Malam itu dingin sekali dan Soki si orang utan sedang tidur dengan ibunya. Mereka sudah berjalan jauh untuk mencari air dan makanan. Musim kemarau panjang dan pemburu liar telah membunuh banyak orang utan dan hanya sedikit yang bertahan hidup. Sebagian besar dari mereka harus mencari makanan dan air di tempat yang berbeda.
Soki masih muda. Dia tidak bisa berbuat banyak tanpa ibunya. Malam itu ibunya hanya berhasil menemukan sedikit makanan hanya untuk Soki. Ibunya sudah lelah dan lemah. Tangan dan kakinya sakit dan melepuh karena terluka oleh jerat manusia. Dia lelah menggendong Soki.
Soki tidak bisa tidur malam itu, dan udara dingin tidak membantu. Dia ingin menolong ibunya.
Ketika pagi tiba, Soki mencoba membangunkan ibunya. Dia pikir karena dingin, ibunya ingin tidur lebih lama.
Dia memanggil, “Ibu, bangun. Matahari sudah terbit. Bangun, Ibu.”
Ibunya tidak menjawab.
Soki mendekat dan mengguncang tubuh ibunya.
“Ibu, bangun. Matahari sudah tinggi di langit.”
Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara kecil memotongnya.
“Dia sudah pergi, Nak.”
Soki melihat sekeliling untuk melihat siapa yang berbicara, tetapi dia tidak melihat siapa pun.
Suara itu terdengar lagi, “dia sudah pergi, Nak. Dia sudah pergi.”
Soki menyadari bahwa suara itu berasal dari tanaman kecil di samping batu tempat ibunya berbaring.
Meski terkejut, tetapi Soki tetap menjawab, “Ibuku tidak pergi, dia ada di sini. Tidak bisakah kamu lihat? Dia ada di sini.”
Soki mencoba mengguncang ibunya lagi.
“Ibu, bangun.”
Tanaman kecil itu menjelaskan kepadanya bahwa pergi berarti telah meninggal dan ibunya tidak akan kembali.
Soki mengguncang tubuh ibunya lebih kuat lagi. Dia menangis begitu lama sehingga matanya sakit. Soki tidak tahu bagaimana dia akan bertahan hidup tanpa ibunya. Tanaman kecil itu membiarkannya menangis dan tidur sejenak.
Ketika bangun, Soki menangis lebih keras lagi.
“Kamu harus menggali lubang dalam dan menguburnya,” kata tanaman itu.
“Bagaimana aku akan melakukannya? Aku terlalu kecil untuk menggali. Aku juga akan meninggal seperti dia. Aku tidak akan bertahan hidup. Aku sangat haus dan lapar,” jawabnya dengan sedih.
Dia berjalan di sekitar batu dan bertanya-tanya apa yang harus dilakukan.
“Aku tidak bisa meninggalkannya di sini. Aku harus menggali. Tidak, aku juga akan mati. Tidak, aku akan menggali cukup dalam untuk menguburnya dan pergi. Oh, apa yang harus kulakukan?’’
Soki duduk sejenak.
Tanaman kecil itu terus menyuruhnya untuk menggali sebelum hari gelap. Akhirnya, Soki mulai menggali. Tanahnya tidak sekeras yang dia duga.
Soki terus menggali.
“Aku bisa melakukan ini,” katanya pada dirinya sendiri.
Dirinya lemah dan lapar. Tepat ketika dia akan menyerah, Soki tidak bisa mempercayai matanya.
Dia menggali lagi.
“Air!”
Soki melompat dan berteriak, “Air!”
Dia tertawa terbahak-bahak dan minum air dari lubang itu.
Soki sangat gembira. Air matanya mengalir karena gembir. Dia mengucapkan terima kasih kepada tanaman kecil. Tanaman itu meminta sedikit air, dan Soki memberikan air pada tanaman itu. Dan keajaiban terjadi. Tanaman itu tumbuh tinggi menjadi pohon pisang raksasa.
Soki belum pernah melihat pohon sebesar itu seumur hidupnya.
Air mulai menggenang dan tanaman lain mulai tumbuh. Air itu membawa ibunya. Dia mencoba menghentikannya agar tidak hanyut terbawa arus.
Dengan suara lantang, tanaman itu berkata kepadanya, “Lepaskan ibumu. Dia akan menjagamu di mana pun dia berada. Biarkan dia beristirahat dan berbahagia untukmu.”
“Selamat jalan, Ibu,” kata Soki.
Pohon raksasa itu mulai menghasilkan buah pisang untuk dimakannya. Karena pohon itu sangat besar dan terus menerus mengeluarkan pisang, hewan-hewan dengan berbagai ukuran dan jenis mulai bermunculan.
Soki mengenali beberapa orang utan dari kelompoknya, dan mereka berpelukan, hidup bahagia selamanya.
Cikarang, 23 April 2025











