Home / Genre / Chicklit / 4. Bayangan dalam Cermin

4. Bayangan dalam Cermin

MERAJUT MASA SILAM
1
This entry is part 6 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Ghea memejamkan mata, bibirnya bergetar. 

“Shanti, ini gila. Kamu nggak ngerti.” Dia berdiri. “Ini seperti film, kamu tahu? Bukannya aku pergi ke Bandung, atau Singapura, atau Planet Mars … aku kembali ke masa lalu! Waktu! Pernahkah kamu mendengar ada orang yang mengalaminya seperti aku?”

Shanti tersenyum dan kembali meraih tangan Ghea. “Aku tahu kamu menganggapku bodoh, Ghe. Tapi apa salahnya mencoba? Siapa tahu berhasil. Bagaimana jika berhasil?” 

Ghea menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk. “Bagaimana aku bisa kembali ke masa lalu?” 

“Kata Mama Sitrun, kamu hanya perlu mempersiapkan pikiran dan jiwamu. Begitu kamu siap, itu akan berhasil. Kita masih akan mendiskusikan hal-hal lain dengannya, tetapi kamu harus menerima dan percaya dulu. Bisa, kan?” 

Ghea mendesah. “Nggak.”

“Bisakah kamu melakukannya untukku? Kamu nggak capek dikejar mimpi buruk tiap malam? Kamu ketakutan melihat cermin, ketakutan melihat dirimu sendiri? Kalau mau menjalani hidup yang lebih baik, kamu harus menerima siapa dirimu sendiri terlebih dahulu dan berjuang untuk diri sendiri. Selama ini kamu tegar menjalani hidup, Ghe. Mengapa sekarang harus takut? Sama diri sendiri? Kamu nggak pingin tahu mengapa?” 

Kata-kata Shanti menyentuh lubuk hati Ghea. Dia butuh jawaban. Dia perlu tahu mengapa segalanya begitu berbeda dengan dirinya sebelumnya. 

“Aku ingin.” Ghea berkata dengan tenang. 

“Ketika pertama kali aku sampai di kota ini, aku bertemu Sitrun di sebuah pesta. Hal pertama yang dia katakan kepadaku adalah bahwa aku akan bertemu dengan seorang gadis yang akan menjadi sahabatku dan saudaraku, dan aku harus bersedia menghabiskan waktuku untuk membantunya membuat keputusan yang mungkin melibatkan masa depan dan masa lalunya.” Shanti tersenyum melihat Ghea terhenyak.

“Aku nggak tahu kalau yang dimaksud adalah kamu. Kita bertemu keesokan harinya di restoran waktu aku melamar pekerjaan sebagai pramusaji.” 

“Kamu kok nggak cerita ke aku?” 

“Aku nggak bilang karena aku nggak ingat, sampai sekarang.”

“Apa yang harus kulakukan, Shanti?” tanya Ghea pasrah. 

“Yang perlu kamu lakukan, temanku yang cantik, adalah siapkan mental dan tidur.”

“Kami kan nggak tahu berapa lama aku bakalan tidur?”

“Dia bilang kamu harus kembali sebelum ulang tahunmu berikutnya”

“Apa? Aku … aku akan tidur selama setahun?”

“Entahlah, dia bilang dia tidak tahu bagaimana perjalanan waktunya di sana, bisa saja sangat berbeda. Kamu harus kembali sebelum atau tepat tanggal 21 Juli, atau kamu akan terjebak selamanya di masa lampau.”

Ghea menghela napas. “Ini lebih gila dari yang aku kira.” 

“Ini hanya akan menjadi seperti mimpi. Jadi bangunlah tepat waktu dan ceritakan semuanya.”

Ghea menghembuskan napas panjang.

“Sekarang, keluarkan sendok garpu, yuk makan sebelum kamu tidur. Ngomong-ngomong, aku akan tidur di sampingmu malam ini.”

“Sialan lu,” ucap Ghea pura-pura marah, meninggalkan Shanti yang tertawa untuk mengeluarkan semua peralatan yang disembunyikannya. 

Sekarang, mau tak mau, dia harus siap hadapi ketakutan terbesarnya.

Ghea berdiri di tengah puing-puing. 

Di sekeliling balok kayu tebal, menghitam dan hangus bekas terbakar api.Reruntuhan masih berasap dan dia bisa melihat bara api yang samar saat berkelit di sekitar ambang pintu yang berderit. 

Debu hitam menggantung di udara dan menyerbu paru-paru ketika dia berjalan. Tampaknya dia berada dalam gedung yang sangat besar. Tidak ada yang selamat dari api. 

Kaca berserakan di lantai, di bawah jendela pecah dan kandela besar tergeletak, hitam oleh jelaga dan terpuntir di lantai. 

***

Entah mengapa, dadanya dipenuhi dengan kesedihan, penyesalan, dan rasa bersalah yang luar biasa. Ghea tak mampu menghentikan air matanya. Apakah rumah tempat dia berlindung, merasa nyaman, rumah … 

Rumahku? Tapi bagaimana mungkin? Dari mana perasaan itu datang? 

Ghea berbalik saat mendengar gerakan di belakangnya. Dan lagi-lagi, dia berdiri berhadap-hadapan dengan dirinya yang lain, mengenakan gaun yang sama yang selalu dipakainya di cermin.

Awalnya, Ghea yang lain menatapnya tanpa ekspresi. Namun, mendadak dirinya yan lain tersentak dan wajahnya dipenuhi dengan kengerian. “Kamu merusak segalanya. Kamu merusak—kita merusak semuanya. Kamu harus kembali, kita tidak punya banyak waktu.” 

“Aku tidak takut,” jawabnya pada diri sendiri. “Kemana aku harus pergi? Bawa aku ke sana. Aku siap untuk kembali!” “Ke sana!” Ghea satunya mengarahkan jarinya ke timur dan dia berbalik tepat saat pemandangan berubah.

Dia sekali lagi berada di padang terbuka. 

Kali ini dia melihatnya. Lelaki itu sedang menunggang kuda. Punggungnya berputar dan saat kuda yang ia tunggangi berlari menjauh, dia memudar dan menghilang. Ghea menatap dirinya yang lain, mengharapkan penjelasan tentang apa yang sedang dilihatnya. Namun Ghea yang lain sepertinya tidak peduli karena dia masih menunjuk ke timur. 

Ghea menoleh ke tempat yang ditunjuk dan melihat sebuah cermin setinggi badan. 

“Apakah aku harus masuk ke dalamnya?” dia bertanya. “Ini seperti dongeng Alice in—”

“Ini bukan dongeng, Ghe!” dirinya yang lain membentak marah. Matanya melebar dan menakutkan. “Masuk ke dalam dan perbaiki semua yang aku lakukan, semua yang telah kamu lakukan!” 

Ghea yang lain mendidih karena amarah dan Ghea tidak tahu mengapa dia harus menumpahkan kemarahannya padanya. Aku sama sekali tidak berbuat salah, pikirnya.

 “Kamu yang melakukan segalanya!” Ghea yang lain kembali membentak, dan kemudian dengan lemah menyambung, “Kita melakukan segalanya dan sekarang hampir terlambat ….”

Dia menjadi lebih lembut sekarang, wajhanya tidak lagi menunjukkan kemarahan, meskipun masih saja membuat Ghea takut. 

“Pergilah sebelum terlambat, Ghe. Kamu yang terakhir yang mendapat kesempatan kedua ini. Tolong, selamatkan kami. Selamatkan kita semua.” 

Bibirnya berubah menjadi senyuman sedih dan dia mulai memudar.

Ghea menarik napas panjang dan berjalan menuju cermin yang semakin membesar saat dia mendekat dan akhirnya berubah menjadi sebuah pintu, salah satu pintu yang telah dilihatnya berkali-kali di mimpinya.

Kali ini, yang dilihatnya bukan bayangan dirinya, tetapi sebuah pegangan pintu. Dia menekannya lalu mendorong hingga pintu terbuka ….

***

Ghea terbangun.

Lampu kristal yang besar dan indah tergantung di langit-langit menarik perhatiannya. Dari mana asalnya?

Masih berbaring, dia melihat sekeliling.

Lemari besar di sebelahnya tidak dikenalnya Dia mengerutkan kening dan menyapu seluruh ruangan. Dinding dicat putih dengan motif samar, tampak kuno tapi indah. Cermin di kamar sebelah, tampaknya seperti ruang baca. Bukan, bukan ruang baca, tapi meja rias! Di atasnya kotak terbuka, dan perhiasan mahal tergantung di luar kotak.

Ghea juga bisa melihat wig dari berbagai jenis rambut di kepala boneka di meja.

Ini bukan kamarnya … atau justru kamarnya?

Aneh. Rasanya sama sekali tak asing, bahkan akrab. 

Ghea bangkit berdiri, bingung, tidak dapat memahami misteri yang sedang dihadapinya. 

Apakah aku masih bermimpi? 

Ruangan itu tampak seperti dalam film-film sejarah. Kuno tapi berperabotan mewah.

Saat itulah dia menyadari bahwa dia mengenakan pakaian dalam berwarna peach. Garis lehernya dihiasi manik-manik berkilau dan dia menyentuhnya … Berlian asli?

Merajut Masa Silam

. Mama Sitrun . Kembali ke Masa Silam

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image