sebuah pohon sejenis pohon jambe atau pinang yang menjulang tinggi dan konon ceritanya dahulu di daerah ini banyak di tumbuhi pohon pucang atau pinang
Harapannya dengan mengambil nama pohon tersebut yaitu Pucang di harapkan akan menjadi daerah atau kawasan yang terkenal dengan cita-cita yang tinggi. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa nama Desa Pucang di ambil dari istilah jawa “Pupune dicancang” atau pahanya diikat, yang berarti simbol dari kerja keras.
Selain itu Desa Pucang juga dikenal sebagai salah satu desa dengan mata pencaharian warga desanya sebagai penghasil kerajinan tanduk. Hingga saat ini sebagian besar warganya adalah pengrajin, bukan hanya tanduk, tapi juga merambah ke kerajinan kayu, bambu, dan tempurung kelapa, yang menghasilkan berbagai perlengkapan dapur.
Mobil terus melaju. Sebagai daerah yang menghubungkan batas Kecamatan Secang dan Kecamatan Grabag, daerah ini cukup ramai.
“Lihat, ada tugu kecil!” seru Elaine saat melintasi perempatan Dusun Karang Wetan, Desa Pucang ini.
“Itu Tugu Pucang,” jawabku sambil terus mengawasi situasi jalan yang ramai dengan kendaraan berlalu-lalang.
“Pembatas jalan?” tanya Elaine lagi.
“Orang menganggapnya demikian, tapi tidak banyak yang tahu bahwa tugu ini sebenarnya bukan sekadar penunjuk jalan, tapi sengaja dibuat untuk menandai lokasi pertempuran bersejarah antara pasukan rakyat Indonesia melawan Sekutu.”
“Tolong berhenti, Maman! Aku mau melihat lebih dekat,” pinta Elaine. Aku mencari tempat yang aman untuk menepikan mobil. Elaine bergegas turun menuju tugu yang berada tepat di perempatan jalan tersebut. Aku mengikuti khawatir terjadi sesuatu.
“Tugu ini adalah saksi bisu perjuangan rakyat melawan tentara Sekutu yang terjadi di sekitar wilayah Pucang, Secang pada bulan Oktober 1945 dan merupakan bagian dari pertempuran Magelang yang lebih besar, sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.”
“Seperti yang dikisahkan Ran? Apa ada hubungannya dengan peristiwa Kampung Tulung” tanya Elaine mencecar.
“Benar. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tanggal 20 Oktober 1945 pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Bethel bergerak dari Semarang menuju Magelang membawa kurang lebih tujuh kendaraan yang di kawal kendaraan lapis baja. Tujuan utama kedatangan mereka adalah Magelang sebagaimana ditugaskan oleh Sekutu yaitu mengurus tawanan perang, melucuti senjata dan pembersihan tentara Jepang yang ada di Jawa Tengah,” paparku, meski sesungguhnya aku tidak terlalu yakin memberikan informasi dengan tepat, tapi setidaknya sebagai warga negara yang baik, paham tentang sejarah meski sedikit.
“Kedatangan mereka tentu saja memicu konflik dengan pemuda dan pejuang Indonesia yang telah mengambil alih pemerintahan lokal, akibatnya terjadinya pertempuran melawan tentara Sekutu dan Belanda di Magelang. Hingga terjadi beberapa insiden di Magelang, termasuk penangkapan Mayor Jenderal Nakamura Junji–pemimpin pasukan Jepang di Jawa Tengah–oleh pejuang Indonesia.”
“Dia gugur?” tanya Elaine lagi
“Tidak. Mayor Jenderal Nakamura Junji tidak gugur di Indonesia, dia menjadi prajurit Jepang terakhir yang menyerah setelah Perang Dunia II. Dia bersembunyi di pulau Morotai Indonesia selama 30 tahun dan kembali ke rumahnya di Taiwan pada tahun 1975.” Elaine mengangguk, beberapa kali mengambil gambar dan membuat video. “
“Pasukan sekutu akhinya menunjukan sisi aslinya dan pertempuran besar pun terjadi, pada tanggal 28 Oktober hingga 1 November 1945 setelah pasukan Belanda mengadakan gerakan licik dengan menculik dan menyiksa sekelompok pemuda Magelang. Perbuatan semena-mena tersebut mengakibatkan kemarahan masyarakat Magelang, sehingga rakyat di bawah komando Badan Keamanan Rakyat terjun dalam medan pertempuran untuk menyerang markas batalyon di Tuguran, Susteran dan Hotel Montagne,” lanjutku menjelaskan.
“Belanda menculik pemuda Magelang?” ulang Elaine sambil membuat coretan di bukunya.
“Karena itulah rakyat Magelang marah. Mereka melakukan serangan mendadak terhadap pasukan sekutu hingga terjadi pertempuran selama beberapa hari termasuk di wilayah Pucang dan berbagai lokasi sekitar alun-alun Magelang serta markas-markas sekutu, penghadangan konvoi, atau pertempuran jarak dekat antara pejuang Indonesia dengan pasukan sekutu.”
“Lalu bagaimana? Apakah pertempuran itu bisa dihentikan?” cecar Elaine lagi.
“Pertempuran akhirnya dihentikan setelah kedatangan Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethell pada tanggal 2 November 1945. Setelah diadakan perundingan maka disepakati gencatan senjata.”
“Syukurlah, pertempuran selesai.”
“Wow, jangan salah. Meski telah sepakat untuk gencatan senjata di Magelang, tapi pasukan sekutu melanggar kesepakatan dengan membebaskan para tawanan perang yang kemudian bergabung dengan NICA hingga pertempuran kembali berkobar di Ambarawa, wilayah yang berdekatan dengan Magelang.”
“Kurang ajar betul Sekutu!” umpat Elaine kesal.
“Begitulah yang namanya perang. Selalu penuh trik licik. Tapi pertempuran di Pucang dan Magelang secara keseluruhan sudah menunjukkan semangat juang rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan hingga berdampak pada kebijakan Inggris di Jawa Tengah dan menjadi bagian penting dari sejarah Magelang dan perjuangan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Karena pertempuran tersebut memakan banyak korban, makadi desa Pucang didirikan Tugu untuk memperingati dan mengenang peristiwa penting serta jasa para pahlawan, dalam konteks perlawanan terhadap penjajahan, terutama karena lokasi ini pernah menjadi saksi gugurnya pasukan rakyat Indonesia yang dipimpin oleh Mayjen Suryosumpena saat bergerak dari Grabag menuju Magelang.” Aku menutup penjelasan dan mengajak Elaine melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin siang.
Note :
C’est très délicieux: ini sangat enak
L’opor enthok ici est le plus délicieux: Opor enthok ini adalah yang paling enak.










