Home / Genre / Petualangan / 1. Situs Dipan, Sebuah Awal Peradaban di Lereng Manoreh

1. Situs Dipan, Sebuah Awal Peradaban di Lereng Manoreh

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 2 of 33 in the series Ananta Kama

Beberapa hari ini tetiba aku merindukan seseorang. Entah siapa, tapi ada celah kosong di hati yang meminta hak untuk diisi. Seperti inikah namanya cinta? Selalu hadir rasa yang menuntut temu, Tapi rindu untuk siapa? Bhaskoro? Pierre? Dua nama yang sering mengusik dan menyelinap tanpa diharap. Atau Elaine? Ah, ya … setelah menikah dengan Ranmaru gadis itu hampir tak pernah muncul.

Untuk mengusir rasa yang cukup membuatku frustasi aku memutuskan berkeliling desa dengan motor tuaku yang masih setia menemani perjalananku. Cinta memang urusan hati yang rumit. Teringat baris kata-kata yang kutulis di novelku yang berjudul Cinta Tak Biasa.

Cinta, adalah  sebuah hal yang membuat hidup berwarna, yang membuat kita lupa apa itu kebencian. Cinta itu hal yang sakral dan sangat rapuh,  hingga mudah membuat hati patah. Namun,  ketika cinta datang,  resiko pun diterjang seolah tak kenal penghalang. Layaknya api yang berkobar dalam jiwa, cinta adalah perasaan yang memutar kehidupan.

Tak selamanya hidup yang kita jalani ini mendatangkan sukacita dan kegembiraan.  Begitu juga dengan cinta.  Adakalanya kita diperhadapkan dengan situasi yang membawa kita larut dalam kesedihan dan ratap tangis. Suka dan duka, tangis dan tawa, bahagia dan lara, adalah dua sisi yang datang dan pergi dalam kehidupan ini. Namun, kita harus belajar untuk selalu memetik hikmah di setiap keadaan.

Kebanyakan dari kita tidak bisa menerima keadaan sulit. Kita mengeluh, mencari-cari kesalahan orang lain, menyalahkan keadaan, bahkan tak sedikit yang berani menyalahkan Tuhan. Kita tidak menyadari bahwa Allah seringkali menggunakan ‘keadaan sulit’ sebagai cara untuk membuktikan kepada kita semua  bahwa Dia adalah Allah Sang Pemilik Skenario dan dengan Kuasa-Nya sanggup mengubah setiap keadaan.  

Jika kita diijinkan melewati keadaan sulit, percayalah Allah pasti punya rencana yang indah di balik itu. Seperti juga Cinta yang harus melewati banyak kesulitan dan ujian kesetiaan, selalu ada rencana indah-Nya di akhir cerita.

Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat kalimat panjang yang kutulis sebagai pembuka novel tersebut, hingga tanpa sadar aku sudah jauh dari jalan raya. Bagaimana bisa aku melamun hingga motor melaju di jalan pedesaan di tengah hutan kecil. Akhirnya kuhentikan motorku, mencari tempat nyaman untuk menenangkan diri. Setelah bertanya pada salah satu warga yang kutemui sedang menyiangi rumput di halaman rumahnya, laki-lakinya paruh baya itu mengatakan bahwa saat ini aku berada di desa Tuksongo.

Suasana pedesaan masih terasa kental, pepohonan yang rindang membuat cuasa Desa Tuksongo, yang berada di ketinggian sekitar 380 mdpl terasa sedikit hangat. Tidak terlalu panas, lokasi desa yang berada di dataran dan lereng perbukitan, dengan batas selatan berupa lereng Pegunungan Menoreh dan batas utara adalah Sungai Sileng ini nyaman sebagai tempat menyepi. Tidak terlalu jauh dari pusat kota, tapi cukup tenang dari hiruk pikuk. Setelah menitipkan motor di halaman rumah bapak tersebut,  aku memutuskan untuk berjalan kaki mengelilingi sekitar, melemaskan kaki dan menyegarkan pikiran.

Ketika sedang berjalan mengelilingi desa, tanpa sengaja aku menemukan sebuah situs yang terletak di Dusun Ganjuran II, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Letaknya mungkin sekitar  sekitar 3 km di sebelah selatan Candi Borobudur, candi Budha terbesar di Indonesia.

Aku mengingat-ingat, sepertinya pernah membaca literatur tentang Situs Dipan. Konon menurut riwayat temuan arkeologis di situs ditemukannya arca Mahakala dari bahan terakota atau tembikar dari tanah liat yang mengalami pembakaran tanpa bagian belakang dan landasan duduk yang biasa disebut Asana. Namun, arca tersebut disimpan di kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang dulunya bernama Balai Pelestari Cagar Budaya Wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Selain itu pada ekskavasi yang dilakukan di Situs Dipan ditemukan juga antefik atau batuan sudut candi bermotif dari bahan terakota yang disimpan di kantor Balai Konservasi Borobudur, kini bernama MCB. Pada lahan yang sama juga ditemukan fragmen bata kuno dan batu andesit berbentuk kerucut dengan delapan sisi dan bagian atas yang terpotong. Selain itu juga ditemukan batu dengan pahatan stupa

Seorang penjaga yang melihatku tertarik pada situs yang memiliki struktur panjang kali lebar sekitar lima meter dengan enam sampai tujuh lapis bata ini mendekat.

“Dari mana, Bu?” sapa petugas yang mengenalkan diri bernama Hari. Senyumnya ramah bersahabat.

“Oh, saya dari Magelang,” jawabku, rasa ingin tahu terhadap bangunan berbentuk persegi dengan ukuran 5×5 m, dengan kemungkinan arah hadap ke timur itu membuatku tak mengalihkan pandangan dari bangunan kotak tersebut.

“Itu bata kuno, struktur temuan saat ekskavasi mempunyai tinggi fondasi 30 cm, terdiri atas 3 lapis bata, dengan dinding kaki terdiri dari 6 lapis bata diatas fondasi. Tingginya sekitar 60 cm, yang kemudian diinterpretasikan sebagai teras candi.” Hari menjelaskan dengan rinci

“Jika dilihat dari struktur bata kuno, berarti candi ini jaman Medang, ya?” tanyaku.

“Bata kuno ini  secara karakteristiknya bisa diindikasikan berasal dari masa yang sezaman dengan Candi Borobudur, sekitar abad 8-10 masehi,” tutur Hari. Aku mengangguk, meski tak terlalu paham dengan tahun-tahun pembuatan candi

“Secara historis Situs Dipan sudah terdata dalam laporan Oudheidkundige Dienst atau Dinas Purbakala Hindia Belanda. Dulu situs di sekitar Candi Borobudur seperti Candi Pawon, Candi Mendut, dan situs Dipan sudah dilakukan inventarisasi di masa Kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1920-1930-an,” lanjut Hari.

Aku meneliti setiap sudut candi  dengan saksama. Sepertinya banyak yang tidak utuh. Mungkin pada saat penggalian atau justru saat ditemukan warga.

Menurut Hari, setelah ditemukan situs ini tidak mendapat porsi untuk penelitian, bahkan ekskavasi. Baru pada 1970-an dilakukan survei yang bersamaan dengan pemugaran Candi Borobudur. Situs Dipan kembali menjadi objek ekskavasi atau penggalian yang dilakukan oleh peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta sekitar tahun 2000 hingga 2004.

Lebih lanjut menurut Hari, jika dilihat dari temuannya, maka susunan bata di Situs Dipan kemungkinan merupakan sebuah struktur yang memiliki denah persegi, tapi masih perlu dikaji lebih lanjut terkait denah dan strukturnya, karena ekskavasi yang dilakukan belum mencapai lapisan tanah budaya Situs Dipan dan juga kondisinya yang sudah tidak utuh di beberapa bagian.

Hari menuturkan juga bahwa perlindungan intensif dilakukan berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010. Ada tiga tahap pelestarian, yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Situs Dipan ada dalam taraf perlindungan. Jadi masih dilakukan ekskavasi pemagaran, mendirikan shelter, dan melakukan monitoring untuk struktur bata yang ada di Situs Dipan.

Sementara itu, untuk status cagar budaya, Hari menjelaskan bahwa Situs Dipan masuk ke dalam Situs Cagar Budaya peringkat nasional dengan kriteria satu ruang geografis dengan Candi Mendut, Borobudur, Pawon ,dan Ngawen.

“Atas dasar penetapan tersebut, pada tahun 2024 dilakukan eksplorasi dan kajian lanjutan. Dari kegiatan tersebut dilakukan perlindungan berupa ekskavasi penyelamatan. Kemungkinan besar di sekitar sini masih ada struktur lainnya, makanya dibebaskan lahannya.” pungkas Hari.

Bahasan yang menarik, aku undur diri untuk melanjutkan perjalanan. Sepanjang area situs bentangan pohon di sisi-sisinya menandakan batas teritorial dan histori. Sangat disayangkan jika bangunan bersejarah itu teronggok dalam sebuah kubangan kotak yang digali oleh para arkeolog.

Saat ditemukan di ladang milik warga, ia layaknya harta karun dan anak yang baru saja lahir, meski sudah menjadi bagian dari peradaban ratusan tahun silam. Kabar yang dipercaya masyarakat sekitar menunjukkan pemahaman yang sama, yaitu bahwa Situs Dipan diambil dari seseorang bernama Dipa. Namun, sejauh ini tidak ada informasi rinci yang ditemukan tentang identitas Dipa.  Penamaan situs hanya berdasarkan nama tokoh lokal adalah hal yang umum dalam sejarah penamaan tempat.

Ananta Kama

Ananta Kama . Borobudur Representasi Perjalanan Hidup Manusia

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image