Home / Fiksi / Cerpen / Segenggam Lara di Lembayung Senja

Segenggam Lara di Lembayung Senja

Segenggam Lara di Lembayung Senja
1

Senja begitu memesona diriku dengan cahayanya yang kuning keemasan. Pesona kepak  camar beterbangan penuh cerita. Khayalanku tertuju pada indahnya rona senja  usai langit tumpahkan tangisannya ke bumi. Lega sudah. Namun, tidak begitu denganku. Aku tidak merasakan adanya kelegaan di rongga dada ini. Meski ribuan tangis telah tertumpah. Masih saja ada luka yang belum sempurna tertutupi.

Apakah aku harus menjelma menjadi bayang kelam? Hilang saat senja digantikan malam? Agar tiada seorang pun tahu betapa dalam, lukaku begitu menganga di sana. Tiada obat yang mampu sembuhkan, termasuk pula kau. Fatamorgana yang menjadi penggoda mimpi-mimpiku. Hingga akhirnya lesap bersama bayang-bayang semu. Kau siapa?

Hingga kini aku bahkan belum bisa memahami setiap sisi jiwamu. Hingga kini aku bahkan tidak tahu harus bagaimana kubersikap, atasmu. Aku GR, ya! Aku posesif, ya! Aku cemburu, ya! Dan semua YA itu karena rasa yang kumiliki kini berubah  menjadi rasa posesif berlebihan. Yang berhak atas dirimu adalah aku. Tidak boleh ada yang lain selainku. Kau mungkin paham.

Aku bukanlah senyawa yang bisa bias saat bercampur dengan zat lain. Aku hanyalah jiwa kembara yang belum tahu ke mana langkah kaki ini akan berpijak. Kau tahu? Aku bukan siapa-siapa.  Dan aku pun ‘tidak’ mengatakan hal yang sama. Aku adalah binatang yang sekali jelma menjadi lain atau bahkan lebih buas dari itu. Aku hanyalah luka yang ditebar di atas hati dan rasa penuh kedengkian dan kebencian. Caci maki dan rasa porak poranda dalam hatiku  (bahkan mungkin) telah tersemat semenjak ratusan tahun sebelum roh kita dipertemukan.

Kabut tipis perlahan tersibak, saat sang fajar menyapa seluruh penjuru mayapada. Dingin angin sisa semalam masih terasa. Gigil di tubuhku tak mampu lagi menahan gigil kerinduan yang telah kau tebar, beberapa masa dulu. Kukagumi pesonamu, wahai Hati Es. Beku dan tak mudah dilelehkan oleh magma amarah dari dalam diriku.

Aku rindu, jujur. Namun, aku tak pula ingin menatapmu, hancur. Sehancur asa nan lara yang t’lah kauucap dulu. Ah, hanya sandiwara! Kita adalah lakon-lakonnya yang begitu lihai memainkan peran menjadi durjana. Lelakiku. Lelaki yang tak pantas kusebut. Lelaki yang bukan lelaki yang diceritakan banyak lelaki. Namun kau lelaki yang sembunyi dari balik kekerdilan jiwamu. Bukan ksatria.

Betapa bodohnya aku! Kedunguan yang kini melanda rasa cinta itu, perlahan-lahan membakar aroma harap kian meremang. Tak dapat kusanggah, andai pun kau dan aku berdebat. Aku tidak lihai untuk itu. Aku tidak terampil mengolah kata-kata yang bisa kuungkapkan menjadi puisi, bukan! Aku bukanlah pujangga. Hanya segenggam jiwa yang melanglang buana bersama mimpi-mimpi indahnya. Meski seringkali terabaikan.

Aku mengalah demi apa?  Onak menghadang di depan, saat tubuhku ringkih hampir saja lebur bersama serpihan-serpihan lukaku. Dan kau berlalu begitu nyamannya. Mencari selaksa kedamaian atas nama cinta dan pengkhianatan.  Aku tak mampu lagi menjadi tameng bagi diriku. Jujur kukatakan; aku lelah! Kau telah memulainya dan aku ingin mengakhiri_tak ingin. Hampir saja kuporakporandakan keangkuhanmu atas nama cinta dan kesetiaan, padahal itu hanyalah semu.

Aku tidak khilaf mencintai separuh jiwa renta yang kini kembali pulang. Ada nyaman tertinggal saat kutorehkan pelbagai majas dan kias atas rasa kian hambar. Maaf tuan, aku lelah. Ijinkanku lelap sejenak bersama kidung bintang gemintang.


Rinai Hujan, 14 Desember 2024, 17. 02.

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Riak-riak Cangkir Retak

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Antologi KompaK’O

Random image