Home / Genre / Young Adult / Cinta di Ontang-Anting

Cinta di Ontang-Anting

Cinta di Ontang-Anting

Tak ada yang lebih menggambarkan liburan semester ganjil di desa selain pasar malam keliling. Seperti dugaanku, area pasar malam penuh sesak. Aku belum sepenuhnya  menghentikan sepeda motor ketika Cami melompat keluar.

“Hei, Mbak, bolehkah kita naik bianglala dulu?”

Aku terpaksa mengajaknya, tapi bukan berarti dia bisa mengatur semuanya.

“Tidak, kita akan naik Ontang-Anting. Itu favoritku.”

Jangan salah paham, aku sayang adik perempuanku, tapi aku lebih suka nongkrong bareng teman-temanku. Maksudku, ini bulan terakhir sebelum tahun terakhir.

“Aww…” Dia cemberut.

“Kita sudah di sini, dan antreannya tidak terlalu panjang. Kita bisa naik wahanamu berikutnya. Setuju?”

“Setuju. Ooh, aku suka lagu ini.” Wulan mulai berjoget dangdut dan bernyanyi seolah tak ada yang melihat.

Aduh, suasana hatinya cepat sekali berubah. Untuk seorang adik perempuan, kurasa dia tidak terlalu buruk … kadang-kadang.

Wulan menyenggol bahuku. “Mbak dengar aku, nggak?”

Sebenarnya, tidak. Aku bahkan tidak sadar dia sedang bicara padaku. Aku terlalu teralihkan oleh tatapan mata hijau laut operator wahana yang tak asing lagi. “Tentu saja aku dengar. Ayo. Antreannya bergerak.”

“Mbak nggak dengar. Mbak sedang memperhatikan cowok itu. Suka, ya?” Dia terkikik dan menunjuk cowok ganteng di puncak tangga.

“Wulan, jangan ngaco.”

“Kenapa? Mbak Tika kenal dia?”

“Kayak kenal. Mbak rasa dia pemain basket di SMA 2.”

“Bentar lagi kita udah di depan. Mbak bisa ngobrol sama dia.”

Aku mempertimbangkannya sekitar setengah detik. Wulan seorang ekstrovert, dan dia tidak akan ragu untuk bicara dengan orang asing. Kebalikan dariku.

“Makasih, tapi nggak usah aja.”

“Ah, Mbak nggak asyik. Dia kelihatannya cowok baik. Lihat? Dia tersenyum ke Mbak.”

“Eh…”

Sebelum aku sempat menjawab, Agung—sesuai name tag-nya—mengantar kami ke tempat duduk yang kosong.

“Nikmati perjalanannya,” kata Agung sambil menyeringai. Tangan kami bersentuhan ketika dia mengunci palang pintu. Seeer!

Wulan meremas lenganku ketika Agung pindah ke gerbong berikutnya. “Tuh, kan? Dia senyum, tandanya dia naksir Mbak.”

“Yang bener aja. Mbak yakin dia tersenyum sama  semua orang di wahana ini. Dia mungkin akan mendapat tip atau semacamnya setelahnya.”

Wulan menggelengkan kepalanya. “Dia nggak senyum ke aku. Hei, yuk kita selfie sebelum pusing dipontang-panting.”

Aku menggelengkan kepala, tetapi mencondongkan tubuh agar dia bisa mengambil foto.

Kami mulai bergerak. Aku lupa betapa aku menyukai wahana ini. Aku melirik Agung ketika gerbong kami berputar melewatinya. Dia menyeringai padaku. Lain kali, dia mengedipkan mata.

Astaga! Perutku terasa mulas. Aku belum pernah merasa seperti itu di wahana ini sebelumnya. Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa melupakan Agung dan senyum menawannya itu?

Ketika wahana melambat, Agung berjalan memutar, melepaskan stang di setiap gerbong.

“Apa kalian bersenang-senang?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya.

“Y-ya. Ini… ini wahana favoritku Tak ada yang bisa menandingi sensasi angin yang menerpa rambutmu ketika kamu khawatir menabrak pengendara lain.”

Diamlah, Tika bodoh!

Agung terkekeh. “Aku akan di sini sepanjang minggu. Mungkin aku akan bertemu denganmu lagi.”

Senyum itu. Mata itu.

Oh, dia menunggu jawaban.

“Eh, tentu. Pasti keren.”

Wulanla melompat-lompat. “Kami pasti akan kembali. Kami akan di sini setiap hari.”

Saat itu, aku melihat Agung menatapku, bukan Wulan, yang masih mengoceh.

Dia melirik Wulan dan berkata, “Bagus,” sebelum kembali menatapku. “Semoga kamu menemukan semua yang kamu cari.”

“Aku juga.”

Ya ampun. Gantengnyaaah!

Mungkin pergi ke pasar malam bersama adik kubukan cara yang buruk untuk menghabiskan liburan semester.


Bekasi, 19 November 2025

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

Aku

Aku

Rindu

Rindu

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Antologi KompaK’O

Random image