Provinsi Giza, Mesir
“Ibu, Ibu …!” Hamzah berlari berteriak kegirangan dari luar. Di tangannya ada sesuatu yang harus segera ia sampaikan kepada ibunya. Sesuatu yang menjadi penentu masa depan yang selama ini ia perjuangkan di bangku sekolah.
Sumayya tengah membersihkan ruangan, menghentikan sejenak kegiatannya dan sedikit heran melihat putranya yang baru saja pulang sekolah, berteriak-teriak memanggilnya.
“Ada apa, Nak? Mengapa kau berteriak-teriak?”
Hamzah menarik tangan ibunya dan mengajak duduk. “Lihatlah ini, Ibu,” katanya sambil menyerahkan surat tanda kelulusannya. Sumayya membaca dan sangat bahagia, putranya lulus dengan nilai terbaik dan tertinggi di sekolahnya.
“Ada lagi, Ibu. Aku tidak berani membukanya karena ini amanat dari Kepala Sekolah. Hanya Ibu yang boleh membukanya,” ucap Hamzah seraya menyerahkan dokumen lain yang ada dalam amplop.
Sumayya membuka perlahan. “Bismillaahirrahmaanirrahiim,” ucapnya setenang mungkin. Dibukanya perlahan dengan penuh penasaran. Jantungnya berdegup kencang. Perlahan-lahan ia baca dengan saksama. Air matanya kian deras mengalir.
“Ada apa, Ibu? Apakah itu bertolak belakang dengan hasil dari sekolah?” Hamzah bertanya keheranan.
“Tidak, Nak. Tidak sama sekali,” jawab Sumayya. “Justru sebaliknya. Lihatlah ini!” Sumayya menyodorkan kertas itu kepada putranya, sementara dia menyeka air matanya yang masih membanjir tak terbendung.
Hamzah membacanya perlahan. Terlihat binar bahagia dari wajah Hamzah yang diiringi air mata.
“Allahu Akbar. Alhamdulillah.” Hamzah sujud syukur diikuti sang ibu. Remaja pria itu memperpanjang sujudnya. Tubuhnya terguncang bersama tangisan kebahagiaan yang kini dirasakannya.
“Ibu sangat bangga padamu, Nak. Hasil perjuangan dan kerja kerasmu selama ini sudah terbayarkan. Kini kau sendiri yang harus menentukan jalanmu.” Sumayya memeluk Hamzah dengan erat. Ada haru menyusup rongga dadanya bersama kebahagiaan membuncah.
“Andai saja ayahmu masih ada, pasti dia akan sangat bangga dan bahagia melihatmu begini,” imbuh Sumayya. Tangis Sumayya kembali pecah. Hamzah merasakan perpaduan kesedihan dan kebahagiaan lebur menjadi satu. Direnggangkannya pelukan sang ibu. Ia menatap wajah wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.
“Aku akan bekerja keras untuk menggapai mimpi-mimpiku, Bu. Hanya doa dan restu Ibu yang kupinta, semoga Allah senantiasa memudahkan jalan kita.”
“Amin. Insya Allah, Nak. Allah selalu memudahkan kita asal kita juga mau berusaha.”
“Nanti sore aku akan ziarah ke makam ayah.”
“Ya, tentu saja, Nak. Ayahmu di sana pasti sangat bahagia melihatmu saat ini.”
Sore itu, Hamzah mengunjungi makam ayahnya. Dia berpamitan usia membaca doa di samping makam.
“Ayah, aku akan pergi ke Kairo mengejar cita-cita dan impianku, ingin membahagiakan Ibu dan juga adikku. Aku berjanji pada diriku akan bekerja keras dan sungguh-sungguh, Ayah. Aku yakin, Ayah pasti bahagia di sana.”
Air mata Hamzah berlinang. Hatinya terasa berat. Namun, semua yang ia lakukan demi cita-cita. Ia beranjak dari tempat itu. Kenangan-kenangan bersama ayahnya muncul satu per satu.
“Aku tidak menyangka jika kau akan pergi secepat ini, di saat kita akan kembali bahagia dengan anak yang ada dalam kandunganku.”
“Ibu … Jangan menangis lagi. Aku kelak yang akan membahagiakanmu. Percayalah, Bu.”
Dia tak menjawab. Dipeluknya erat sang anak dengan perasaan hancur. Suaminya tiada karena kecelakaan kerja yang mengakibatkan dia kehilangan nyawa.
Satu per satu, pengantar meninggalkan tempat peristirahatan terakhir suaminya. Tak jauh dari tempatnya berada, seorang pria datang bersama seorang wanita dan anaknya mendekat ke arah mereka.
“Maafkan kami, Nyonya. Kami tidak tahu jika keadaannya akan seperti ini,” ucap pria itu dengan wajah penuh sesal.
Wanita itu merenggangkan pelukannya dan mendongak. Matanya kian sembab, sementara anaknya masih saja mengusap air mata ibunya.
“Tuan, ini sudah takdir. Saya tidak menyesalinya, tapi saya bersedih karena__”
Dia tidak melanjutkan ucapannya karena air matanya kembali berderai. Merasakan kepedihan yang tengah dirasakan.
“Kami paham, Nyonya. Maafkan kami. Mari kita bicarakan di rumah Anda saja,” ajak istri pria itu.
“Sebaiknya kalian ikut di mobil kami agar cepat. Ayo, Nak, ajak ibumu ke mobil!” titah pria itu.
“Siapa namamu?” imbuhnya.
“Hamzah,” jawabnya ringan.
“Baiklah, Hamzah. Sekarang kita ke rumahmu.”
Pria itu tersenyum . Sumayya bangkit dibantu putra kecilnya. Tangan Hamzah kecil yang kurus menggandeng tangan ibunya menuju mobil pria itu. Sopir pribadi membukakan pintu untuk mereka.
Sumayya dan istri Omar duduk di tengah, sementara kedua anak kecil duduk di belakang. Usia mereka sebaya.
“Ini untukmu.”
Gadis kecil yang duduk di belakang bersama Hamzah menyodorkan kue kepadanya agar mau mengambilnya. Hamzah menggeleng. Ia segan.
“Ayolah, jangan malu!”
Dia terus memaksa Hamzah hingga akhirnya bocah laki-laki itu menerima. Mereka tersenyum dan makan kue itu bersama dan sesekali diringi tawa ringan.
***
Hamzah menyeka air matanya. Dia ingat semua itu, saat sang ayah kembali menghadapNya. Dia masih sangat kecil untuk memahami arti perpisahan dan ditinggal oleh sang ayah. Hanya beberapa tahun saja ia hidup bersamanya. Kini, Sang Pemilik sudah mengambilnya. Sumayya merasakan bagaimana beratnya hidup membesarkan anak-anak tanpa suaminya. Darah dan air mata adalah teman setia yang senantiasa mengiringi setiap langkah perjalanannya.
Meski begitu, Sumayya terus mendorong putranya agar tidak mudah menyerah, meskipun hidup mereka begitu berat dan tak mudah menjalaninya. Seringkali, ia harus tidur hingga larut malam mengerjakan beberapa pesanan rajutan dari beberapa orang.
Ayahnya pernah berkata, “Kelak kau akan menjadi salah satu orang yang berpengaruh di sini, Nak. Jangan takut pada apapun, kecuali takutlah pada Allah.”
Kata-kata itu masih terngiang di benak Hamzah. Sayangnya, kebersamaan mereka hanya sementara. Ayahnya tiada saat usianya baru mau memasuki usia tujuh tahun
Remaja itu terus berjalan menuju rumahnya. Dari jauh, ia melihat beberapa anak tengah bermain sepak bola di balik pohon-pohon palem yang terus melambaikan daun-daunnya. Anak-anak itu tertawa dengan riang dan mengajak Hamzah bermain.
Beberapa hari kemudian, Hamzah dan bersiap-siap menuju Kairo. Dia diterima di salah satu universitas negeri di sana dan mengambil jurusan ilmu arsitektur, karena terinspirasi dari bangunan-bangunan bersejarah dari masa purbakala yang ada di tanah kelahirannya, Giza. Lebih tepatnya, Hamzah tinggal di pelosok kampung di salah satu distrik di Provinsi Giza.
Di pikirannya terlintas, bagaimana dia akan memadukan konsep dari masa lampau dan masa kini yang berharga bagi masyarakat banyak di negaranya. Dan, andai mungkin suatu saat nanti, salah satu karyanya bisa mendunia.
“Aku minta doa restu kalian semua,” ucap Hamzah berpamitan dengan berat hati, menahan air mata yang hampir tumpah.
“Doaku selalu bersamamu, Nak.” Sumayya berlinang air mata. Putranya akan berjuang demi cita-cita yang ingin ia gapai. Ia memeluk putrinya, Nabila, yang juga menitikkan air mata.
Gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu memeluk erat kakaknya, tak ingin terpisah. Nabila menangis di pelukan kakaknya.
“Nanti tidak ada yang menemaniku belajar lagi,” ucap Nabila sambil terisak.
“Kau sudah besar. Dan kau bisa belajar sendiri, Nabila. Kau gadis cerdas. Pasti bisa!” Hamzah menyemangati adiknya.
“Tapi tidak akan sama, Kak. Hanya Kakak yang bisa mengerti aku.”
“Jangan bilang begitu. Aku hanya membantumu. Selebihnya itu usahamu sendiri. Jangan menyerah, ya. Tetap optimis dan berdoa minta pada Allah,” hiburnya pada sang adik.
Ia lantas berpamitan pada ibunya,“Ibu, aku pergi dulu. Aku takkan pernah melupakan pesan dan nasehat Ibu.” Dia mencium tangan ibunya dan memeluknya.
“Berhati-hatilah, Nak. Libatkan selalu Allah di setiap usaha dan langkahmu. Agar hidupmu diberkahi banyak kemudahan.” tutur ibunya bijak.
“Pasti, Ibu.” Ia merenggangkan pelukan dari ibunya dan berpamitan pula kepada yang lain. Lalu menuju mobil yang sudah menunggunya.
Hamzah masuk ke dalam mobil yang telah menunggu. Ia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Mobil itu meluncur keluar dari kampungnya menuju Kairo. Ibu kota negara di mana ia akan berjuang demi menggapai impian dan cita-citanya.
Sepanjang perjalanan ia banyak bercerita dengan sopir mobil yang dulunya juga pernah bekerja sebagai sopir di salah satu universitas negeri di sana.
“Aku sangat bangga denganmu, Hamzah. Kau adalah pemuda tercerdas di kampung kita,” puji Fuad, pengemudi mobil yang juga tetangganya.
“Paman bisa saja.”
“Aku yakin kau pasti akan sukses, Hamzah. Dari kecil tekadmu sudah kuat menjadi orang maju. Aku sangat yakin itu.”
“Terima kasih atas dukungannya, Paman Fuad.”
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, tibalah mereka di Kairo, ibu kota negara yang memiliki banyak sejarah dan peradaban dari masa lalu. Hamzah kagum melihat bangunan-bangunan yang menghias kota ini. Terlihat modern dengan balutan perpaduan Arab dan Mesir Kuno.
Kairo adalah salah satu kota terbesar di dunia Arab. Di sini banyak peninggalan-peninggalan Islam yang masih kokoh berdiri, seperti Benteng Kairo. serta universitas tertua di dunia yaitu Al-Azhar yang sangat terkenal.
Fuad juga mencarikan tempat tinggal untuk Hamzah selama di Kairo. Dia memiliki kerabat yang menyewakan beberapa tempat tinggal untuk mahasiswa yang berasal dari luar kota.
“Jangan terlalu kau pikirkan sewa tempat tinggalmu. Aku yang akan mengurusnya,” kata Fuad.
“Terima kasih, Paman.”
“Baiklah. Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Jangan menyerah dan sukses selalu,” Fuad menyemangatinya.
“Sekali lagi terima kasih, Paman.”
Hamzah kini sendiri. Dibersihkannya tempat tinggalnya dan beristirahat. Lusa adalah hari pertamanya masuk kampus. Ia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.
Mudahkanlah urusanku dan teguhkanlah hatiku, Ya Allah. Agar aku bisa membahagiakan keluargaku. Aku ingin membuat ibuku tersenyum bahagia.











Satu Komentar
Petualangan baru akan dimulai 🔥