Nubuwat Nabi Muhammad SAW tentang penaklukan Konstantinopel membuat semangat jihad para sahabat bergelora. Sebab, disana terselip kalimat “Sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukannya.”
Lantas, para sahabat berlomba-lomba agar masuk menjadi orang yang dinubuwatkan nabi, meskipun hanya sebagai pasukan saja. Dari Utsman bin Affan, Abu Ayyub al-Anshari hingga Yazid bin Muawiyah.
Tentu, ini menjadi hal yang membahagiakan bagi para sahabat, bila masuk dalam kategori yang disebutkan nabi, meskipun hanya menjadi pasukan saja. Karena, bagaikan masuk ke dalam pasukan khusus.
Namun, perjalanan penaklukan tidaklah mudah. Dari satu pasukan ke pasukan lain hingga bertahun-tahun lamanya, Kota Konstantinopel belum mampu untuk ditaklukan.
Hingga lahirlah seorang yang bernama Muhammad, di Ibukota Turki, Edirne. Muhammad dalam dialek Turki disebut Mehmed atau Mehmed II. fSejak kecil, Mehmed sudah punya cita-cita untuk menaklukan Konstantinopel, maka tidaklah heran mainannya adalah miniatur senjata pelontar dan meriam.
Cita-cita itu tertanam hingga dia menjadi seorang Sultan Utsmani dan inilah perjalanan Sultan Mehmed II atau Sultan Muhammad al-Fatih yang bagi orang Venesia dia disebut La Grande Aquila yaitu Sang Elang yang Perkasa.












2 Komentar
Kisah Muhammad Al Fatih ya? Kabari kalau ada lanjutannya lagi ya, Kak.
Iya, Kak Yuni. Siap, Kak. Nanti saya beritahu kelanjutannya. 😁