Beranda / Genre / Fiksi Ilmiah / 76. Bertemu Lagi dengan Dokter Simpanse

76. Bertemu Lagi dengan Dokter Simpanse

Kementerian Kematian
1
This entry is part 77 of 88 in the series Kementerian Kematian

Sistem mengeluarkan bunyi bip-bip-bip yang keras, menara dan kamera memindai kami. Sebuah suara robot perempuan dengan aksen yang bagus mirip dengan Dora tapi lebih mewah dan tidak terlalu kental, memberi tahu kami bahwa akses telah diberikan. Batang baja ditarik ke kusen, dan pintu bergeser ke samping, membiarkan kami masuk.

Jadi ini laboratorium, ya?

Sebuah ruangan besar dan luas penuh kapsul berisi cairan hijau, banyak terminal, dan layar holografik dengan banyak grafik yang berjalan di atasnya di sisi lain dinding. Dugaanku yang kurang berdasar adalah grafik-grafik itu melaporkan kondisi kapsul.

Di tengah ruangan, sebuah kursi hidrolik seluruh tubuh terpasang di lantai yang menyerupai kursi dokter gigi. Satu-satunya perbedaan adalah sandaran tangan dan sandaran kaki memiliki engsel baja tahan karat untuk membuat pasien tidak bisa bergerak, juga memiliki fiksator baja tahan karat tambahan untuk posisi leher.

Aku sama sekali tidak menyukai tampilan kursi ini.

“Letakkan dia di kursi,” aku mendengar suara yang tak asing lagi.

Awalnya, aku tidak mengerti dari mana asalnya, tetapi kemudian aku tersadar. Di sudut, di dekat salah satu terminal, dengan jas lab putih, duduk tak lain adalah Dokter Syauki. Dengan segala kemegahan primata-nya. Dia bahkan tidak melihat kami, terlalu sibuk memeriksa beberapa set data di layar.

Aku mencoba melawan. Aku tidak mau masuk ke kursi, tetapi Hercule menekanku, dan engsel otomatis melakukan sisanya. Aku tetap terkekang, sekeras apa pun aku mencoba bergerak. Sekarang rasa takut kembali merayapiku.

“Semoga kamu menikmati waktu luangmu yang sedikit ini, Naga.” Dan aku juga mengenali suara ini.

Irmee.

Dia memasuki ruangan setelah aku terpaku di kursi. Cantik seperti biasa. Gila sekaligus menakutkan.

Dia mendekatiku, matanya mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Irmee melengkungkan sudut bibirnya membentuk senyum miring, lalu menggeleng penuh ketidaksetujuan.

“Dasar jalang gila, apa yang akan kamu lakukan padaku?”

Aku mencoba mengendalikan rasa takutku, tetapi suaraku bergetar. Sulit untuk tetap tenang karena tangan, kaki, dan kepalaku tak bisa bergerak.

“Ada yang harus kulakukan. Untuk mengakhiri ini,” jawabnya sambil menatap Syauki. “Apakah semuanya sudah siap, Dokter?”

“Ya, Irmee.”

“Bagus, aku ingin ini cepat selesai. Laporkan setelah selesai.”

Dia berbalik, menunjuk Hercule yang sudah membungkuk di atasku, memegang dagunya, dan memastikan aku menatap matanya.

“Sekarang kau boleh menangis.”

Hercule menggeram dan mulai tertawa.

“Meklen!” suara Irmee meninggi, lalu melunak. “Ayo pergi, kita masih ada urusan lain.”

Hercule yang masih terkekeh mengikuti Irme, meninggalkanku sendirian dengan seekor simpanse berjas lab.

Aku menatap Syauki, yang tidak terburu-buru menatapku, sedang mengerjakan sesuatu di balik terminal.

“Apa yang akan terjadi padaku?” aku memberanikan diri bertanya.

Dia tidak menjawab.

“Dokter Syauki, tolong… beri tahu aku!”

Ada yang salah, sangat salah. Dia membungkuk di atas keyboard, tidak bereaksi terhadap kata-kataku, dan tidak menyadari kehadiranku sejak dia menyuruh Meklen untuk mendudukkanku.

“Dokter Syauki!” teriakku.

Dia mendesah dan berbalik. Dari ekspresi wajahnya saja, aku sudah tahu dia malu. Aku tidak pandai membaca ekspresi primata, tapi dia tampak seperti simpanse sedih dari foto-foto bodoh yang dikirim Razzim sesekali untuk menghibur kami di kantor.

Belum pernah berhasil, tapi dia berusaha sebaik mungkin.

“Maaf, Sayang,” katanya.

“Apa yang akan terjadi? Katakan padaku!”

Dia melompat dari kursinya dan menghampiriku. Aku melihat dia sedang memikirkan sebuah penjelasan, setidaknya mencoba menemukan yang paling masuk akal. Mungkin yang akan jauh lebih masuk akal. Dan sepertinya dia tak bisa mempermanis pil itu, sekeras apa pun dia mencoba. Akhirnya, dia menyerah, mendesah lagi, dan menatapku dengan mata penuh kepedihan.

“Irmee ingin mengambil otakmu dan memasukkannya ke dalam mimpi kriogenik,” katanya.

“Apa yang harus kulakukan?!” Aku tak percaya apa yang kudengar.

“Otakmu, Sayang,” ulangnya sambil menepuk kepalaku, tangannya hangat dan lembut, agak menenangkan. “Dia ingin aku mengambil otakmu dan memasukkannya ke dalam mimpi kriogenik untuk mengamankan kesadaranmu di masa depan.”

“Apa artinya?”

“Artinya aku … harus membuka kepalamu dan mengeluarkan otaknya,” dia melawan, tetapi sifat ilmiahnya mengalahkan sifat welas asihnya.

“Secara teknis, tidak ada yang sulit, bahkan berani meyakinkanmu bahwa tidak ada yang menyakitkan juga, aku akan memberikan narkosis, dan kamu tidak akan merasakan apa-apa. Dengan bantuan tangan siber di sana, aku akan mengangkat tulang frontal dan parietalmu untuk mendapatkan akses ke otak itu sendiri…”

Aku merasa mual. Membayangkan hal seperti itu akan dilakukan padaku terdengar … tidak menarik, setidaknya untuk dikatakan. Bahkan, membayangkan mengeluarkan otakku dari tubuhku sangat menyebalkan. Rasanya menjijikkan, menakutkan, dan entah kenapa, membuatku marah. Sekali lagi, aku mengerahkan seluruh tenaga yang kumiliki untuk mencoba membebaskan diri. Tanpa hasil, lingkaran baja tahan karat itu dibuat dengan mempertimbangkan daya tahan yang ekstrem.

“Tantangan terbesarnya, tentu saja, memastikan tidak akan ada setetes darah pun yang tumpah.”

Dokter Syauki terlalu asyik menjelaskan proses mengerikan dan 100% ilegal ini (seharusnya ilegal) dan tidak memperhatikan gerakanku.

“Darahku? Kenapa?” tanyaku, ini menarik perhatianku.

Dia terdiam. Tampak ragu, seolah-olah dia tidak seharusnya menceritakan semua ini kepadaku. Lalu mengangkat bahu.

“Irmee sangat tertarik dengan darahmu. Dia sudah menjelaskan. Darahmu harus diamankan dan tidak boleh setetes pun tumpah,” dia mengangguk.

“Dan tubuhku—”

“Oh, kami tidak membutuhkan tubuhmu. Tubuhmu akan dimanfaatkan.”

Itu bukan kabar baik. Sama sekali bukan kabar baik. Aku menyukai tubuhku, tubuhku adalah bagian tak terpisahkan dariku.

Betty mencintai tubuhku. Kupikir dia tidak akan mencintai otakku tanpa tubuhku sekomplet ini. Bahkan, aku semakin curiga Betty tidak peduli dengan otakku dan hanya menginginkan tubuhku.

Lalu aku tersadar, kalau mereka mengekstrak otakku dan membuang tubuhku, aku bisa mengingkari janjiku kepada Betty. Pikiran ini membuatku tersenyum.

“Oh, aku senang kamu setidaknya bisa menemukan sesuatu yang positif di dalamnya.”

Rupanya, Dokter Syauki memperhatikan senyumku dan mengira aku sedang menghibur diri, dia menepuk kepalaku sekali lagi.

“Aku bisa meyakinkanmu. Aku sendiri menjalani prosedur serupa. Begitulah akhirnya aku berada di tubuh simpanse.”

“Gila,” kataku.

Lalu naluri bertahan hidupku muncul. Setidaknya, kupikir itu naluri bertahan hidup, mungkin tak lebih dari sekadar kesadaran tiba-tiba bahwa keinginanku untuk buang air kecil terlalu mendesak. Aku tak ingat kapan terakhir kali aku buang air kecil. Setidaknya setelah amnesiaku. Dan sejujurnya, aku tak ingin merusak catatan sempurnaku.

“Dokter Syauki,” kataku, memilih kata-kataku seolah-olah sedang melewati ladang ranjau. “Bisakah kamu membebaskanku sebentar karena aku,  eh … aku harus pergi ke toilet wanita. Sekarang. Seperti benar-benar sekarang.”

“Aku tak bisa melakukan itu,” dia menggelengkan kepalanya. “Kita harus mulai operasi sekarang, aku berjanji pada Irmee untuk menyelesaikannya secepatnya.”

“Tapi aku benar-benar harus pipis, Dokter Syauki,” aku meringis dan menggunakan semua istilah ilmiah yang terlintas di pikiranku. “Kemungkinan besar akan terjadi kecelakaan.”

“Seperti apa?” dia menyipitkan mata.

“Seperti aku … akan mengompol. Karena aku sangat kebelet pipis.”

Dokter Syauki tampak canggung. Tapi hanya untuk waktu yang sangat singkat, karena sekali lagi, sifat ilmiahnya mengambil alih, dan dia mulai berjalan mengelilingi laboratorium, menggumamkan sesuatu di bawah hidungnya. Terlihat sangat lucu bagaimana dia berjalan dengan kedua kakinya, berayun dari sisi ke sisi dengan seluruh tubuhnya.

“Hm, ini akan menjadi masalah besar kalau ada… eh… cairan tubuh tak terduga yang mengontaminasi kursi operasi,” dia mengangguk pada dirinya sendiri. “Itu bisa dan mungkin, akan membuat ruang operasi berbahaya dan tidak steril. Sebagian bahkan mungkin masuk ke dalam darah atau, amit-amit, ke dalam otak itu sendiri. Tidak-tidak-tidak, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi.”

Sekali lagi simpanse itu melompat ke depanku. Menatap mataku.

“Bisakah kau berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang tidak sopan?” tanyanya.

“Seperti apa?” Aku ingin mendapatkan jawaban untuk pertanyaan ini. Aku ingin setidaknya seseorang akhirnya memberiku jawaban yang tepat.

“Seperti mencoba melarikan diri atau, nah, itu omong kosong belaka, menyerangku,” dia tertawa seolah mendengar lelucon terbaik yang pernah ada.

Kementerian Kematian

5. Lantai 99 7. Escape Plan

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *