Yang mengejutkanku, mesin itu mengerti dan menghilang dengan cepat di selasar.
“Dimengerti, semoga harimu menyenangkan.”
“Ya, ya, pergilah. Mesin sialan. Tak mau diam pula. Bisakah kau percaya? Dan ibuku bilang kalau aku adalah orang yang paling nyinyir di dunia! Syukurlah dia sudah lama meninggal, kalau tidak, aku yang bikin dia diam!”
Dora melambaikan tangan.
“Masuklah, jangan cuma berdiri di pintu macam patung polisi lalulintas di simpang empat.”
“Terima kasih. Aku tidak mengerti sepatah kata pun yang diucapkan benda ini padaku.”
Dora mendesah dan tersenyum padaku, kali ini dengan senyum yang lebih ramah. Sekarang aku bisa bilang dia cantik.
“Hei, nona, kau tidak akan percaya tapi aku juga tidak percaya waktu pertama kali aku masuk ke sini. Aku mabuk berat, tepat setelah menyedot Lucy dan yang kudengar hanyalah suara darahku mengalir deras di pembuluh darah. Daaaan kurasa ini bukan informasi yang perlu kau ketahui.”
“Kurasa. Siapa Lucy?”
“Oh, baguslah kau tak tahu. Yang bisa kubilang, dosisnya lebih dari yang biasa!”
Dora terkekeh, puas dengan leluconnya.
“Ah, lupakan saja, sepertinya kita ada di perahu yang sama sekarang. Jangan khawatir, jangan menggaruk isi kepala kau terlalu keras, aku akan menjelaskan semuanya nanti. Sekarang jalan memutar sebentar. Ini kamar yang kita tinggali. Tidak banyak, tapi ada atap di atas kepala yang menyediakan tempat untuk makan, tidur, dan … maafkan bahasa Indonesia yang baku ini, urusan kebutuhan higienis biologis. Itu tempat tidur susun kita. Cup, aku pilih yang atas.”
“Cup?” Entah aku kehabisan tenaga atau aku memang tidak mengerti sebagian besar yang baru saja dia katakan.
“Wah, kepala kau benar-benar kacau, ya?”
“Ya. Bangun dengan amnesia traumatis.”
“Bukankah kau orang yang suka membuat masalah?” dia bersiul. “’Cup’ artinya aku duluan … Karena, yah, aku masih lebih suka mabuk. Kalau kau tahu maksudku, Say.”
“Sama sekali tidak.”
“Yah, setidaknya kau jujur. Dan omong-omong, tidak banyak yang bisa dilihat di sini lagi. Jadi…”
“Jadi?”
“Buat diri kau nyaman, Say. Dan aku mau menyelesaikan mimpiku,” dia tersenyum dan naik ke ranjang atas.
Yang mengejutkanku, dia bahkan tidak menggunakan tangga, hanya menarik dirinya ke tempat tidur, mengenakan celana dalam hijau terang yang agak halus, merasa nyaman, dan dalam satu atau dua menit, mulai mendengkur.
Itulah orang yang memiliki prioritas yang tepat. Aku bisa belajar dari dia.
Di sisi lain, aku berdiri di tengah ruangan selama beberapa menit. Aku melihat sekeliling.
Apartemen ini kecil. Aku bahkan berani mengatakan ini bukan apartemen tempat tinggal, melainkan lemari yang ditambah toilet dan pancuran terpisah.
Setidaknya itu sesuatu, kan?
Aku pergi ke dapur kecil, membuka keran, dan mulai minum langsung dari bawahnya. Setelah aku menghilangkan rasa hausku dan mendapatkan sedikit kepuasan awal atas kebutuhan dasarku, aku hanya berbalik dan jatuh ke tempat tidur. Kepalaku terbentur ketika jatuh ke balok atas dan akhirnya berbaring di kasur yang lumayan nyaman.
Perjalanan ke sini menghabiskan energiku. Begitu kepalaku menyentuh bantal, aku tenggelam ke dalam kegelapan total.
***
Aku tidak tahu berapa lama aku tidur, tetapi aku tahu pasti bahwa waktu aku menutup mata, hari sudah pagi. Begitu aku membukanya, hari masih pagi. Entah aku hanya tidur beberapa menit atau dua puluh empat jam tanpa jeda.
“Kau punya bokong yang bagus, nona!” Dora sudah berada di depan wajahku.
“Ap-apa?” Aku masih berusaha membuka mataku.
“Pantat, bokong. Punyamu bagus.” Dia memutar bola matanya.
“Oh… terima kasih. Punyamu juga.”
Dia tertawa dan menepuk pantatku. “Kita akan sembuh! Dengar, meskipun aku bisa menghargai bokong yang bagus, kurasa berjalan-jalan di jalanan seperti itu bukanlah ide yang bagus. Banyak orang aneh akhir-akhir ini.”
Aku mencoba menutupi pantatku dan berbaring di tempat tidur tanpa memamerkan apa yang kumiliki.
Aku mengerti maksudnya.
Aku tidak bisa berjalan-jalan seperti itu di jalanan. Aku tidak tahu latar belakangku, tetapi akal sehatku mengatakan bahwa ini adalah resep untuk bencana.
“Aku tidak punya apa-apa untuk dipakai.”
Dia terkekeh. “Aku juga.”
Namun, setelah melihat wajahku, dia mendesah. “Jangan khawatir. Rumah sakit mengirim barang-barangmu ke sini.”
“Aku punya barang-barang?”
Tentu saja, mereka harus menemukanku memakai sesuatu.
“Ya, semuanya ada di sana.” Dora menunjuk kotak di dekat pintu. “Harus kubilang kau punya selera dalam berpakaian.”
“Eh?”
Alih-alih menjawab, dia mengeluarkan jaket anti angin hitam yang buluk. Benda itu jelas-jelas kuingat sampai jahitan dalamnya. Itu milikku.
Ketika pertama kali melihatnya, aku merasa pusing, seolah-olah kepalaku dipukul. Melihat jaket anti angin itu terasa agak tidak nyata.
“Wah, kau baik-baik saja, nona?” Dora menyadarkanku dari lamunanku.
“Ya, ya.”
Aku menelan ludah dan menjilati bibir yang kering.
“Kau yakin? Sepertinya kau melihat Kuntilanak.”
“Siapa?” Aku menatap Dora.
“Entahlah, hanya sesuatu yang biasa ibuku bilang.”
“Ya, aku baik-baik saja, hanya saja mencoba mengingat di mana aku menyimpan yang ini.”
“Ayo, berdandanlah. Kita terlambat,”
Dora mengangguk dan melemparkan jaket anti angin kepadaku. “Sisanya ada di dalam kotak. Manjakan diri kau sedikit.”
Aku mengunci diri di kamar mandi kecil dan berdandan. Yah, setidaknya aku punya sesuatu untuk dikenakan. Pakaiannya sudah tua dan lusuh tetapi kurang lebih masih utuh. Jaket anti angin hitam itu kotor dan tergores parah. Orang-orang di rumah sakit bahkan tidak repot-repot membersihkannya. Kaos kuningnya bagus, tetapi masih ada beberapa lubang di sana-sini. Tidak ada yang besar menganga. Aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang celana jins, tetapi menurutku lubang di lutut adalah bagian dari mode.
Pakaianku sudah usang.
Hmm, kehidupan macam apa yang kujalani sebelum ini? Jelas bukan yang paling makmur sejahtera, karena apa pun yang mereka temukan dari diriku bukan barang bagus.
Dora mendobrak pintu. “ Sebetulnya aku tak suka main paksa, tapi buruan, dong! Kita harus sampai ke kantor sebelum Raz pingsan!”
Aku keluar dari kamar mandi. “Siapa Raz?”
Dora mengedipkan mata padaku. “Ya, dia tukang pukul yang kejam.”
Kadang-kadang aku merasa kami berbicara dalam dua bahasa yang sama sekali berbeda. Dia melihat wajahku dan bergegas menjelaskan.
“Maksudku, seperti, pimpinan departemen. Sialan, dasar burung, kau membuatku berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar lagi, seperti yang diinginkan ibuku. Untung dia sudah tak ada.”
Dora mendesah, dia tampak putus asa.











