Home / Genre / Cerita Anak / Lomba Tari Hutan

Lomba Tari Hutan

Gajah dan Terwelu

Pada zaman dahulu kala, setiap kali panen di kerajaan hutan melimpah, untuk merayakannya Raja mengadakan lomba tari. Semua hewan harus membentuk kelompok bersama keluarga mereka. Pemenang kemudian akan mendapatkan hadiah makanan yang dapat mereka simpan di lumbung mereka.

Suatu hari, sangkakala kerajaan berbunyi nyaring hingga terdengar oleh seluruh penghuni hutan. Kemudian, dua ketukan gendang menyusul dan burung rangkong dengan suaranya yang tajam dan jernih mengumumkan:

“Salam untuk warga hutan semua. Merupakan kehormatan bagi Raja untuk mengingatkan kalian bahwa lomba tari akan berlangsung waktu dua hari lagi. Siapkan penampilan kalian dan semoga keluarga terbaik menang. Sampai jumpa!”

Keluarga Gajah dan keluarga Terwelu berbagi tempat latihan menari. Namun, pada hari terakhir latihan, keluarga Terwelu tidak datang.

“Aku tidak melihat satu pun anggota keluarga Terwelu hari ini?” kata Gajah Balita.

“Aku juga. Kupikir mereka akan datang sore ini, tetapi tidak ada tanda-tanda kehaddiran mereka,” kata Ibu Gajah.

Keluarga Gajah bercerita tentang teman-teman mereka, berharap tidak terjadi hal buruk pada keluarga Terwelu. 

Bapak Gajah memutuskan untuk pergi ke rumah Terwelu dan mencari tahu apa yang terjadi.

Di luar hari sudah gelap. Kebanyakan hewan sudah beristirahat lebih cepat sambil menunggu hari besar besok. Bapak Gajah tidak bertemu seekor hewan pun di jalan. 

Setibanya di rumah Terwelu, Terwelu yang paling muda terlihat bernyanyi di bawah pohon. Ketika melihat Pak Gajah, dia melompat untuk menyambut di jalan.

“Selamat malam, Pak Gajah.”

“Selamat malam,” jawab gajah.

Sambil menunjuk ke rumahnya, Terwelu Kecil bertanya. “Apa yang membuat Bapak datang malam-malam?”

“Aku datang untuk menengok teman-temanku. Bukankah kalian teman-temanku?”

“Ya, kita berteman,” kata Terwelu Kecil sambil tersenyum.

“Bagus. Di mana keluargamu?”

“Oh, menyedihkan. Kami tidak datang untuk latihan tari hari ini karena ayah kami sakit dari kemarin malam.”

“Memang, itu menyedihkan!”

Ternyata Ayah Terwelu sakit demam panas yang sangat tinggi. Dia mengeluh sakit di sekujur tubuh dan persendiannya. Keluarganya memutuskan untuk membawanya ke Tuan Tapir, tabib yang tinggal di hutan tetangga. Mereka berharap agar dia segera merasa lebih baik dan dapat mengikuti lomba.

“Kapan mereka pergi?” tanya Tuan Gajah.

“Belum lama.”

“Aku akan mengejar mereka sekarang. Aku tahu mereka belum pergi jauh.”

Keputusan untuk menyusul keluarganya mengejutkan si Terwelu Kecil. Dia tidak menyangka Bapak Gajah akan melewatkan lomba tari untuk membantu membawa ayahnya ke tabib.

“Tetapi, peraturannya adalah bahwa semua anggota keluarga harus menari. Apakah Bapak mau mengecewakan keluarga Bapak?”

“Jangan khawatir, teman itu berharga. Persahabatan sejati tidak mengenal kesepian dan rasa sakit. Kita bersama-sama dalam hal ini.”

Bapak Gajah bergegas menyusul keluarga Terwelu ke hutan berikutnya. Terwelu Kecil tersenyum pada dirinya sendiri. 

Dia berkata, “Pengorbanan adalah bahan untuk persahabatan sejati. Terima kasih, Pak Gajah.”

Bekasi, 25 April 2025

Penulis

  • Resi Bujangga

    Resi Bujangga, seorang penulis cerita anak yang suka menyadur karya-karya klasik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Antologi KompaK’O

Random image