Home / Fiksi / Novel / Muhammad al-Fatih

Muhammad al-Fatih

Muhammad al-Fatih
This entry is part 1 of 20 in the series Muhammad al-Fatih

Nubuwat Nabi Muhammad SAW tentang penaklukan Konstantinopel membuat semangat jihad para sahabat bergelora. Sebab, disana terselip kalimat “Sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukannya.”

Lantas, para sahabat berlomba-lomba agar masuk menjadi orang yang dinubuwatkan nabi, meskipun hanya sebagai pasukan saja. Dari Utsman bin Affan, Abu Ayyub al-Anshari hingga Yazid bin Muawiyah.

Tentu, ini menjadi hal yang membahagiakan bagi para sahabat, bila masuk dalam kategori yang disebutkan nabi, meskipun hanya menjadi pasukan saja. Karena, bagaikan masuk ke dalam pasukan khusus.

Namun, perjalanan penaklukan tidaklah mudah. Dari satu pasukan ke pasukan lain hingga bertahun-tahun lamanya, Kota Konstantinopel belum mampu untuk ditaklukan.

Hingga lahirlah seorang yang bernama Muhammad, di Ibukota Turki, Edirne. Muhammad dalam dialek Turki disebut Mehmed atau Mehmed II. fSejak kecil, Mehmed sudah punya cita-cita untuk menaklukan Konstantinopel, maka tidaklah heran mainannya adalah miniatur senjata pelontar dan meriam.

Cita-cita itu tertanam hingga dia menjadi seorang Sultan Utsmani dan inilah perjalanan Sultan Mehmed II atau Sultan Muhammad al-Fatih yang bagi orang Venesia dia disebut La Grande Aquila yaitu Sang Elang yang Perkasa.

Muhammad al-Fatih

Prolog

Penulis

Tag:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image