Namun, Ben tidak memberinya waktu untuk berpikir. Ia segera menarik Ki Plenyun ke pintu kamar di seberang WC.
“Ini dia, Ki! Pemuda itu! Namanya Ben. Dia sedang terlelap di jaman ini, patah hati karena ditolak keluarga si calon perempuan. Dia terlalu miskin, Ki. Cincin tunangan ala koboi-nya hilang, makanya jari manisnya meronta marah. Jika kita bisa membuatnya memimpikan kembali kisah ‘Keluarga Jari’ versiku, Jempol Setan akan lenyap!”
Ki Plenyun menatap pintu itu. Wajahnya berganti-ganti antara kemarahan, disorientasi, dan kepasrahan. “Jadi, Jempol Setan yang membuatku melintasi waktu, yang kulihat menghancurkan tiga peradaban di masa depan, hanyalah rasa frustrasi perkawinan dari jari seorang bocah yang gagal tunangan?”
“Ya, Ki! Kekacauan cerita terkadang lebih sederhana dari ramalan,” ujar Ben penuh keyakinan.
“Baiklah! Aku sudah terlalu jauh berenang di selokan cerita konyolmu ini!” seru Ki Plenyun. Semangatnya tiba-tiba kembali, kali ini didorong oleh keinginan untuk menuntaskan semua keabsurditasan yang telah kadung terjadi.
Ki Plenyun menampar pintu kamar itu hingga terbuka. Di dalamnya, seorang pemuda yang terlihat familiar—Ben versi lima tahun lalu, lebih kurus, dan jauh lebih suram—tertidur pulas di ranjang.
“Kita masuk, Ben,” bisik Ki Plenyun. Ia mengeluarkan sebuah cangkir kopi hitam yang entah dari mana asalnya. “Pemuda ini perlu ‘disentil’ ke dalam mimpi yang benar. Aku akan menggunakan alat transfer mimpi. Aku—Ki Plenyun Sang Penjelajah Waktu, Agen Malapetaka, dan kini Kurir Kisah Cinta Jari-Jari yang Gagal—akan melakukan ini!”
Ki Plenyun menumpahkan kopi hitam pekat itu ke atas kepala Ben masa lalu.
Pemuda itu tersentak, mata terpejam, dan mulai bergumam. Ki Plenyun mendekat, berbisik lantang, memaksakan narasi Ben ke dalam alam bawah sadar pemuda itu.
“Dengarkan aku, kau! Jempolmu hilang bukan karena kutukan, tapi karena pengabaian! Sekarang, lihatlah! Kelingkingmu lari menjadi yakuza! Telunjukmu sibuk menuding! Jari Manismu ingin kawin! Dan si Jempol? Si Jempol itu bukan setan. Ia hanya butuh perhatian, bukan rasa takut!”
Ben agak canggung menyaksikan dirinya di masa lalu didoktrin oleh Ki Plenyun. Situasinya luar biasa konyol dan menegangkan.
Tiba-tiba, Ben masa lalu berteriak nyaring, “Bukan! Jari Manisku ingin cincin! Bukan kawin!”
Ki Plenyun tersentak mundur, wajahnya pucat. “TIDAK! Narasi itu berbalik! Kekuatan emosional aslinya menolak cerita kita yang dipaksakan!”
“Kau lihat, Ben?” bisik Ki Plenyun panik. “Pemuda ini tidak hanya melawan nasib, dia melawan ceritamu! Ini terlalu personal! Aku tidak pernah berurusan dengan tato motivasi palsu dan drama tunangan yang dihiasi jari-jari sarkas!”
Ki Plenyun, si penjelajah waktu yang tak pernah sekali pun merasa gentar, tiba-tiba merasakan dorongan yang sangat kuat untuk lari. Ia menyentuh lubang kosong di Jam Kayu Busuk, yang entah bagaimana ia bawa bersamanya.
“Aku cabut, Ben! Aku harus kembali ke masa depan di mana malapetaka itu murni, dingin, dan tidak melibatkan self-insert fanfiction!” Ki Plenyun berteriak.
“Tunggu, Ki! Kau tak bisa meninggalkanku di sini, di tengah-tengah cerita karanganku!”
“Justru itu, Ben!” seru Ki Plenyun, melompat mundur menuju lubang waktu yang mulai terbentuk di dinding kamar. “Kisah ini sudah menjadi milikmu! Ini bukan lagi takdir. Ini adalah krisis personal! ! Nikmati krisis naratifmu sendiri! Aku kembali ke jaman di mana nasib ditulis oleh Dewa, bukan oleh penulis amatir yang sedang sakit perut dan bertarung dengan Jempol Setan bertato ngehek!”
Dengan lolongan panik dan penyesalan karena pernah terlibat dalam cerita yang terlalu konyol, Ki Plenyun melompat masuk ke pusaran waktu, meninggalkan Ben sendirian di kamar Pemuda Kamar Sebelah yang kini menangis di tengah tidurnya karena ingatan tunangan yang hilang dan cerita jari-jari yang berebut karir.
Ben menatap lubang waktu yang menutup. Ia tersenyum getir.
“Ki Plenyun melarikan diri dari plot,” gumam Ben. Ia tahu, sekarang tanggung jawab untuk mengubah narasi Jempol Setan seutuhnya berada di tangannya, di jaman di mana ia sendiri yang menjadi titik awal masalahnya.
Ben menoleh ke dirinya yang tertidur, dan sebuah ide liar muncul. Ia menyentuh kantong celana, merasakan sesuatu yang kecil dan keras di sana…











