Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 52

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 52

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 53 of 53 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Sampai terlihatlah isi dari kotak tersebut. Sebuah foto anak kecil dengan seorang wanita. Ditangan kanan anak kecil itu, ada sebuah tanda bekas luka bakar. Anak itu berumur sekitar dua tahun lebih kurang.

“Siapa anak kecil ini? Kenapa orang itu mengirimkannya kepadaku? Dan siapa perempuan yang menggendongnya ini? Dasar aneh si pengirim paket ini.”

Dan ternyata, kedua paket itu isinya sama. “Mungkin ada baiknya aku simpan foto ini dulu.”

Setelah menyimpan foto itu di laci, dia merebahkan badannya di tempat tidur. Rasa ngantuk mulai menyerang, hingga dia tertidur pulas sampai suara azan subuh berkumandang, baru dia terbangun.

Silvia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan sekalian berwudu.

Setelah selesai menunaikan salat subuh, dia segera mengadukan semua yang dialaminya hari ini, Kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dia memang tidak pernah absen untuk mengadu kepada Allah. Dan terakhir dia selalu memanjatkan do’a untuk keselamatan kedua orang tuanya, baik didunia maupun di akhirat. Dia tidak mendoakan dirinya sendiri. Karena dia yakin Allah maha tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Untuk itu dia hanya menjalani semua ketentuan Allah tapa harus berburuk sangka kepada Allah Yang Maha Esa.

Setelah selesai mencurahkan semua keluh kesahnya kepada Yang Maha Agung, dia pun bersiap dengan pakaian kantornya. Sebenarnya dia tidak harus bersiap se pagi itu. Karena dia adalah bosnya. Tapi dia sudah terbiasa bangun pagi, dan langsung melanjutkan aktivitasnya.

Tok! Tok! Tok!

“Ya, sebentar,” ucap Silvia. Sambil menyambar tasnya, dia berjalan ke pintu.

“Selamat pagi, Non,” ucap Bi Ijah. Beberapa bodyguard yang sedang berdiri di pintu sambil menunduk.

“Selamat pagi juga, Bibi dan kalian semua. Kenapa kalian menunduk? Saya hanya manusia biasa seperti kalian. Kalaupun saya yang menggaji kalian bukan berarti kalian harus tunduk kepada saya. Menunduklah hanya di depan orang yang melahirkan kalian dan di depan sang Pencipta. Kita di sini saling membutuhkan. Jadi anggaplah kita ini seperti teman, Oke?”

“Iya, Non. Kamu akan mengingatnya. Maaf karena kami mengganggu,” ucap Bi Ijah dengan sopan.

Padahal Silvia sudah pernah melarangnya untuk minta maaf terus-terusan. Tapi tetap saja mereka begitu. Akhirnya Silvia mengalah dan mengikuti cara kerja mereka.

“Gak apa-apa Bi. Ada apa?”

“Itu Non. Di bawah ada yang nyariin Non Silvia. Tadi satpam di depan sudah melarang masuk, tapi katanya diminta datang oleh tuan Hermansyah, Non.” Bi Ijah menunjuk ke arah tangga dengan jempolnya. “Tapi setelah dia masuk, dia malah ingin tahu di mana kamar Non Silvia,” lanjutnya.

“Betul, Non. Dia malah bersitegang dengan kami. Katanya kami akan menyesal karena sudah melarangnya bertemu dengan Nona Silvia, jika kamu tahu siapa dia,” sambung salah satu Bodyguard.

“Ayah ada di bawah?” tanya Silvia kemudian. Karena kalau ada ayahnya pasti tidak akan ada kericuhan.

“Tuan belum bangun, Non.”

Silvia melirik ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Ternyata jarum jam baru menunjukkan pukul setengah enam, tapi dia sudah rapi untuk berangkat ke kantor.

“Ya sudah, Bi. Ayo, kita ke bawah.”

“Mari, Non.”

Silvia berjalan menuju tangga, sebelum dia sampai di tangga, dia berpapasan dengan ayah dan ibunya yang juga mau turun.

Ayahnya terkejut melihat Silvia yang di belakangnya ada Bi Ijah dan beberapa pengawal pribadi anaknya itu.

“Ada apa, Nak? Kenapa tumben pagi-pagi kamu sudah rombongan?”

Biasanya Silvia tidak mengizinkan para pengawal dan bodyguard untuk ke kamarnya. Mereka hanya di izinkan sampai lantai dasar. Tapi hari ini mereka mengekor di belakang Silvia.

“Kata Bi Ijah ada orang yang ayah izinkan untuk datang, tapi sampai di dalam, dia malah ingin tahu di mana kamarku, Yah.”

Mendengar penjelasan Silvia, wajah Hermansyah terlihat pucat dan tegang.

“Ada apa, Yah? Kok ayah diam, sih? Malah melamun gitu”

“Ng… nggak, Nak. Itu… anu. Apa orangnya masih di bawah?”

“Iya, masih. Yah. Makanya aku mau turun, penasaran juga sama orang itu. Soalnya dia nanyain di mana kamar aku. Ayah kenal gak sama dia?” tanya Silvia lagi.

“Mungkin itu calon asisten pribadimu yang ayah rekomendasikan itu. Sebaiknya kamu ke kamarmu lagi, ini masih terlalu pagi juga untuk ke kantor. Masalah di bawah biar ayah yang urus,” ucapnya meyakinkan anaknya agar tidak menemui orang misterius itu.

“Gak apa-apa, Yah. Biar saja masih pagi, kan malah bagus, biar bisa mencontohkan ke karyawan untuk disiplin dalam bekerja serta tidak malas-malasan. Jika atasannya saja datang kesiangan bagaimana bawahan mau disiplin, Ya kan, Yah.?”

“Iy. Kamu betul, Nak. Tapi apa tidak ada yang ketinggalan?”

“Nggak, Ayah. Kalau ada, nanti aku suruh pegawaiku yang ambil ke rumah.”

Silvia jadi curiga dengan gerak gerik ayahnya. Seolah ayahnya tidak mengizinkan dia untuk menemui orang yang ingin menemuinya.

Tapi karena tidak ada alasan lagi untuk menyuruh anaknya kembali ke kamarnya, akhirnya dia pasrah.

“Baiklah ayo kita turun,” ucapnya sambil melangkah ke arah tangga.

Begitu sampai di bawah, orang yang masih dipegang oleh dua orang Bodyguard itu begitu berbinar melihat kedatangan Silvia. Matanya yang bercahaya di selimuti bahagia bercampur dengan rasa haru tak putus memandangi Silvia.

Silvia heran melihat orang itu memandanginya seperti itu. Tapi entah perasaan apa, melihatnya menitikkan air mata, perasaan Silvia terasa sakit. Seperti ada yang membuat dia bersedih. Rasanya begitu pilu, melihat orang itu seperti merindukan kehadirannya.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 51

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image