Home / Topik / Wisata / 16.  Candi Asu, Arca Nandi yang Mirip Anjing

16.  Candi Asu, Arca Nandi yang Mirip Anjing

Ananta Kama 1600x900
1
This entry is part 17 of 33 in the series Ananta Kama

Pagi menjelang siang, tapi matahari sangat terik memancarkan sinarnya disambut kelengangan jalan, tak banyak orang berlalu lalang sepanjang jalanan yang menyajikan banyak keindahan dengan panorama memanjakan mata.

Tujuan selanjutnya adalah Candi Asu, sebuah candi peninggalan budaya Hindu yang berada di area persawahan warga. Lokasinya berada di lereng Gunung Merapi dan merupakan pertemuan Sungai Pabelan dan Telingsing di Dusun Sengi Desa Candi Pos, Kecamatan Dukun.

Meski tidak ada penjelasan spesifik tentang ketinggian mdpl candi, tapi Kecamatan Dukun sendiri memiliki kondisi topografi dataran landai hingga sedang di luar kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi, dan suhu rata-rata 26°C, menjadikannya area yang cukup tinggi tapi tidak ekstrem. 

Menurut Bhaskoro, kawasan Gunung Merapi pada zaman dulu sering digunakan sebagai tempat untuk bertapa. Suasana yang tenang serta memiliki kebudayaan mistis kental, membuat daerah ini ramai dikunjungi oleh orang-orang sejak abad pertengahan. Karena itu sangat wajar jika pada kawasan Gunung Merapi terutama sepanjang kaki gunung, terdapat beberapa candi yang dibangun oleh para empu dari kepercayaan Hindu. Salah satunya adalah Candi Asu Sengi yang terletak di bawah Gunung Merapi bagian Timur.

“Kenapa dinamakan Candi Asu?” tanya Ayesha sambil mengamati patung Nandi yang sudah tergerus di beberapa bagian.

“Nama Candi Asu diberikan oleh masyarakat setempat karena arca lembu Nandi yang menyerupai anjing,” jawab Bhaskoro sambil meraih tanganku kembali. Berdua kami berjalan beriringan menaiki batu yang membentuk tangga yang terletak di dinding luar bagian barat. 

Aku mengamati dengan takjub dinding luar candi yang dibentuk sebagai alas dengan dinding bagian dalam yang berfungsi sebagai pondasi. Area di antara dua tembok tersebut diisi dengan dua meter bebatuan dan tanah, kemudian di atasnya diaspal. Sedangkan pada sisa ruang ditempatkan patung tengah.

Bhaskoro menjelaskan bahwa, Candi Asu ini posisinya menghadap ke barat dan berdenah bujur sangkar dengan panjang sisi 7,94 meter ini termasuk candi kecil. Kaki candi memiliki tinggi 2,5 meter, dan tinggi tubuh candi 3,35 meter. Sedangkan tinggi bagian atap candi tidak diketahui karena sebagian besar batu hilang dan runtuh.

Dari Prasasti Sri Manggala I dan Sri Manggala II yang ditemukan tak jauh dari candi, diketahui bahwa candi ini  berdiri pada abad IX, yang konon saat itu Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala

Zack terkagum-kagum dengan relief bermotif flora di bagian dinding-dinding candi yang bentuknya menyerupai daun sulur. Sementara di bagian depan, terdapat relief burung yang tengah memakan ikan.

Ada hal menarik tentang asal mula candi ini dinamakan Candi Asu yang dalam bahasa Jawa bisa diartikan sebagai anjing. Konon pada jaman dahulu ada sosok perempuan berdarah Keraton bernama Dewindani yang pernah melakukan perbuatan senonoh. Sesungguhnya dia adalah perempuan yang memiliki kekayaan berlimpah dan sukses hidupnya. Namun,  karena dia tidak bisa mengendalikan nafsu, Dewindani seringkali melakukan perbuatan tabu yang dibenci oleh masyarakat.  Perempuan berdarah Keraton itu sering berbuat zina bersama pria yang dia anggap tampan, tanpa pernah memandang bulu.

Kegiatan tersebut makin hari makin sering dilakukan hingga membuat masyarakat yang tinggal di daerah sekitar Sengi menjadi khawatir. Hingga masyarakat yang semakin jengah mendoakan Dewandani agar segera mendapatkan kutukan. Ungkapan masyarakat itu akhirnya menjadi kenyataan, dan Dewandani akhirnya berubah menjadi seekor sapi yang tubuhnya menyerupai seekor anjing. Akhirnya tempat tersebut dikemudian hari diabadikan menjadi Candi Asu Sengi.

Namun, sempat beredar legenda lain yang menyebutkan bahwa Asu dari nama candi ini juga bisa diartikan sebagai tempat untuk beristirahat atau ngaso. Diambil dari bahasa Jawa yang berarti sama, yaitu menggambarkan tempat peristirahatan seseorang dari perjalanan jauh.

Bangunan candi ini juga dipercaya oleh masyarakat dijaga oleh 3 pertapa yang sakti mandraguna. Ketiga pertapa tersebut adalah Ki Panjaloka sebagai penengah, Ki Panjalo sebagai garis akhir, dan Ki Budayana sebagai pembuka.

Daya tarik utama yang dimiliki Candi Asu Sengi adalah sebuah arca yang ada di bagian atas candi yang dibangun sebagai penggambaran atas perubahan Dewindani dari seorang manusia yang kemudian dikutuk jadi seekor sapi yang menyerupai anjing. Arca ini sengaja dibangun pada kedua sisi candi, tapi saat ini yang bertahan hanyalah arca anjing sebelah kiri, akibat korosi dan letusan Gunung Merapi yang membuat sebagian bangunan candi juga ikut roboh.

Selain arca berbentuk anjing, pada bagian lain candi juga terdapat tugu yang bertuliskan aksara Jawa kuno. Tugu ini merupakan tugu peringatan yang menceritakan tentang Dewandani. Namun, hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut yang menerangkan tentang isi dari tugu peringatan karena huruf pada beberapa bagian tugu ada yang sudah hilang atau berlubang, karena penuaan dan korosi. Biasanya pengunjung bisa bertanya kepada pihak pengelola atau juru kunci untuk mendapatkan garis besar dari cerita Dewandani yang berubah jadi sosok jadi-jadian itu.

Sepanjang mengelilingi candi, tangan Bhaskoro tak sedikitpun melepaskan genggamannya pada tanganku. Awalnya aku merasa risih, tapi teralihkan oleh cerita yang terus mengalir dari bibir laki-laki yang masih enerjik di usianya yang sudah melewati setengah abad itu. Ukiran-ukiran yang menyerupai kisah perjalanan masyarakat pada masa lampau di dinding yang mengelilingi candi juga membuatku tak henti berdecak kagum. Daerah sepanjang dinding menceritakan cerita dari awal masyarakat tinggal di daerah Sengi dan juga bagaimana mereka membangun peradaban.

Kemudian cerita tersebut mulai berubah menjadi keadaan masyarakat yang tidak terima dengan kelakuan Dewandani. Para penduduk mulai melakukan unjuk rasa kepada kepala desa dan mengadakan musyawarah demi kebaikan bersama.  Pada akhir ukiran di dinding, terlihat jelas bagaimana perubahan seorang Dewandani dari manusia menjadi sosok sapi yang menyerupai anjing. Juga bagaimana akhirnya dia meninggal dengan rasa kesepian karena tidak ada seorangpun yang mau menolongnya.

Puas mengelilingi area candi, kami turun ketika matahari tepat di atas kepala. Terik yang menyengat tak menghalangi untuk menikmati keindahan area yang mengelilingi candi.  Pepohonan hijau dan juga pematang sawah sungguh meninggalkan kesan tenang.  Kalau saja tidak bersama Bhaskoro mungkin aku sudah berlari menuju sungai tak jauh dari kawasan candi. Arus yang tenang dan tidak terlalu dalam seperti melambaikan tangan mengundangku untuk berenang di dalamnya.

Bhaskoro masih enggan melepas genggaman hingga kami tiba kembali di area tempat mobil kami diparkirkan. Jangan ditanya bagaimana dada ini riuh bergemuru sejak tadi, rasanya nano-nano, ada senang, nyaman, sekaligus takut. Semacam ketakutan yang entah … tak bisa kugambarkan, karena sesungguhnya aku menikmatinya.

“Selanjutnya kemana?” tanya Ayesha yang sejak tadi terlihat senyum-senyum pada Bhaskoro.

“Masih satu lokasi dekat sini.” Bhaskoro melepas genggaman tanganku, sebaliknya dia membukakan pintu untukku membuatku makin salah tingkah. Bagaimana bisa ia berubah semanis ini, sedangkan aku justru berusaha menutup semua pintu untuknya?

***

Ananta Kama

5. Candi Lumbung, Dipindah Karena Tergerus Lahar Merapi 7. Candi Pendem

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image