Untuk mewujudkan Kızılelma yang tertanam di hati Mehmed oleh Syeikh Aaq Samsedin, Mehmed meminta sebuah kamar kepada ayahnya Sultan Murad Han untuk dijadikannya gudang uji coba dalam membuat miniatur senjata pelontar, meriam dan benteng Konstantinopel.
Dengan persetujuan ayahnya, Mehmed diberikan sebuah kamar untuk dijadikan ruang uji coba yang didalamnya sudah disediakan buku layaknya perpustakaan mini. Mehmed pun, senang mendapatkan kamar tersebut. Tentunya, izin tersebut ada campur tangan Syeikh Aaq Samsedin.
“Ya, Syeikh. Aku ingin mengetahui lebih dalam tentang Kızılelma,” tanya Mehmed kepada Syeikh Aaq Samsedin.
“Kızılelma adalah Apel Merah yang harus dipetik dengan usaha kita sendiri. Kızılelma adalah tujuan kita dan usahanya adalah untuk menyebarkan li ila kalimatillah” Jawab Syeikh Aaq Samsedin, yang berhenti sejenak agar Mehmed dapat memahami apa yang Syeikh jelaskan.
“Kızılelma adalah simbol pencapaian, dimana ia dapat kita petik apabila usaha kita dalam menyebarkan Islam berhasil hingga puncak. Dalam arti, Kızılelma adalah buah dari usaha-usaha yang kita tanam, tergantung usaha kita” Lanjut Syeikh Aaq Samsedin.
“Namun tentunya, untuk mewujudkan Kızılelma tidak sedikit menemukan rintangan dan ujian. Rintangan tertinggi dalam mencapai Kızılelma adalah mati syahid. Sebab, pohon Kızılelma yang tumbuh, tanahnya selalu disirami darah para syuhada” Sambung Syeikh Aaq Samsedin dengan mata berbinar mengingat para pemberani yang t’lah menjadi syuhada terlebih dahulu.
Mehmed, mendengar penjelasan dari Syeikh Aaq Samsedin pun melontarkan pertanyaan.
“Bagaimana ayah dan nenek moyangku tak mampu menembus Konstantinopel, sementara cita-cita mereka sama, yaitu mewujudkan Kızılelma disana?”
“Pertama, takdir Allah belum mengizinkan. Kedua, benteng mereka dan pertahanannya sangat kokoh, memiliki senjata defense yang belum pernah ada di zaman ini, dan ketiga….” Syeikh Aaq Samsedin terdiam.
“Yang ketiga apa, Syeikh?”
“Yang ketiga, pada masa sahabat nabi, yaitu pasukan yang pertama kali dalam ekspedisi perdana, ada sosok yang luar biasa yaitu Abu Ayyub Al-Anshari. Ekspedisi itu membawa Abu Ayyub yang berumur 80 tahun dan pasukannya dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah. Dalam perjalanan Abu Ayyub wafat. Sebelum meninggal, Abu Ayyub berpesan bahwa jenazahnya ingin dikebumikan dekat Konstantinopel karena ingin mendengar gemerincing pedang dan derap kuda para pemberani. Lalu, Yazid membawa jenazahnya, akan tetapi umat Islam kalah, karena tidak ada persiapan.” Jelas Syeikh Aaq Samsedin.
“Ekspedisi kedua, Maslamah bin Abdul Malik membawa 120.000 pasukan pergi ke Konstantinopel, namun pasukan Islam kalah lagi, karena salah memperhitungkan waktu musim salju, pasukannya habis semua.” Syeikh Aaq Samsedin melanjutkan ceritanya.
“Bukan hanya itu, Mehmed. Harun Ar-Rasyid membawa pasukan banyak. Tapi umat Islam masih belum dapat menembus kota itu. Muhammad Alparslan, tujuannya sudah sampai namun belum sempat ke Konstantinopel, karena jarak dan terkuras oleh perang Manzikert. Nenek moyang kita Osman Gazi, saat matanya tertuju ke Konstantinopel, Daulah Utsmani yang baru didirikan dikepung oleh bangsa Mongol dan tentara Bizantium. Juga dapat gangguan dari bangsa Viking dan Catalan.” Syeikh Aaq Samsedin, mengisahkan.
“Orhan Gazi putra Osman Gazi, Sultan Beyazid I dan ayahmu Sultan Murad II membawa banyak pasukan. Namun, masih belum menaklukan Konstantinopel” Sambung Syeikh Aaq Samsedin mengakhiri kisahnya.
“Kalau begitu, jika aku ingin menaklukan Kota Konstantinopel, apa yang harus aku perbuat?” Tanya Mehmed.
“Pada saatnya, akan aku jelaskan. Sekarang, perkuat imanmu, perkuat visimu dan perkuat tekadmu.” Jawab Syeikh Aaq Samsedin.
Kesedihan Sultan Murad II
Sebulan kemudian, terjadi perselisihan politik antara Kesultanan Utsmani dengan Kepemerintahan Otonom Turki, yaitu Pemerintah Karamanoğlu.
Karamanoğlu, dituduh berkhianat tatkala Sultan Murad II kembali dari ekspedisi melawan Hongaria di Rumelia. Tuduhan itu membuat seluruh istana Karamanoğlu merasa sakit hati dan tentu tidak menerimanya.
Tuduhan atas Karamanoğlu tidak lepas dari campur tangan pasukan Bizantium yang menyamar sebagai prajurit Karaman, saat prajurit Karaman berbaris menuju sebelah barat Utsmani setelah diminta Sultan Murad II untuk mendukung pasukan Akinji yang berjaga disana.
Pasukan Akinji adalah pasukan rider yang tidak teratur dan tugasnya sebagai pengintai dan melemahkan musuh.
Pasukan Bizantium yang menyamar itu, tiba-tiba menyerang pasukan Akinji yang sedang menanti prajurit Karaman.
Dengan penyerangan itu, pasukan Akinji kaget bukan main. Kenapa tidak, prajurit yang sedang dinantikannya tiba-tiba saja menyerang tanpa tedeng aling. Hal itu diketahui dari ciri khas anak panahnya.
Atas penyerangan tersebut, sebagian besar pasukan Akinji meninggal dunia dan sebagian kecil dibiarkan selamat, tujuannya untuk mengadu domba antara Utsmani dengan Karamanoğlu. Itupun disertai bersama surat yang ditulis oleh pasukan dengan mengambil cap legalitas tugas yang bertujuan untuk memperkuat kesalahpahaman diantara keduanya.
Mendengar hal itu, Sultan Murad langsung murka, dan memberi tugas kepada putranya yaitu Şehzade Alaeddin. Seketika istana pun terkejut terhadap murkanya Sultan Murad. Wazir dan para menteri istana, memperkirakan murkanya sultan karena kelelahan selepas pulang dari ekspedisi melawan Hongaria.
Kemungkinan besar benar adanya perkiraan wazir dan para menteri istana dalam menilai murkanya sultan.
“Çandarlı Halil Pasha, temani Şehzade Alaeddin!” Perintah Sultan Murad kepada wazir istana.
“Ba… Baik, sultanku.” Jawab Çandarlı dengan wajah bingung sedikit terkejut.
Çandarlı pun seketika bergegas untuk menemui Şehzade Alaeddin dan mereka berangkat menuju Karamanoğlu.
Disana Şehzade Alaeddin hanya berusaha menggertak saja agar orang-orang di Karamanoğlu mengaku atas serangan tersebut.
Tentunya, Karamanoğlu menyanggah tuduhan itu dan memang mereka tidak melakukannya. Çandarlı pun merasa ada yang janggal dan meragukan penyerangan tersebut dilakukan oleh orang-orang Karaman.
“Şehzade, sepertinya bukan mereka yang melakukannya.” Bisik Çandarlı kepada Şehzade Alaeddin.
Tapi Şehzade Alaeddin tetap pada pendiriannya agar orang-orang Karaman mengakui perbuatannya.
“Tidak, Wazir Halil Pasha. Bukti sudah jelas dan kuat, tinggal mereka mengakuinya.” Sanggah Şehzade Alaeddin.
“Hey, Karamanoğlu! Apakah kalian tetap memungkiri penyerangan terhadap Akinji kami? Apakah kalian sudah mulai berdusta seperti orang-orang kafir? Ha!… Kalau begitu, maka yang paling pantas untuk kalian pahami adalah dengan bahasa kalian, aku sudah membawa 1 pleton pasukan untuk memberi pelajaran kepada kalian” Ancam Şehzade Alaeddin.
Karamanoğlu mendengar hal itu merasa terpukul sekaligus tersinggung. Mahmud Ali Pasha sebagai penasehat Karamanoğlu menjawab dengan tegas tantangan Şehzade Alaeddin.
”Jika negara Utsmani benar-benar yakin atas tuduhan kepada kami, benar-benar yakin terhadap fitnah yang terjadi dan benar-benar yakin atas tipu daya, kami Karamanoğlu akan menjawab bahasa kalian.”
Akhirnya, perang saudara pecah! Teras istana Karamanoğlu menjadi ajang pertumpahan darah sesama umat Islam dan tindakan adu domba orang-orang Bizantium berhasil mereka lakukan dengan sukses.
Emir İbrahim Damad II sebagai kepala pemerintah Karamanoğlu pun terpaksa turun, untuk turut melawan pasukan Şehzade Alaeddin dalam upaya mempertahankan harga diri otonomi Karaman.
Akibat peperangan tersebut, Şehzade Alaeddin terluka dan 1 pleton pasukannya mengalami kekalahan. Artinya, Emir İbrahim Damad II berhasil mempertahankan pendiriannya.
Wazir Halil Pasha pun membawa keluar Şehzade Alaeddin dan membantunya naik ke atas kuda.
Dalam perjalanan pulang ke Edirne, tiba-tiba Şehzade Alaeddin terjatuh dari kuda dan meninggal di tempat. Diduga karena lukanya yang cukup serius, sehingga Şehzade Alaeddin tidak kuat untuk menunggang kuda.
Seketika, pasukan Şehzade panik, begitu pun Wazir Çandarlı Halil Pasha. Selang beberapa lama, jenazah Şehzade Alaeddin dibawa pulang dengan langkah kaki kuda yang berat.
Sesampainya di Ibukota Utsmani, Edirne, Çandarlı Halil Pasha menghadap kepada Sultan Murad.
“Sultanku, Şehzade Alaeddin, sultanku.” Ucap Çandarlı sedikit terbata.
“Kenapa Alaeddin, Halil?” Tanya Sultan Murad.
“Şehzade Alaeddin, meninggal, sultanku.” Jawab Çandarlı.
“A… Alaeddinku, meninggal, Halil?” Tanya Sultan Murad lagi yang sangat terkejut.
Kemudian Wazir Agung Çandarlı Halil Pasha menjelaskan secara rinci kejadian saat pergi hingga kembali pulang dari Karaman.
Setelah itu, Sultan Murad II benar-benar merasa terpukul. Alih-alih ada keinginan untuk membalas pada Karamanoğlu, Sultan Murad malah mengalami kesedihan yang amat mendalam. Kenapa tidak? Sebab, Şehzade Alaeddin adalah putra kesayangannya yang sangat dinantikan untuk naik tahta, menggantikannya kelak.
Apalagi sebelumnya, Sultan Murad mengasingkan salah satu istrinya karena polemik politik di kehariman¹ istana. Sehingga semakin bertambah kesedihan Sultan Murad.
Karena peristiwa tersebut, Sultan Murad merasa jengah terhadap dunia perpolitikan yang tengah terjadi. Kemudian, Sultan Murad memanggil Çandarlı Halil Pasha untuk menghadap dan memberikan secarik surat kepada Çandarlı.
Itu adalah surat kesedihan yang dialami oleh Sultan Murad. Lalu, apa isi surat itu?
¹Kehariman adalah urusan rumah tangga istana yang diatur oleh istri sultan kepada para pembantunya. Namun, tak dapat dipungkiri kehariman pun dapat masuk ke ranah politik. Kadangkala khusus untuk harim kadangkala masuk pada urusan tahta.










Satu Komentar
lanjut