Home / Genre / Misteri / The Hint

The Hint

The Hint
1

β€œThere must be a motive behind the killing of the sex workers in Whitechapel,” kata George sambil mengepulkan asap cerutu.

“Lalu … aku harus menyelidiki kasus ini?” tanya Joseph serius.

“Ya, tentu saja.”

Joseph memenuhi undangan sahabatnya, George Lusk, di kediamannya. Sang sahabat yang bekerja di Whitechapel Vigilante Commitee terlihat sangat frustasi. Sejak Agustus hingga September 1888 terjadi empat kasus pembunuhan dengan korban perempuan tunas susila.

Whitechapel merupakan distrik di Kota London yang sangat kumuh. Selain padat penduduk, tingkat ekonomi di kawasan ini sangat rendah sehingga rentan terjadi konflik sosial. Pemandangan miris lainnya yaitu banyaknya rumah bordir dengan bayaran suka rela dari pelanggannya. Namun, saat ini profesi perempuan tuna susila terancam oleh pembunuh berdarah dingin. 

Joseph menata foto jenazah yang terdiri dari Marry Ann Nichols, Annie Chapman, Elizabeth Stride, dan Cahterine Eddowes. Empat perempuan tersebut ditemukan tewas dengan kondisi yang sama yaitu sayatan di leher, luka robek di perut, dan bagian rahimnya hilang. Bobby, adiknya, turut serta dalam penyelidikan ini. 

“Kamu menemukan sesuatu, Jos?” tanya Bobby sambil merapatkan jaketnya.

“Sayatan di setiap korban sangat mirip, organ yang diambil pun sama yaitu ginjal serta rahim.”

β€œSo?” 

“Pelaku bisa dipastikan hanya satu orang dengan keahlian bedah organ yang profesional. Kemungkinan pelaku terlibat bisnis ilegal jual beli organ tubuh manusia, Bob.”

Dokter bedah menjadi terduga sementara dari penyelidikan mereka. Namun, satu-satunya dokter bedah di London tidak praktek di kawasan Whitechapel. Lagi pula, dokter yang bersangkutan sedang stanby di rumah sakit kota London ketika pembunuhan terjadi. Hal ini dibuktikan dengan tanda tangan kehadiran dokter yang diberikan oleh petugas piket rumah sakit. Satu bulan lebih, pekerjaan mereka menjadi sia-sia karena tidak ada bukti yang mendukung asumsi.

Awal November 1888, Joseph dan Bobby menuju ke Whitechape. Namun, sebagian besar warga menolak interview dengan alasan tidak tahu apa pun. Mereka pun singgah ke salah satu bar untuk beristirahat.

“Ini birnya. Apakah kalian baru melakukan perjalanan jauh?” sapa pemilik bar ramah.

“Terima kasih, Tuan. Kami sedang menyelidiki kasus pembunuhan empat perempuan di wilayah ini,” jawab Joseph sambil mereguk bir.

“Oh, begitu.”

“Apakah kami bisa menemui keluarga korban pembunuhan, Tuan?” tanya Bobby kepada pemilik bar.

“Kalian bisa menemui keluarga Nyonya Eddowes, Tuan. Keluarga Nyonya Nichols dan Nyonya Chapman memilih pergi dari sini karena trauma, sementara anak Nyonya Stridde diasuh oleh badan pemeliharaan anak karena usianya masih di bawah umur.”

“Bagaimana kegiatan para pekerja seks pascapembunuhan?”

“Mereka tetap bekerja, tetapi hanya melayani pelanggan yang dikenal saja.”

Berbekal penjelasan dari pemilik bar, Joseph dan Bobby menuju rumah Eddowes. Celin dan Amber, adik kandung Eddowes, terpaksa tinggal di rumah sekaligus tempat kejadian perkara karena tidak memiliki saudara di daerah lain. Rumah pribadi di Whitechapel memang sudah lazim merangkap sebagai rumah bordir.

“Kalian tidak tahu sama sekali orang yang berkencan dengan Eddowes?” tanya Joseph.

“Tidak, Tuan. Kami sudah sibuk melayani pelanggan di kamar belakang sebelum Eddowes kedatangan tamu,” jawab Amber terus terang.

“Pelaku datang, bercumbu, membekap mulut Eddowes lalu menghabisinya, Jos.” Bobby menerka kronologi kejadian.

“Adakah jejak pelaku yang kalian ingat?”

“Kami menemukan kertas di dalam celemek Eddowes. Polisi menganggap lelucon, tetapi kami tetap menyimpannya.”

Amber menyerahkan kertas lusuh bertuliskan Jack The Ripper dari neraka dengan ilustrasi berantakan, sementara Bobby melancarkan godaan nakal dari Celin. Joseph menetralkan suasana sebelum adiknya berbuat aneh-aneh.

“Baiklah, terima kasih untuk sambutan dan informasinya. Kami harus segera kembali ke kota malam ini. Permisi,” kata Joseph sopan.

Sepanjang perjalanan pulang, Bobby tidak berhenti tertawa. Dia menyayangkan sikap sang kakak yang menggagalkan misi kehangatan sesaat.

β€œShut up, Bob!” 

“Mengapa kita tidak bermain-main sebentar, Jos? Istri kita tidak bakal menyadarinya.”

Joseph tidak menanggapi ocehan adiknya. Dia memacu kereta kudanya dengan kecepatan tinggi. 

Beberapa hari setelah kunjungan, George Lusk memberi kabar bahwa telah terjadi pembunuhan terhadap Marry Jane Kelly. Perempuan tuna susila tersebut ditemukan tewas dengan kondisi yang sama dengan empat korban sebelumnya. Di lain tempat, mantan sipir penjara yang bernama Franklyn juga tewas mengenaskan. Isi perutnya terburai, alat kelaminnya hilang.

β€œDamn!” seru Joseph kesal.

β€œDo you know anything?” tanya George.

“Bawa kertas yang kemarin, Bob!”

Joseph baru menyadari bahwa kertas yang dibawa dari rumah Eddowes berisi petunjuk. Tulisan Jack the Ripper dari neraka mendominasi bagian atas kertas. Di bawah tulisan terdapat ilustrasi mirip terali, sepasang laki-laki dan perempuan yang penuh bintik di sekujur tubuhnya. Kemudian, ilustrasi paling bawah berupa siluet seorang laki-laki membawa pisau berdiri di antara gerombolan wanita. 

Hipotesis dari Joseph menyatakan bahwa pelaku adalah orang terdekat dari Aleeta, istri Franklyn. Pelaku tidak rela melihat Aleeta dirundung kesedihan akibat perbuatan suaminya. Pelaku menghabisi para perempuan tuna susila karena telah menularkan penyakit kelamin kepada pasangan suami istri yang sangat dikenalnya. Terakhir kalinya, pelaku menghabisi nyawa Franklyn untuk membalaskan sakit hati Aleeta.

Setelah melakukan penyelidikan di rumah Franklyn, semua dugaan mengarah kepada Jack Alfonzo, adik kandung Aleeta, sebab hubungan dengan kakak iparnya memang tidak harmonis. Selain itu, profesinya sebagai asisten dokter bedah makin menguatkan asumsi yang berhubungan dengan hilangnya organ dalam para korban. Jack Alfonzo ditangkap tanpa perlawanan, sementara Aleeta menjalani perawatan di rumah sakit kota London. Situasi di Whitechapel kembali kondusif setelah teka-teki kasus pembunuhan berantai dapat terungkap. 

Kebumen, 21 Juni 2023

Penulis

Tag:

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image