Untuk Surya
Udaranya panas di bulan Juli 2014. Aku bertemu Surya untuk pertama kalinya pada suatu malam di bulan yang panas itu. Umurku enam belas, baru saja naik kelas XI dan jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku. Itu bukan cinta monyet seperti yang biasa kualami. Kalau ada satu hal yang membuat aku dikenal, kalau ada satu hal yang dapat ditunjukkan oleh keluarga dan teman-temanku, itu adalah seni jatuh cinta dan keluar dari cinta monyet seperti halnya perempuan mengganti kertas bungkus kado. Tiba-tiba, spontan, dan berakhir secepat awalnya. Kamu tahu, perasaan terburu-buru yang membuat kepalamu puyeng dan perutmu mules, tidak pernah menemukan keberanian untuk mengambil langkah. Namun tidak seperti itu dengan Surya. Bersamanya, aku jadi berani. Aku tidak takut. Aku mengungkapkan isi hatiku dan menerima cintanya. Dan sebebas dia memberikan cintanya, aku memberikan cinta saya.
Adikku dan adiknya teman akrab. Mereka bermain video game berjam-jam dan terkadang mengeluarkan setumpuk kartu remi untuk dimainkan. Setelah itu, masih merasakan getaran energi sisa permainan mengalir di pembuluh darah mereka, kalau tidak ada bola untuk ditendang, mereka akan berlari ke jalan yang menjauh dari rumah kami menuju rumahnya.
Minggu malam itu aku mengawal para bocah di jalanan kami yang ramai. Itulah hari aku bertemu Surya. Dia lebih tua, seorang mahasiswa. Itu mungkin menjelaskan aura kharismatik dan menawan yang dipancarkannya dengan setiap ekspresi santai yang diucapkan bibirnya yang lembut dan menarik. Aku kemudian mengetahui bahwa dia memiliki temperamen yang panas dan dikenal akan mengamuk ketika marah (tapi tidak pernah kepadaku). Namun hari itu, ketika dia tersenyum padaku, dia tersenyum dengan seluruh wajahnya.
Sampai hari itu, aku tidak pernah menganggap senyum seorang cowok semenarik itu sebelumnya. Duduk dengan kaki tertekuk di tengah ruang tamu yang nyaman, berhadapan dengan seorang cowok tampan yang tak henti berbicara kepadaku tentang film, sekolah, dan kehidupan secara umum, sementara kedua adik kami tetap berjongkok di lantai depan TV, berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi di antara kami berdua. Aku bersumpah, aku jatuh cinta hari itu.
– Look at me now, I’m falling
I can’t even talk, still stuttering
This ground of mine keeps shaking-
(“Somebody to You” The Vamp feat. Demi Lovato)
***
Untuk Argo
Aku dan Argo teman akrab sebelum akhirnya menjadi sepasang kekasih. Kami adalah tipe sahabat yang bisa mengobrol di telepon selama berjam-jam dan tidak pernah lelah atau kehabisan bahan obrolan. Mamaku kesal melihat kami menghabiskan banyak waktu bersama. Mama khawatir ada hal lain yang terjadi di antara kami, seperti yang biasa dilakukan mamaku. Namun, kami tidak peduli. Kami hanya tahu satu sama lain dan betapa menakjubkannya bertemu pertama kali di bus pulang dari upacara wisuda SMA di Gedung Auditorium RRI pada tanggal 24 Juli 2015. Secara kebetulan, kami berdua baru saja kembali dari acara yang sama dan saling tersenyum sebelum kami naik bus DAMRI. Di kursi belakang, ada semacam keheningan canggung di antara kami dan ketika dia akhirnya memberanikan diri untuk berbicara denganku, melirik dengan waspada ke arah mamaku yang duduk kaku di kursi di depan kami, wajar saja bagiku untuk berbicara dengannya juga. Beberapa bulan kemudian, aku harus mengakui bahwa pemandangan sepasang speaker bluetooth hitam yang keren di lehernyalah yang membuatku tertarik padanya. Itu lebih baik daripada memuntahkan kata-kata seperti “takdir” dan “kebetulan” kepadanya. Aku lebih suka melompat ke sungai Cikapundung sebelum mengakuinya dengan lantang.
Tidak ada yang membuatku tertawa seperti dia. Dia punya cerita anak sekolahan terbaik untuk diceritakan dari tahun-tahunnya sebagai mantan siswa SMK Teknologi dan Rekayasa setahun.Dia bisa juga menjadi sangat norak saat dia mau. Hadiah-hadiahnya adalah buktinya. Ada headset bluetooth putih, yang persis dengan miliknya, yang dia berikan padaku untuk kado ulang tahun. Selusin Coca-Cola kaleng yang berisi berbagai kutipan lucu untuk hari Valentine, yang diancam akan diminum oleh adik perempuannya setiap hari. Kaleng-kaleng itu tetap tergeletak begitu saja di sudut kamar tidurnya. Lucu juga bagaimana hal-hal kecil seperti kisah yang tidak penting ini yang kuingat sekarang.
Meskipun aku percaya pada takdir dan kebetulan, dia tidak. Namun, itu tidak penting. Kami berdua berusia tujuh belas tahun saat kami bertemu. Kami masih berusia tujuh belas tahun ketika bibir kami berdua memutuskan bahwa mereka saling mencintai cukup dalam untuk melewati batas-batas persahabatan kami yang samar.
– You’re the light, you’re the night
You’re the colour of my blood-
(“Love Me Like You Do” Ellie Goulding)
***
Untuk Mahiwal
Aku dan Mahiwal tidak pernah berpacaran. Itu lebih seperti cinta yang terjalin selama hampir tiga tahun di SMA. Memang, aku menyukai banyak cowok selama SMA, tetapi di hatiku, Mahiwal selalu ada. Dia adalah cowok paling populer di sekolahku, sementara aku adalah kutu buku yang pemalu, canggung, dan introvert. Kalau ada contoh ideal untuk trope cowok top Ketua OSIS dengan gadis kutu buku pemalu, maka kami berdua adalah contohnya. Namun, kisah cinta kami bukanlah kisah cinta romantis yang berakhir dengan ciuman di tengah rinai hujan atau pernyataan cinta yang dramatis saat upaacar bendera Senin pagi.
Sejujurnya, kami saling membenci.
Kami bertengkar setiap hari dan hampir tidak tahan melihat satu sama lain. Dia membuatku menangis setidaknya tiga kali seminggu di kelas dan di kemudian ketika air mataku sudah reda, aku berharap dia tertabrak truk gandeng dalam perjalanan pulang.
Itulah sebabnya sekarang aku malu untuk mengakui bahwa aku menyukainya dan aku tahu kamu mungkin bertanya-tanya bagaimana perasaan cinta bertemu dengan benci berlumur racun yang kami simpan satu sama lain. Tetapi masalahnya, sebelum SMA, sebelum kita menjadi remaja dan pembagian jurusan menjadi beberapa kelompok, ada SMP, dan di SMP, cowok populer itu memiliki perasaan yang dalam terhadap cewek kutu buku yang pemalu dan canggung. Si cewek tidak pernah menyadari. Dia juga tidak peduli untuk memperhatikan. Namun, pada saat dia menyadarinya, mereka berdua berada di SMA, keduanya menjadi orang yang berbeda yang secara otomatis menginginkan hal yang berbeda.
Dia sebagai cowok terpopuler. Aku akan menatapnya di seberang kelas, riuh rendah dengan teman-temannya dan bertanya-tanya betapa berbedanya hal-hal akan terjadi kalau aku membiarkan mataku bertemu dengan tatapan tajamnya dan melihatnya dengan cara yang sama seperti yang biasa aku lihat padanya bertahun-tahun yang lalu, waktu kami masih berteman dan puncak dari sore hari kami adalah bermain voli di lapangan olah raga. Dia mengejarku keliling lapangan, makan es krim yang dibeli dari Koh A Sun yang baik di seberang gerbang depan sekolah.
-It’s obvious you’re meant for me
Every piece of you, it just fits perfectly
Every second, every thought, I’m in so deep
But I’ll never show it on my face-
(“Secret Love Song” Little Mix feat Jason Derulo)
***
Untuk Toni
Aku dan Toni berkenalan pada hari pertamaku di SD baruku. Umurku sepuluh tahun dan dia dua belas tahun. Interaksi pertama kami terjadi di ruang tunggu sekolah, ketika kami menunggu orang tua kami menjemput pulang. Dia mengatakan sesuatu tentang penampilanku yang seperti orang Cindo dan dengan pikiranku tertuju pada makanan yang disiapkan mamaku di rumah untuk makan siang. Aku tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Melihatnya pada hari pertama dengan bola matanya yang besar dan mulutnya yang nyinyir, aku tidak terpikir akan banyak bertemu dengan Toni selama tahun-tahunku di SMP.
Aku pikir kami berdua menjadi dekat waktu umurku dua belas tahun, saat aku menyadari bahwa dia tinggal di lingkungan yang sama dengan mamang dan bibiku. Kami akan mengunjungi mereka hampir setiap hari Minggu setelah misa, dan hampir setiap hari Minggu, aku melihat Toni mengambil air dari keran lingkungan atau mengajar anak-anak yang tinggal di sekitar area tersebut. Berbeda rasanya melihatnya pergi dari sekolah dengan celana chino hitamnya yang agak pudar dan singlet putih. Ketika kami mengobrol, percakapan kami jadi terasa berbeda, entah bagaimana lebih dalam.
Seiring berjalannya waktu, kami menjadi lebih dekat. Dia tumbuh menjadi seseorang yang bisa kuandalkan. Selalu bersikap seperti kakak laki-laki yang tak resmi. Dia mengajariku mata pelajaran yang sulit kumengerti. Membelaku setiap kali anak cowok dari kelasnya atau kelasku menggangguku. Dia mengobrol denganku setiap kali dia punya waktu. Ketika kami mengobrol, dia berbicara padaku seperti orang yang setara, seperti apa yang kukatakan benar-benar penting.
Dia satu-satunya anak cowok di seluruh sekolah yang tahu tentang tulisanku. Dia menyemangatiku dengan tulisanku. Membuatku lebih bangga dengan kenyataan bahwa aku bisa menulis dan benar-benar bisa lebih baik dalam hal itu.
Di SMP, anak cowok lain selalu mengolok-olokku karena terlalu ceking dan muram, tetapi tidak dengan Toni. Sebaliknya, dia membuatku merasa cantik. Dia adalah kegembiraan dan cahayaku selama enam tahun di SMP dan SMA. Semua yang aku ceritakan sekarang dimulai ketika umurku empat belas tahun ketika menuliskannya di buku harianku.
Aku jatuh cinta dengan sahabatku dan sangat ingin menceritakannya kepada seseorang. Jadi, aku menceritakannya di buku harianku. Di hari yang sama, beberapa cewek teman sekelasku mencuri buku itu dari tasku dan pergi ke kelasnya untuk menunjukkannya kepadanya.
Ini adalah cerita yang sekarang bisa membuatku tertawa. Aku bisa saja sedang makan seblak seuhah dan mengingat cerita ini dan mengenang masa lalu, menganggapnya sangat lucu, dan menertawakannya hingga tersedak seblak. Namun, hari itu, di saat itu, rasanya duniakukiamat, hancur dan runtuh di sekelilingku.
Air mataku mengalir dalam hitungan detik dan terus menangis hingga bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Yang paling aku takutkan, bahkan lebih dari perasaanku dibeberkan ke seluruh sekolah, adalah kemungkinan kehilangan sahabatku.
Namun, aku tidak kehilangan dia. Semua yang terjadi setelah itu menjadi kabur hari ini. Yang aku ingat adalah ketika aku datang ke sekolah keesokan harinya dan melihatnya tersenyum kepadaku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Aku masih mencintainya. Namun, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perasaan lega karena dia masih menjadi sahabatku.
-Only we know what is talked about baby boy
I don’t know how you can be driving me so crazy boy-
(“Diary” Alicia Keys)
***
Untuk Dewa
Aku pacaran dengan Dewa selama sebulan selama tahun ketiga kuliahku. Dia seorang musisi. Tidak pernah pergi ke mana pun tanpa gitarnya. Itulah hal yang paling aneh tentang dia. Hal lainnya adalah betapa mudahnya dia bernyanyi, bahkan ketika kamu tidak menduganya. Biarkan peristiwayang paling acak terjadi dan dia akan mengeluarkan gitarnya dan mulai bernyanyi, membuat lirik saat dia bermain.
Kami membuat lirik bersama hampir setiap hari. Dia mengajariku dasar-dasar bermain gitar. Aku senang setiap kali dia dari belakangku menempelkan ujung jarinya ke ujung jariku, menggeser ujung jariku mengikuti petikan senar yang menggelitik.
Saat dia tidak mengajariku bermain, dia akan bersila melipat kakinya dan memetik senar sesuai dengan musik, menggelitik perasaan yang tidak pernah bisa kupahami. Baru sekarang aku menyadari perasaan apa itu. Itu adalah cinta untuk keanehan unik yang ada dalam dirinya. Dia akan bersandar di dinding ruang tamu pondokanku yang berwarna ungu ketika dia bermain dan bernyanyi, menatap lembut melewati penghalang pribadiku hingga aku merasa biru, seperti warna gitarnya. Rasanya seperti berada di puncak gunung Merbabu.
Aku selalu merasakannya dalam ganasnya ciumannya yang berapi-api. Ciuman yang dalam dan membius yang terasa seperti musik dan biru, dari seorang cowok aneh yang hanya kadang-kadang kupikirkan, terutama saat langit berubah menjadi warna biru gelap kelabu yang penuh kejutan.
-If I wait for stormy skies
You won’t know the rain from the tears in my eyes
You’ll never know that I still love you so
Only heartaches remain
I’ll do my crying in the rain-
(“Crying in the Rain” a-ha)
***
Hari ini umurku dua puluh lima tahun. Aku menjalani hidupku setiap hari bertanya-tanya baju apa yang akan kupakai untuk bekerja dan apakah susu UHT atau susu full cream akan terasa lebih enak dengan sereal pagiku. Tapi saat ini aku berhenti sejenak, menulis bab-bab kecil ini untukmu, mengetahui bahwa pada satu titik atau yang lain dalam hidupku, kamu berarti dunia bagiku. Karena aku memikirkanmu sekarang dan membasahi celah dangkal di balik mataku dengan nostalgia yang indah.
Aku akan membacakan lirik lagu-lagu ini lagi untukmu. Dengan segala sesuatu yang pernah kita lalui, aku akan mengingatmu dengan lagu-lagu ini.
Bekasi, 26 April 2025











