Home / Genre / Fiksi Ilmiah / 82. Darah Naga

82. Darah Naga

Kementerian Kematian
This entry is part 83 of 88 in the series Kementerian Kematian

“Kita sial … kita sangat sial …” erangku, batuk darah.

Ketika dia berdiri di hadapan kami—tanpa busana dan berlumuran darah—aku, sekali lagi di tengah malam yang panjang dan berubah menjadi siang, siap menerima kematianku yang tak terelakkan.

Sosok itu membuka matanya, dan kulihat mata berbinar yang sudah kukenal menatap kami. Bibir tipisnya mengembang membentuk senyum lebar.

Dia tertawa.

“Oh, sungguh menyenangkan hidup kembali.”

Naga tertawa lagi. Dan mengamati dirinya sendiri.

Awalnya, dia mengamati tangannya sendiri, menyentuh wajah, rambut—hal-hal yang biasa kulakukan. Tapi kemudian dia mengamati payudaranya sendiri, pantatnya. Sejujurnya, bukan berarti ada banyak yang perlu diamati, karena sosoknya yang tinggi dan kurus tidak memiliki banyak sifat feminin.

“Hercule, sayang. Bagaimana penampilanku?” tanyanya tanpa menatap Meklen.

“Sempurna seperti biasa, Naga,” jawabnya. Semua mata tertuju padanya.

“Apa-apaan ini…” bisikku.

Sementara itu, Naga mengamati sekeliling. Melihatku, melihat Dora, melihat Irmee. Senyumnya semakin lebar.

“Oke, coba kutebak. Kau jalang yang ingin menghentikanku,” dia menunjuk Irmee, lalu menunjukku. “Sekarang kau jalang yang menolak menyentuh tanganku.” Lalu dia menatap Dora, dan senyumnya lenyap. “Dan aku sama sekali tidak tahu kau jalang macam apa. Hercule?”

“Aku tidak tahu, Naga,” geram si cyborg.

“Woi, ayolah! Kau melihatku saat kita di sini terakhir kali!”

Meklen tidak bisa menyakiti Dora lebih parah dari itu. Dia menyakiti egonya.

“Dora Lobahutang, aku bersama Bayi di sini terakhir kali!”

“Aku belum pernah melihat wanita ini seumur hidupku.” Meklen bahkan tidak menatap Dora, hanya mengangkat bahu. Yah, setidaknya dia mencoba, sepertinya bahu kirinya juga tidak bisa diangkat sepenuhnya.

Sial, Duli berhasil di situ.

“Bajingan kurang ajar,” gumam Dora.

Naga kehilangan minat pada Dora. Malahan, dia mundur beberapa langkah dan mengamati aku dan Irmee. Aku sama sekali tidak suka senyumnya. Fakta bahwa dia berlumuran darah dari ujung kepala sampai ujung kaki dan tanpa busana sama sekali tidak menambah kewarasan pada penampilannya secara keseluruhan.

“Irmee, kan?” tanyanya. Senyum psikotiknya yang sama tersungging di wajahnya. “Jadi, kau tidak mau bermain? Kau sudah membuatku banyak masalah. Tidak sebanyak wanita jalang menyedihkan di sana itu, tapi aku akan mengurusnya nanti.”

Astaga, dia punya rencana untukku!

Yah, sungguh naif mengharapkan sesuatu yang berbeda dari seorang maniak psikotik, pendendam, dan genosida yang begitu dibenci hingga dibunuh oleh bangsanya sendiri, dan semua penyebutan tentangnya dihapus dari sejarah sama sekali.

“Ada yang ingin kau katakan sebelum aku melakukan sesuatu yang mengerikan padamu?” tanya Naga.

“Jadi kau bekerja untuknya sekarang?” Irmee tertawa. Dia menatap Meklen, bukan Naga.

Meklen tetap diam, hanya menatapnya tanpa bernapas.

“Dasar bodoh, akan kupastikan ini akhir darimu! Akan kupastikan tak seorang pun di kota ini akan mempekerjakanmu, dasar bajingan pengkhianat!”

Naga tertawa.

Astaga, dia tertawa. Dia tertawa sangat keras sampai kupikir dia akan jatuh ke lantai dan kakinya akan gemetar karena semua kesenangan yang dia rasakan.

Aku menatap Meklen. Dia masih diam, masih tak bergerak.

“Wow, luar biasa!” Naga tertawa, menyeka air mata dari matanya, bercampur dengan darah di wajahnya. “Irmee, sayang, kau tahu cara mencerahkan suasana. Leluconmu tentang menghancurkan reputasi seseorang itu sangat bagus. Seolah-olah kau benar-benar bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam waktu dekat ketika kau bukan lagi bos di sini.”

“Kau pikir kau bisa menguasai korporat?” Irmee menyeringai.

“Hm, aku sedang berpikir untuk menguasai dunia ini,” Naga tertawa.

“Aku tidak bercanda,” geram Irmee.

“Aku juga tidak,” Naga berhenti tersenyum.

Tendangannya sempurna dan mulus. Sepertinya tidak ada beban di balik kakinya. Sementara setiap gerakannya sempurna dari awal hingga akhir—tanpa gerakan yang tidak perlu sedikit pun. Semuanya terjadi begitu saja.

Di satu saat, Irmee duduk di lantai—pucat dan cantik meskipun wajahnya babak belur karena perkelahian dan pisau besar mencuat dari tulang rusuknya—di saat lain, kaki Naga menghantamnya tepat ke dagu, dan dia menabrak jendela di sebelah jendela yang ditabrak Duli, terlempar dari lantai 101.

Bukan. Bukan seperti itu.

Irmee bukan terlempar. Sepertinya seluruh tubuhnya menjadi peluru, saking kuatnya tendangan Naga.

“Astaga!” teriak Dora, mengungkapkan pikiranku dengan lantang.

Naga tertawa lagi. Dia mengedipkan mata pada Meklen.

“Sepertinya reputasimu aman bersamaku, Hercy.” Meklen hanya menggeram tak jelas sebagai tanggapan, tapi sepertinya Naga mengerti dan terkikik sambil mengangguk.

Dialah yang pertama memahami geraman Hercule tanpa jeda canggung atau mencoba menerapkannya sesuai situasi dan kondisi.

“Oke, sekarang, karena kita sudah selesai dengan penghancur suasana hati ini, saatnya untuk pengungkapan yang serius!”

Naga membuat gestur artistik dengan tangannya dan menghampiriku.

“Ingat apa yang kukatakan?”

“Kamu banyak sekali omong,” desahku. Kepalaku mulai sakit. Orang-orang hanya bisa membayangkan sebanyak ini orang yang ditendang keluar dari jendela.

“Tidak, apa yang kukatakan tentangmu?”

“Aku tentangku?”

“Ya, kau tentangmu.”

“Tidak.”

“Kau benar-benar mengecewakan, setiap aspek kepribadianmu dibangun dari kegagalan, aku bahkan tidak bisa cukup menekankan betapa kacaunya dirimu sebenarnya dan—”

“Oh ya, itu!” Aku mengangguk. “Aku ingat itu.”

“Bagus! Karena aku berbohong padamu.”

Nah, itu membuatku bingung.

Bukan cuma aku, soalnya Dora juga memasang ekspresi bingung. Rupanya, proses berpikir kami begitu kentara sampai-sampai Naga mendesah dan bertanya. “Bagian mana yang kau tak mengerti?”

“Bagian soal bohong. Kamu tidak bermaksud bilang aku mengecewakan dan kamu bangga sama aku atau—”

“Astaga, mainkan aku pakai tongkat dan panggil aku Kermit.”

Naga mengusap wajahnya. “Kenapa setiap kali aku ngomong sama kau, aku merasa kau cuek bebek?”

“Aku…”

“TIDAK! AKU BENAR-BENAR BOHONG KAU ADALAH AKU! KAU TAK PERNAH ADALAH AKU! KAU ADALAH KAMU! KAU TAK MENDENGARKANNYA?!”

“Astaga, oke-oke, aku ngerti.”

Aku meringis. “Yah, nggak sepenuhnya. Apa maksudmu—”

“Kau kebetulan punya darah keturunanku, tapi kau tak pernah jadi aku.”

“Baiklah.” Aku mengangguk, kurasa aku mulai mengerti arah pembicaraan kami. “Tunggu, kurasa kau bilang begitu saat pertama kali kita bertemu. Benarkah? Atau maksudmu berbeda?”

“Oh, ya? Kurasa begitu,” kata Naga.

“Jadi, aku ini siapa?” tanyaku.

“Mana aku tahu?” Naga mengangkat bahu. “Kau hanya gadis biasa yang kebetulan keturunanku—darah iblis dan sebagainya.”

“Woi, nona. Jadi kau tak tahu siapa dia sebelum amnesia?” Dora lelah.

“Nehi,” jawab Naga.

“Yah… kedengarannya itu bukan hal yang terlalu mengejutkan,” kata Dora.

“Ya, aku sudah tahu. Kekecewaanku tak terkira dan, eh … hariku hancur berantaakan,” aku setuju.

“Tidak lama lagi,” gumam Naga, memberiku senyum yang tidak menjanjikan hal baik.

“Coba kutebak, apa aku akan diusir dari gedung ini?”

“Aku sudah memikirkannya dari tadi,” dia mengangguk dengan serius. “Tapi kemudian aku ingat bagaimana kau membuat semuanya jadi begitu rumit. Suruh Hercule di sana yang merencanakan semuanya, memastikan kau tidak akan dinetralkan terlalu cepat. Kau menyebalkan, aku akui itu.”

Saat bayangan itu kembali ke istananya di kepalaku—apakah itu benar-benar kepalaku saat itu, atau apalah itu— dia mulai berputar-putar di sekitarku. Sejujurnya, aku lebih suka dia berpakaian daripada melakukan pembunuhan, omongan, dan berputar-putar berlumuran darah tanpa busana.

“Kalau aku boleh jujur sepenuhnya— kekeraskepalaanmu yang tidak mau mempermudahku lumayan mengagumkan … uhuk …” dia terbatuk beberapa kali.

“Tapi kau tidak bisa memilih waktu terburuk untuk tetap pada pilihanmu uhuk … uhuk ….”

Sekarang dia sering terbatuk. Dora dan aku saling melirik. Aku juga melihat Meklen masih diam dan tak bergerak. Itu tampak aneh.

“Jadi … uhuk … ngomong-ngomong…” Naga kesulitan bernapas.

“Eh… dengar, aku tidak ingin merusak pidato jahatmu, nona, tapi apa kau baik-baik saja?” tanya Dora. Gadisku Dora terlalu baik untuk tidak bertanya.

“Ya,” Naga mengangguk dan menunjuknya. “Tapi terima kasih sudah bertanya. Aku akan memastikan kau mati cepat dan tanpa rasa sakit—”

“Dora, Dora Lobahutang,” Dora buru-buru mengingatkan.

“Aku tidak akan mengingatnya,” Naga berkata dengan sangat jujur. “Kalau kau, Nak … uhuk … sialan … uhuk … aku akan merobek kakimu … uhuk … tanganmu … uhuk … dan mungkin kemudian … uhuk … jantungmu …”

Kementerian Kematian

1. Kembalinya Sang Naga 3. Meteor News

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image