Tak semestinya,
Kala mengingatmu hati menabuh keluh
Di mana realita menjadi hutan rimba
Memangsa sabar yang membangunkan amarah
Lalu,
Kuingat pada paruh waktu
Bukan masanya lagi membakar semesta
menjadi merah
Sebab diri ini hendak memperbaiki muasalnya
Di dada yang berkecamuk; padamu yang mengajarkanku
Manakala kucium tanganmu,
Lalu kusebut namamu sebagai guru
Aku kerap dicekam ujian yang tak ramah
Kini jarak aksa membentuk labirin pada raga,
Tak bersua dalam waktu yang lama
Tapi nasihat dari tutur katamu,
Akan aku rawat hingga menjelma menjadi bukti











