Home / Genre / Fiksi Sejarah / Prolog

Prolog

Muhammad al-Fatih
This entry is part 2 of 20 in the series Muhammad al-Fatih

Bicara Sultan Muhammad Al-Fatih, memang tidak ada habisnya. Sebab, kisah epiknya yang menaklukkan Konstantinopel itu begitu masyhur, sehingga banyak diperbincangkan oleh segenap lapisan masyarakat muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Sebelum ke penaklukan Konstantinopel, ada baiknya kita mengetahui apa itu Konstantinopel dan bagaimana pribadi Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II terbentuk karakternya, sehingga penaklukannya menjadi sebuah sejarah yang legendaris.

Kota Konstantinopel

Pada masa Nabi Muhammad SAW, dan masa para sahabat, peta dunia itu hanya terbagi 2 wilayah saja. Yaitu Kota Konstantinopel dan Kota Roma. Dua-duanya adalah kota termegah di dunia pada kala itu.

Kota Konstantinopel adalah kota yang paling megah nomor satu di dunia dan Kota Roma adalah kota kedua paling megah setelah Konstantinopel. Sehingga tak heran, Nabi Muhammad SAW menubuwatkan, bahwa kelak Konstantinopel akan menjadi milik umat Islam.

Kenapa demikian? Sebab, Konstantinopel adalah jantungnya peradaban dunia karena saking megah dan indahnya kota itu bagaikan berada di surga.

Jangankan Konstantinopel, Kota Roma pun sebenarnya kota yang sangat indah. Jikalau Konstantinopel tidak ada, maka Kota Roma akan menjadi kota terindah nomor satu di dunia.

Kala itu, Kota Konstantinopel satu-satunya kota yang sangat pesat meninggalkan jauh kota-kota lain di belahan dunia mana pun.

Kenapa tidak, Konstantinopel memiliki gereja yang jumlahnya lebih banyak dibanding jumlah hari dalam setahun. Jalan-jalan di Konstantinopel sudah diperkeras oleh batu marmer dan sudah aspal, sementara jalan-jalan di kota lain masih belum mengenal itu. Di sekitaran jalan-jalan itu, dibangun forum-forum, gedung-gedung yang tinggi dan di tengah-tengahnya dibangun gereja yang sangat besar dan menjadikan bangunan paling mewah dan besar di dunia yaitu Gereja Hagia Sofia, gereja kebanggaan kaum Kristen Ortodoks.

Selain itu, Kota Konstantinopel memiliki armada tempur terbaik dan terkuat, pasukan serang dan pertahanannya sama-sama hebat, ditambah tingkat keamanan Konstantinopel paling ketat sehingga sulit untuk ditembus oleh pasukan manapun. Singkatnya, Kota Konstantinopel adalah kota yang nyaris sempurna di berbagai sisi.

Hagia Sofia

Gereja kebanggaan orang-orang Konstantinopel ini, adalah sebuah lambang keindahan kota dan identitas bergengsi Kristen Ortodoks. Gerejanya sangat luas, melebihi Masjid Istiqlal, bahkan kubah Masjid Istiqlal pun kalah besar oleh Gereja Hagia Sofia.

Nubuwat Rasulullah SAW Tentang Konstantinopel

Rasulullah pernah bernubuwat:

لَتُفْتَحَنَّ الْقَسْطَنْطِنِيَةُ، وَلَنِعْمَ الأَمِيِرُأَمِيْرُه‍اَ وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ (صَحِيْحُ الْحَکِيْم : ٨٣٠٠)

“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“. (Sahih Al-Hakim nomor 8300).

Jika ada yang paham akan gramatika bahasa Arab, yaitu yang menguasai ilmu nahwu shorof, hadits ini adalah hadits yang ngeri. Sebab, dalam kata latuftahanna ada huruf lam di awal kalimat, nun nya ditasydidkan, kemudian digabung dengan fi’il mudhore. (Fi’il mudhore adalah kata kerja yang sedang atau akan dilakukan). Ini mengandung arti pasti pisan, pasti tenan, atau pasti banget kota Konstantinopel akan ditaklukkan.

Maka, setelah para sahabat mendengar perkataan Rasulullah SAW banyak yang berlomba-lomba pemimpin yang menaklukkan Konstantinopel, bahkan tidak sedikit menjadi prajuritnya saja sudah cukup.

Perkataan Rasulullah ini pun menggema hingga zaman setelahnya dan setelahnya.

Dari Utsman bin Affan, Muawiyah, Yazid bin Muawiyah, Sulaiman bin Abdul Malik, Harun Ar-Rasyid, Osman Gazi, Orhan Gazi, Murad I, Beyazid I, Murad II hingga Mehmed II, yang berlangsung selama 8 abad dari nubuwat Rasulullah SAW.

Sahabat nabi yang paling terkenal semangat jihad penaklukan Konstantinopel adalah Abu Ayyub Al-Anshari.

Namun, Abu Ayyub Al-Anshari meninggal dunia tatkala hendak berangkat ke Konstantinopel. Sebelum meninggal, Abu Ayyub Al-Anshari pernah berpesan:

“Apabila aku meninggal dunia dalam keadaan Konstantinopel belum ditaklukkan, maka, aku ingin dimakamkan di dekat kota itu. Sebab, aku ingin mendengar derap-derap kuda dari para mujahid-mujahid Allah yang pemberani_yang datang untuk menaklukkan Konstantinopel.”

Akhirnya, Abu Ayyub Al-Anshari dibawa oleh kaum Muslimin ke dekat kota tersebut untuk dimakamkan disana.

Bicara tentang penaklukan atau pembuka Konstantinopel, penaklukkan tersebut berlangsung lama, baik dari jarak antara nubuwat Rasulullah, maupun proses menaklukkannya.
Ya, karena memang, kota itu dilengkapi oleh benteng-benteng tebal nan tinggi, sistem keamanan paling canggih dan modern sehingga memang sulit untuk ditembus. Butuh metode yang cerdas dan brilian agar Kota Konstantinopel dapat ditaklukkan.

Selain itu, letak geografis Konstantinopel diapit oleh Selat Bosphorus, Selat Dardanel, Laut Marmara dan Laut Hitam. Bentuk kotanya berbentuk segitiga, sebelah utaranya ada Golden Horn atau Tanduk Emas yang terhubung dengan Selat Bosphorus. Sehingga, akan menguras tenaga bagi siapapun yang hendak menyerang kota itu.

Sampai-sampai Napoleon Bonaparte mengatakan “Seandainya dunia ini adalah sebuah kota, maka tak perlu diperdebatkan lagi ibu kotanya adalah Konstantinopel.”

Sekelas Beyazid I dan Murad II yang notabene ahli perang, kejeniusannya dalam berstrategi bisa dibilang diatas rata-rata, belum mampu untuk menembus pertahanan Konstantinopel, apalagi komandan-komandan perang lainnya yang kelasnya dibawah mereka baik dari umat Islam maupun dari pasukan-pasukan Eropa sudah pasti tak sanggup mengalahkan Konstantinopel, malah yang ada seluruh pasukannya habis semua.

Lantas, bagaimana Sultan Mehmed II putra Sultan Murad II dapat menembus dan menaklukkan Konstantinopel?

Strategi apa yang digunakan Sultan Mehmed II atau Sultan Muhammad Al-Fatih dalam mengambil alih kota terindah nomor satu di dunia saat itu?

Dan bagaimana perjuangannya mengubah Gereja Hagia Sofia menjadi Masjid Aya Sofia?

Muhammad al-Fatih

Muhammad al-Fatih . Perjalanan Pelajaran Mehmed

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image