Home / Genre / Petualangan / Bulan Gelap dan Bintang Terang

Bulan Gelap dan Bintang Terang

Bulan Gelap dan Bintang Terang
1

Pertama kali Bulan Gelap melihatnya berupa bayangan sekilas di langit. 

Dan Bulan Gelap merosot duduk diam di depan pintu liang gua. Awalnya sempat ragu-ragu, tapi kemudian dia melompat menjejak mendaki tebing untuk mengejar. Lembing-lembing kayu bermata batu runcing menghilang segera setelah dilontarkan.

Bulan Gelap dan Bintang Terang melesat berkejaran melintasi tudung hutan yang merenungi malam.

Bulan Gelap berhasil menyusul Bintang Terang. Menyatu berputar-putar di lantai hutan hujan, menari dalam gairah nada denting dawai jagat raya. Bahkan udara malam yang sejuk bagai  memainkan orkes simfoni musik rahasia, saat bayang-bayang mereka melayang naik memanjat cemara purba … untuk akhirnya diam terengah-engah mengatur kandungan udara di paru-paru.

Musik berakhir. Bulan Gelap menanti saat Bintang mencondongkan tubuh ke depan, mengantisipasi. Dia membeku di ujung dahan tertinggi menatap rasi Komodo. Berbalik dan menatap lurus ke arahnya dari sisi lain. Diam. 

Napas tertahan, detak jantung berhenti. Satu hentakan pun tak terlewatkan. Mata hijau gelap tak terbaca seperti juga parut luka sengaja yang menggores wajah. 

Bilah tajam menusuk di tubuhnya yang lentur. 

Lalu dia pergi sebagai kilas tengah malam, meninggalkan misteri. Seulas senyum tipis dan saat berikutnya dahan kosong tak berpenghuni. 

Para pembunuh telah pergi dan hanya Bulan Gelap dan Bintang Terang tahu apa yang terjadi malam itu. 

*** 

Di kehidupan lain, Bulan Gelap melihat Bintang Terang di bawah matahari tengah hari. Lelaki trengginas berjalan menyeberang jalan setapak menyusur pematang ladang. Rambut hitam tertutup caping tertiup angin saat mata hijaunya yang gelap bersinar di sekelilingnya. 

Bintang Terang menjentikkan jemari dan menangkap pedang yang meluncur terbang langsung menuju jantungnya yang berdetak kencang. Trinil sudah pergi saat dia menelisik sekeliling jalan. Hanya pedang dingin yang masih di tangan dengan lontar kecil yang melilit. Pesan yang tertulis dalam pesan itu hanyalah sebuah alamat, tempat dia berhenti dan menanti. 

Ragu-ragu sesaat—senyuman menari di wajahnya—sebelum melesat dari pandangan, mewujud bayang-bayang. 

Bukan bilahnya, tapi pesan yang menemukan tanda berdetak di dada. Sinar matahari dan semua makhluknya tidak menyadari apa yang baru saja terjadi, tetapi tanah perdikan itu tersenyum menunggu matahari yang terik melelahkan berlalu. Yang selalu terjadi sejak dulu kala. 

Di lembah tanah perdikan, akhirnya Bulan Gelap berpadu dengan Bintang Terang. 

Musik rahasia para pembunuh bergaung di udara malam yang sejuk. Dan, untuk saat yang singkat, dua bayangan sekilas bertemu di ceruk sepi langit malam. Tanah perdikan tersenyum saat Bulan Gelap melihat ke bawah dengan geli. Bintang Terang berkelip-kelip menyenandungkan tembang kekasih. Dan kemudian mereka pergi, dua sosok di tengah malam yang terbungkus kisah misteri.

*** 

Berbilang abad kemudian, setelah badai dan banjir besar melanda Kota Raksasa dan awan yang mengerikan menutupi Bulan Gelap dan Bintang Terang selama berminggu-minggu, seorang lelaki biasa naik ke atap rumahnya. 

Di bawah terik matahari, dia memanjat tangga lipat aluminium, membawa peralatan tukang untuk memperbaiki atap yang bocor. Seorang tukang yang jujur  memiliki pengharapan yang sederhana. Dia mengharapkan upah kerja halal dari hari-hari yang berat di bawah terik matahari. Dia mendapatkan najis dan kotoran saat memperbaiki kerusakan sebab badai dan hujan lebat yang membawa luka Kota Raksasa. Dia mengharapkan banyak hal biasa, seperti kebanyakan orang biasa umumnya. 

Yang dia temukan adalah dua bilah pedang, masih setajam seperti saat sepasang kekasih meninggalkannya. Jauh di bukit persimpangan, mereka terkubur jauh ke dalam apa yang selalu dianggap sebagai sebagai tudung rimbanya, tanah perdikannya, dan kini kotanya sendiri. 

Berdiri di sana menatap mereka, dia sekilas melihat dunia yang jauh dari sinar matahari yang menari dengan musik rahasia yang tidak akan pernah dia dengar. Namun, sisa dunia ini akan selamanya menjadi dua sosok di tengah malam yang terbungkus dalam kisah misteri.

Misteri yang hanya diketahui oleh Bulan Gelap dan Bintang Terang.

Cakung, 12 Maret 2021

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image