Di dalam taksi, selama perjalanan Shanti tidak mengatakan sepatah kata pun. Ghea lega, karena dia masih terguncang oleh mimpinya, selain karena kelelahan.
Sekitar pukul enam pagi, Ghea dan Shanti sampai ke tempat Mama Sitrun.
Shanti menekan bel dan pintu segera dibuka. Seorang perempuan muda tak lebih dari tiga puluh tahun memakai kaus oversize berwarna dusty pink. Rambutnya hitam bergelombang, tinggi, bibir sensual dan di dadanya tertulis, “LIHAT KE ATAS, JANGAN KESUSU”. Ghea menahan tawa membacanya.
“Hai!” perempuan itu tersenyum pada mereka.
“Mama Sitrun!” sorak Shanti penuh semangat dan mereka saling berpelukan.
Jidat Ghea berkerut. Ini yang namanya Mama Sitrun?
Ini untuk pertama kalinya Ghea bertemu dukun perempuan itu. Dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana Shanti bisa mengenalnya, tetapi dia memutuskan untuk tidak menanyakan langsung.
Dia membayangkan paranormal itu sebagai dukun penyihir tua, berjalan dengan tongkat dari galih pohon jati, punggung bongkok dan hidung bengkok asimetris. Namun paras perempuan di depannya itu sangat cantik dengan kulitnya kuning mulus tanpa riasan. Alami, tidak tampak tanda-tanda perawatan dengan serum atau ….
Ghea teringat Shanti mengatakan bahwa Mama Sitrun bukan dukun.
“Shanti, temanmu menatapku.” Mama Sitrun berkata dan Shanti menyikut rusuk Ghea sehingga gadis itu tersipu malu.
“Dia belum pernah bertemu paranormal sebelumnya dan aku yakin dia nggak nyangka kamu secantik ini.”
Rona wajah Ghea memerah bagai lobster rebus, tapi dia memilih untuk tidak berkomentar, hanya tersenyum pada Mama Sitrun yang memegang tangannya dengan hangat. Senyumnya berhasil membuat Ghea rileks.
“Aku senang bertemu denganmu, Ghea,” ucapnya hangat.
“Aku juga.”
***
Apartemen Mama Sitrun tidak terlalu besar, tetapi perabotannya lengkap. Nuansa merah jambu ada di mana-mana. Rosewood pada sofa, wallpaper blush pink, gipsum plafon dicat magneta. TV 42” sedang menampilkan saluran CNN yang kemudian dimatikan dan Mama Sitrun dengan cepat bergegas ke meja sudut dan mengangkat nampan berisi tiga cangkir kopi yang uapnya menyebarkan aroma yang menggoda.
“Oh! Tahu aja kalau kita belum sarapan!” Shanti berkata sambil mengambil dua cangkir dan menyodorkan satu ke Ghea. Saat mereka bertiga duduk di sofa, seekor kucing persia hidung pesek mungil yang lucu berbulu pale pink masuk. Ghea hampir tertawa. Mama Sitrun tidak memelihara kucing hitam.
Fix dia bukan penyihir. Wow! Aku menyukai perempuan ini.
“Oh, Pinky Winky, sini,” Mama Sitrun memanggil anak kucing itu dan menggendongnya di pangkuannya.
“Dia cantik,” kata Ghea tak bisa menahan diri untuk tetap membisu.
“Iya” jawab Mama Sitrun bangga, “Baru berusia dua bulan, hadiah dari klien.”
“Wow!” koor Shanti dan Ghea. Mendengar kata ‘klien’, Ghea teringat bahwa dia datang tanpa membawa dompet. Shanti telah membayar ongkos taksi mereka. Praktis mereka datang dengan tangan kosong.
Semoga Shanti sudah membayar di depan. Toh, dia yang merencanakan ini.
“Ceritakan tentang mimpimu,” kata Shanti ke Ghea.
“Aku tidak ingat semuanya, cuma mimpi yang semalam.” “Katakan saja apa yang kamu ingat, terutama yang selalu muncul di semua mimpimu.”
Ghea menyesap kopi sedikit sebelum menjawab.
“Ada laki-laki yang selalu ada dalam mimpiku. Aku hanya melihatnya dari belakang, tidak pernah sekali pun wajah aslinya. Aku juga selalu melihat diriku berada di lapangan yang ditinggalkan, atau bangunan tua terlantar, atau labirin …. “
“Bagaimana perasaanmu dalam setiap mimpi?”
“Ditinggalkan, tersesat, kebingungan, ketakutan.”
Mama Sitrun menghela napas dalam-dalam dan berpikir sejenak. “Yang mana yang paling membuatmu takut?” Dia bertanya.
“Mimpi semalam,” Ghea menjawab, lalu menceritakan secara detil mimpinya sementara Mama Sitrun mendengarkan.
“Dia berteriak kenceng banget. Aku jadi takut, makanya kutelepon Mama,” ucap Shanti setelah Ghea selesai bercerita.
“Aku akan segera kembali” kata Mama Sitrun dan mengangkat Pinky Winky dengan lembut dan berjalan menuju kamar tidur.
“Dia menyenangkan, kan?” Shanti bertanya sambil tersenyum sombong. Ghea balas tersenyum.
“Dia tampak baik.”
“Masih berpikir bahwa dia dukun seperti dalam sinetron? Dia punya bakat khusus membaca masa depan dan menafsirkan mimpi,” kata Shanti.
“Iya, deh. Aku percaya, say,” Ghea menjawab, mengakui sepenuhnya, membuat sahabatnya senang dan mengedipkan mata padanya.
Mama Sitrun kembali dan meletakkan anak kucing itu dengan hati-hati di atas karpet lantai. Lalu meletakkan sekotak kartu di atas meja dan duduk di sofa, satu kaki di lantai sementara yang lainnya bersila di sofa.
Cenayang muda itu menyebarkan kartu tertutup menghadap Ghea. “Pilih satu.”
Ghea bertukar pandang dengan Shanti dan mengulurkan tangannya.
***
Ghea tidak masuk kerja hari itu, galau tentang perubahan dalam hidup. Dia menghabiskan sepanjang hari untuk mereview setiap momen dalam hidupnya. Sejak dari panti asuhan ke panti asuhan hingga sekarang. Alasannya lari dari panti asuhan ke panti asuhan yang lain adalah untuk mencari sesuatu. Dia selalu tahu bahwa ada lebih dari sekadar menjalani kehidupan. Ghea selalu mencari sesuatu meskipun dia tak pernah tahu apa itu. Semacam perasaan ketika mencoba mengingat sesuatu yang terlupakan dan sepanjang waktu tak tenang karena masih tidak dapat mengingat. Setelah ingatan itu kembali, semuanya tampak masuk akal dan tepat terletak di tempatnya.
Ghea tidak mendapat perasaan itu. Tidak ada yang masuk akal meskipun semuanya tampak benar, namun sangat tidak pada tempatnya. Sepanjang hidupnya, dia telah menjalani hidup dengan menerima setiap hal buruk yang terjadi padanya, seolah-olah dia layak mendapatkannya.
Tidak memiliki orang tua tidak pernah mengganggunya, kekasihnya selingkuh tidak juga membuatnya kesal. Hal-hal buruk yang telah terjadi padanya diterimanya dengan lapang dada. Seolah-seolah itu adalah bagian dirinya, seakan-akan dia telah melakukan sesuatu sehingga pantas mendapatkannya.
Kembali ke masa lalu tampak seperti dongeng, sesuatu seperti kisah kumbang yang malang. Tapi mustahil manusia di era milenial masih percaya pada dongeng!
“Ke mana semua peralatan makan?”
Dia menoleh. Shanti baru datang beberapa menit lalu dari kerja.
Ghea telah menghabiskan hari mengemasi segala sesuatu yang akan membuat dia melihat bayangannya. Cermin, panci stainless, bahkan sendok garpu. Saat ini, dia tak berani melihat bayangannya sendiri. Melihat dirinya dalam cermin seperti mengalami mimpi aneh. Dia tidak ingin mengalaminya lagi. “Aku menyimpannya,” jawabnya datar, kembali membaca novel yang dibacanya hanya untuk mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain.
Shanti tidak mengatakan apa-apa. Dia memegang nasi bungkus dan jelas membutuhkan sendok, tetapi Ghea pura-pura tak melihat.
“Kurasa aku akan makan dengan tangan kalau begitu,” kata Shanti, lebih pada dirinya sendiri, bergabung dengan Ghea di tempat tidur. “Jojo nanyain aku, nggak?” Ghea bertanya Shanti mengangguk. “Aku bilang kamu PMS.” Ghea terkikik, managernya selalu percaya dengan alasan itu.
“Apakah Mama Sitrun menelepon?” dia bertanya dengan suara serak. Shanti mengangkat bahu. “Ngapain? Kecuali kamu yang minta.”
Ghea terdiam, menggigit bibir bawahnya.
“Sejak kenal kamu, yang aku tahu kamu tidak pernah takut sama apa pun, sampai sekarang.” Shanti memegang tangan Ghea, suaranya menenangkan. Jernih dan sejuk seperti hari setelah hujan. “Aku tahu kamu sangat mampu melakukan apa pun. Aku tahu kebiasaanmu menatap cermin dua puluh empat jam sehari semalam kecuali ada yang menyela lamunanmu. Aku telah melihat sorot matamu setiap kali kamu ngaca. Aku udah melihat cara kamu memandang diri sendiri dalam setiap fotomu dan bagaimana kamu menghindar dari berfoto. Kamu melihat dirimu seolah-olah kamu tidak mengenalinya, seolah-olah kamu sedang melihat orang lain. Itu membuatku takut karena kadang-kadang kupikir kamu udah gila. Aku mengerti bahwa apa yang dikatakan Mama Sitrun mungkin terdengar tak masuk akal, tetapi percayalah padanya. Dia adalah temanku juga, sama seperti kamu, Say. Seseorang seperti dia sangat jarang ada dan dia telah membantu begitu orang. Bahwa kamu tidak mengerti apa yang dia maksud bukan berarti kamu tidak bisa mempercayainya. Percayalah, jika itu terserah padaku, aku akan melakukan sesuatu, tetapi semuanya tergantung padamu. Semua mimpimu itu adalah bukan hanya sekadar mimpi. Kamu telah menghadapi banyak masalah dalam hidupmu. Aku tahu pasti aasan untuk itu.”
Shanti meremas tangan Ghea, dan melanjutkan kata-katanya, “Aku tahu kamu ingin mencari sendiri jawaban dari semua masalahmu. Aku tahu kamu takut. Aku juga. Tapi kenapa kamu tidak mengizinkan aku membantumu lewat Mama Sitrun, dan kita lihat nanti apa yang terjadi?”











Satu Komentar
Santi sangat care dan Mama Sitrun merupakan sosok penuh misteri. Ghea, lawan ketakutanmu!