Muhammad Al-Fatih adalah satu dari sekian pemimpin yang memiliki keistimewaan. Bukan dari karakter bawaan dan bukan pula dari sifat yang ia miliki. Melainkan dari apa yang ia pelajari.
Pelajaran pertama Muhammad Al-Fatih yaitu dari ayahnya, Sultan Murad II. Ayahnya mencarikan guru-guru yang handal, salah satunya adalah Syeikh Ahmad Qur’ani atau dalam dialek Turki adalah Syeikh Ahmet Gurani.
Pada masa kecil, Muhammad Al-Fatih adalah seorang anak yang bandel. Sampai-sampai Syeikh Ahmad Qur’ani bergumam:
“Anak ini ternyata susah diatur.”
Lalu, Syeikh menghadap kepada Sultan Murad II, dan berkata,
“Sultan, bolehkah aku mendidik Mehmed dengan caraku sendiri?”
Sultan Murad II menjawab, “Oh, tentu saja, Syeikh.”
Maka, pada jam pelajaran Al-Qur’an, syeikh memanggil Mehmed kecil. Syeikh sudah membawa sebilah kayu.
“Mehmed, kemarilah, ayo kemari,” ucap syeikh.
Mehmed kecil pun menghampiri Syeikh Ahmad Qur’ani. Tanpa pikir panjang dan tanpa alasan, Syeikh Ahmad Qur’ani langsung memukul betis Mehmed dengan keras. Mehmed pun meraung kesakitan sambil bertanya:
“Mengapa engkau memukulku, Syeikh?”
Syeikh pun menjawab:
“Dengan izin Sultan, mulai saat ini, aku akan mendidikmu dengan tegas.”
Dari situ, Mehmed kecil mentalnya down. Ia tak lagi mengkritik guru-guru yang mengajar di Istana Edirne dan menjadi anak yang patuh terhadap syeikhnya.
Dengan didikan Syeikh Ahmad Qur’ani, Mehmed, sudah hafiz qur’an pada umur 8 tahun.
Ada yang menarik di dalam istana, yaitu, hampir seluruh penghuni istana, terheran-heran kepada Syeikh Ahmad Qur’ani. Sebab ia mampu mengendalikan Mehmed kecil disaat semua orang tak mampu melakukannya.
Sampai-sampai di lingkungan harem¹ pun menjadi bahan perbincangan.
Mehmed yang Visioner
Setelah pelajaran adab matang melalui didikan Syeikh Ahmad Qur’ani, Sultan Murad II meminta tolong kepada Syeikh Aaq Samsedin untuk mendidik kepribadian dan mentalnya.
Syeikh Aaq Samsedin, adalah satu dari ulama yang spesial karena menguasai banyak bidang ilmu. Dari ilmu astronomi, kedokteran, politik hingga parenting anak, sudah dikuasai dengan baik oleh Syeikh Aaq Samsedin.
Suatu ketika, Mehmed kecil diajak oleh Syeikh Aaq Samsedin ke sebuah bukit yang berhadapan jauh dengan Kota Konstantinopel. Dari bukit tersebut, terlihat samar dan kecil Kota Konstantinopel itu di mata Mehmed dan Syeikh.
“Lihatlah benteng kota itu dari sini, Mehmed. Seberapa besar kota itu di matamu?” tanya Syeikh.
“Kota itu terlihat kecil, Syeikh,” jawab Mehmed kecil.
“Seberapa kuat benteng kota itu, Mehmed?”
“Sangat kuat, syeikh.”
“Kenapa belum ada yang dapat menaklukan kota itu, Mehmed?”
Mehmed kecil termenung dalam waktu yang lama. Ia tidak tahu jawabannya, namun tetap mencari jawaban atas pertanyaan Syeikh dengan berpikir keras.
“Kemarilah Mehmed, mari kita duduk di ujung sana,” ajak Syeikh sambil menepuk pundak Mehmed.
“Apa tujuan ayah dan nenek moyangmu ingin menaklukan Konstantinopel?”
“Untuk berjihad di jalan Allah.” Jawab Mehmed.
“Setelah itu?”
“Untuk mendapat rida-Nya.”
“Setelah itu?”
“Untuk mendapatkan surga-Nya.”
“Setelah itu?”
“Sudah, Syeikh,” akhir dari jawaban Mehmed.
“Belum, Mehmed.”
“Apakah jawabanku salah, Syeikh?” tanya Mehmed penasaran.
“Jawabanmu tidak ada yang salah, Mehmed. Melainkan ada yang terlewat,” sambung Syeikh Aaq Samsedin.
“Apa yang terlewat, Syeikh?” tanya Mehmed lagi dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya.
Lalu, Syeikh Aaq Samsedin mengutip sebuah ayat:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا کُونُواقَوَّامِيْنَ لِلَّهِ شُهَدَاءَبِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِ مَنَّکُم شَنَآ نُ قَوْمٍ عَلَى اَلاَّتَعْدِلُو اِعْدِلُواهُوَأَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَتَّقُواللَّهَ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تٕعْلَمُونَ. (اَلْمَائِدَه:٨)
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maidah:8)
Lalu, Syeikh Aaq Samsedin mengutip satu ayat lagi:
لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْز
(اَلْحَدِيْد:٢٥)
“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Al-Hadid:25)
“Apa yang engkau dapat dari kedua ayat tersebut, Mehmed?” tanya syeikh.
“Keduanya menekankan keadilan, Syeikh,” jawab Mehmed.
“Itulah yang ayah dan nenek moyangmu ingin lakukan di Kota Konstantinopel itu, Mehmed,” sambung Syeikh Aaq Samsedin.
“Lalu, kenapa ayah dan nenek moyangku tidak mampu menaklukan kota itu, Syeikh?” tanya Mehmed.
“Karena mereka belum seperti yang dinubuwatkan oleh nabi kita Muhammad SAW.”
“Lantas, orang seperti apa yang cocok dengan nubuwat nabi kita, syeikh?” tanya Mehmed lagi.
Mehmed kecil, sudah menunjukkan kecerdasannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis.
“Yaitu orang-orang yang kuat dalam memegang teguh Kızılelma!” jawab Syeikh Aaq Samsedin tegas.
Apa itu Kızılelma?
Dari perkataan Syeikh Aaq Samsedin perihal Kızılelma inilah yang membuat pandangan Mehmed kepada Kota Konstantinopel dengan penuh gelora sejak itu, yaitu pada umur 8 tahun, dimana Al-Qur’an sudah ia hafal 30 juz.
Keduanya, yaitu Syeikh Aaq Samsedin dan Mehmed kecil saling berpandangan membelah Kota Konstantinopel yang berada jauh disana. Tatapan syeikh memberi kekuatan bagi jiwa Mehmed kecil, meski Mehmed belum sepenuhnya memahami apa yang dimaksud oleh syeikh-nya itu.










2 Komentar
Mantap, Bang Alan 🔥
Baru belajar, Kak Juni 😁🙏