Home / Topik / Lifestyle / Renungan Kehidupan: Hidup Ini adalah (Ujian) Kesempatan, Lakukan Selagi Masih Ada!

Renungan Kehidupan: Hidup Ini adalah (Ujian) Kesempatan, Lakukan Selagi Masih Ada!

Renungan Kehidupan 20250804 (Mark Manson)
3

“Hidup Ini adalah Kesempatan”

Itulah judul lagu yang belum lama ini penulis dengarkan dalam sebuah kebaktian di gereja. Dibawakan oleh grup band anak-anak baru gede seumuran putra penulis, lagu yang sederhana itu sangat mengena di hati. Inilah penggalan liriknya:

Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini hanya sementara

Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Suatu saat aku tak berdaya
Hidup ini sudah jadi berkat

Hidup ini adalah sebuah kesempatan langka dan indah yang seringkali kita sia-siakan. Berlalu begitu saja, setiap hari terasa sama, waktu berjalan begitu cepat atau malah lambat, datar, membosankan. Gaji pas-pasan, easy come, easy go. Belum lagi masalah datang bertubi-tubi. Semua itu bak ujian bagi kita.

Apa ujian bidang studi/mata pelajaran terberat bagi Anda? Matematika-kah, akuntansi-kah? Izinkan penulis berbagi pengalaman. Bagi penulis, ujian terberat dalam kuliah di universitas kehidupan (karena saya sedang duduk di bangku kuliah ‘S dua’ alias ‘sadar diri sudah mulai tua’) adalah kesabaran.

Ujian hidup ini selalu ada dan takkan pernah selesai; selesai satu, datang lagi persoalan lain. Saat kita mengira sudah lega saat berhasil menyelesaikan sebuah masalah, masalah lain datang lagi. Begitu pula kesabaran. Sudah lega dapat bersabar hingga satu ‘badai’ berlalu, ‘cuaca’ kembali mendung.

Jika dalam ujian/ulangan sekolah, nilai murid masih di bawah KKM (kriteria kelulusan minimal), bapak/ibu guru akan memberikan remedial. Apakah dalam ujian kehidupan juga ada remedial?

Remedial dari Tuhan adalah kesempatan berlaksa-laksa kali yang Tuhan karuniakan kepada kita selagi kita masih ada!

Kesabaran adalah ‘bidang studi’ yang Tuhan masih sering ujikan ulang kepada penulis. Barangkali jika benar-benar ada ujian di atas kertas, penulis berkali-kali sudah gagal bahkan tidak naik kelas. Menunggu bagi saya adalah hal paling membosankan. Melihat/mendengar hal-hal yang tidak berkenan di hati, apalagi. Sebagai seorang pengusung free will, penulis sangat menghargai kebebasan. You do what you like to do, I like what I like to do. Karena itu, apabila free will saya dilanggar seseorang, seringkali kesabaran saya terlukai. Nah, di sanalah letak ujian Tuhan datang lagi kepada saya. Akankah dan haruskah saya marah, sedih, kecewa, bahkan berbuat dosa (lagi dan lagi)?

Seakan belum lagi cukup, terkadang ujian hidup Tuhan perpanjang lagi dan lagi. Barangkali kita mengeluh karenanya. Seringkali kita tanya mengapa, why me? Ujian itu masih ada bukan karena Tuhan tidak sayang kepada kita, melainkan karena Tuhan ingin membentuk kita menjadi pribadi-pribadi upgrade, lebih penuh kesabaran.

Apabila kita berhasil melaluinya, kita akan bersyukur dan bernapas lega. Semakin berat ujian, semakin tinggi nilainya apabila kita berhasil melaluinya. Bukan jawaban bagus/tepat yang Tuhan inginkan, melainkan pengendalian diri kita.

Ibarat menjadi seorang pengemudi kendaraan bermotor, jalan raya kehidupan bukan hanya milik kita. Tidak pernah ada jalan bebas hambatan, kecuali kita tinggal seorang diri dalam hutan belantara. Selama kita hidup, kita berkuasa atas ‘kendaraan’ masing-masing. Kemudikanlah dengan baik.

Kesimpulan: Ujian kehidupan dari Tuhan bukan hanya datang sekali saat ingin mendapatkan SIM (surat izin mengemudi) saja, melainkan pintu kesempatan yang selalu terbuka. Remedial itu akan selalu ada, jangan mengeluh, jalani saja. Semoga kita semua dimudahkan dan diberi hadiah ekstra berupa kemampuan pengendalian diri, berkat dan rezeki yang lebih baik lagi. Mari kita berusaha untuk semakin bertumbuh dalam pengalaman serta menjaga relasi dengan Tuhan YME dan sesama.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, 4 Agustus 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image