Home / Fiksi / Cerpen / Unrequited Love

Unrequited Love

Unrequited Love

Kafe Kelunak, sebuah tempat nongkrong di tepi kota Yogyakarta. Selain nyaman, menu hidangannya sangat istimewa karena berbahan dasar singkong. Kafe juga melayani pesanan secara online. Harga setiap itemnya ramah di kantong alias murah meriah. Aku bekerja di kafe ini sebagai salah satu chef. Keahlian di bidang kuliner telah membawa nasib diri pada posisi karier impianku.

“Karier sih cemerlang, tapi tidak dengan asmaramu.”

“Mak-sudnya apa, Madam?”

“Cinta bertepuk sebelah tangan, luka, air mata … ada taburan bunga warna-warni.”

Perkataan Madam Origami terngiang di telingaku. Sebenarnya, aku hanya ingin menguji kebenaran tebakan cenayang tersebut. Ternyata, kemampuannya boleh juga terlepas hanya kebetulan semata ataupun tidak.

“Woi, Nona Lituhayu! Singkongnya udah pasrah dari kapan hari, kamunya malah bengong mulu!” 

Teriakan Oswasa-teman satu profesi-menyadarkanku dari lamunan. Kemudian, dia menunjuk jam di pergelangan tangannya pertanda pesanan harus segera selesai. 

“Kamu ikut meeting, kan?” bisik Oswasa.

“Entahlah, kakakku mau lamaran nanti malam.”

“Aku nggak yakin hatimu tabah menyaksikan kebahagiaan mereka.”

“Kampret!” Aku melempar Oswasa dengan bunga imitasi.

“Gimana bisa move on ya, Li? Secara … aku sepupuan ama Naga.” Oswasa bersikap sok manis dengan mengelus kepalaku.

Pesona Mbak Nohan-kakak kandungku-mengalihkan perhatian Naga. Aku harus memupus perasaan sebab Naga lebih tertarik kepada Mbak Nohan. Sialnya, aura patah hatiku tertangkap oleh Oswasa. Alih-alih mengakui, aku justru selalu berkilah tentang rasa yang pernah ada. Bagaimanapun, aku harus menerima bahwa cinta Naga hanya untuk Mbak Nohan. 

Baru saja meluruskan punggung, manajer kafe tiba-tiba muncul dengan tampang seriusnya.

“Orderan satu tumpeng singkong rebus dengan taburan bawang goreng plus satu tumpeng getuk ubi ungu harus ready sebelum jam lima sore.” Manajer menyerahkan secarik kertas kepadaku sebelum pergi. “Jangan hilangkan karakter Kafe Kelunak saat mengukir nama pemesannya.”

“Atas nama siapa?” tanya Oswasa.

“Nohan dan Naga, alamatnya masih serumah denganku. Puas?”

Suara cekikikan keluar dari mulut temanku yang tidak tahu diri. Aku melancarkan protes dengan aksi cemberut.

“Selalu bersama dengan chef cantik seantero dapur kafe bikin aku melayang. Jangan salahkan aku kalau sampai keceplosan bilang I love you.”

Tanganku bergerak ke atas kepalanya, tetapi Oswasa bisa berkelit. Aku dan dia pun terlibat perkelahian yang tentu saja hanya pura-pura. 

“Aku akan mengantarmu pulang setelah meeting, Li.”

“Ada banyak taxi di depan kafe, Os.”

“Tidak peduli! Kita akan pulang sama-sama.”

Singkong rebus yang sedang kuhias pasti ditujukan untuk papa. Dulu, papa tidak menyukai singkong. Setelah terserang diabetes, singkong masuk dalam daftar menu yang rutin dikonsumsi olehnya. Sementara itu, tumpeng getuk ubi ungu yang sudah tersusun rapi pasti untuk mama. Mama memang pencinta getuk ubi ungu sejati.

Puas rasanya dapat menyelesaikan dua tumpeng pesanan kakakku sendiri. Aku ingin memberi kenangan yang indah untuk Mbak Nohan, papa, dan mama. Oleh sebab itu, aku sangat totalitas saat mengerjakannya.

Akhirnya, dua tumpeng pesanan Mbak Nohan diantar oleh sopir kafe. Aku segera membersihkan diri karena meeting dilaksanakan setelah Magrib. 

Seperti biasa, meeting rutin setiap bulan fokus pada evaluasi laba kafe, kinerja tim, dan tingkat kepuasan konsumen.

Oswasa mendekati tempat dudukku setelah acara berakhir. “Aku antar pulang.

“Kalau aku menolak?”

“Aku pasti memaksa,” jawab Oswasa dengan nada penuh intimidasi.

Suasana rumah sangat ramai ketika aku dan Oswasa datang. Pak Min-sopir keluargaku-bercengkerama dengan para tetangga.

“Bagaimana kepastian kabarnya, Pak Min?” tanya seseorang yang baru datang.

“Non Lituhayu dan temannya tidak selamat, Bu.”

Oswasa memeluk erat tubuhku. Aku dan dia terperangkap dalam ruang yang membingungkan. Hal terakhir yang aku ingat adalah Oswasa membanting setir mobilnya ke kanan untuk menghindari truk dari arah depan.

Kebumen, 23 November 2023

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image