Hari ini mahasiswa baru berkumpul di halaman. Mereka mengikuti masa pengenalan lingkungan. Di sana ada beberapa jurusan. Salah satunya ada jurusan ilmu pengetahun dan teknologi arsitektur, pilihan Hamzah. Mereka berbaris sesuai dengan jurusan masing-masing.
Suasana lengang manakala seorang pria paruh baya berdiri di tengah lapangan didampingi beberapa orang. Dia membuka pidato tentang masa pengenalan lingkungan dengan sangat jelas. Pria itu bernama Professor Kamal, seorang guru besar dan juga dosen di jurusan arsitektur. Dengan penuh wibawa, Professor Kamal memberikan pembekalan mental dan semangat kepada mereka semua hingga usai. Semuanya hikmat mendengarkan apa yang disampaikan oleh Profesor Kamal dengan saksama dan penuh perhatian.
Para mahasiswa baru masuk ke jurusan mereka masing-masing. Di sini, Hamzah berteman dengan Gamal, pemuda dari Aswan yang memilih jurusan ilmu pertanian. Mereka berkenalan dan berbicara banyak hal.
“Di mana kau tinggal, Hamzah?” Gamal bertanya kepadanya
“Tidak jauh dari kampus. Kau di mana?”
“Ada di salah satu apartemen di sana,” tunjuk Gamal ke arah salah satu jalan di sudut kota yang terlihat dari arah kampus mereka.
“Aku ada di lantai 2.”
“Aku pun sama, Hamzah. Kelas kita ternyata berhadapan.”
Saat mereka tengah bercakap-cakap, beberapa mahasiswi putri terlihat melintas di depan mereka. Pandangan Hamzah tertuju pada seorang gadis yang berada paling depan diikuti beberapa mahasiswi lainnya. Terlihat dari penampilannya, seperti anak golongan atas alias sosialita.
“Putri Amira sedang lewat. Beri hormat padanya!” seru salah seorang gadis yang mengikutinya. Hamzah tertegun melihatnya. Dia memalingkan muka, enggan memberi hormat.
“Gamal, berpalinglah! Tak pantas kita bersikap begitu.”
Gamal menuruti ucapan Hamzah. Mereka memalingkan muka hingga rombongan itu berlalu. Hamzah kembali melihat ke arah rombongan yang baru saja dilihatnya.
“Tidak selayaknya kita berlebihan seperti itu kepada manusia. Bukankah begitu, Gamal?” gumam Hamzah kepada sahabatnya.
Gamal setuju. “Tentu saja. Lagi pula tak ada manfaat yang kita dapat.”
Percakapan mereka terhenti. Keduanya kembali ke kelas mereka masing-masing.
*
Beberapa bulan berlalu. Hamzah dan Gamal sangat antusias mengikuti kegiatan mereka. Hanya saja, perbekalan Hamzah kian menipis. Meski ibunya tiap bulan mengirim uang kepadanya untuk biaya hidup selama di Kairo. Hati kecilnya tergerak tidak ingin membebani sang ibu. Dia berniat mencari kerja di sela-sela perkuliahannya. Usai jam kuliah, ia mendatangi Professor Kamal di ruangannya.
Pria itu tengah menghadap meja komputernya. Hamzah mengetuk pintu dan menunggu di luar pintu.
“Masuk!”
Hamzah masuk dan berdiri di depan meja Professor Kamal yang tengah bekerja.
“Duduklah!” titahnya.
Hamzah duduk dengan pandangan tertunduk.
“Ada keperluan apa kau datang kemari?” tanya pria itu sambil meletakkan kaca matanya dan menatap ke arah Hamzah.
“Maaf jika saya lancang, Prof. Apakah Anda mengizinkan mahasiswa Anda bekerja sambil kuliah?”pintanya harap-harap cemas.
Professor Kamal diam sejenak. Ia tersenyum lalu bertanya, “ Siapa yang mau bekerja?”
“Sa-Saya, Prof. Saya yang mau bekerja,” jawab Hamzah.
“Hmm, begitu. Coba kau ceritakan mengapa kau ingin bekerja?”
Perlahan-lahan, Hamzah mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap wajah teduh Professor Kamal. “Saya tidak ingin terlalu membebani ibu saya. Dia orang tua tunggal dan harus berjuang demi kami, Prof. Untuk itulah jika Anda izinkan saya akan ingin bekerja dan juga kuliah.”
Professor Kamal paham apa yang dimaksud Hamzah. Ia bisa memahaminya. “Kau sanggup?” pria paruh baya itu meyakinkan Hamzah.
“Saya sanggup, Prof,” jawab Hamzah mantap.”
“Baiklah kalau begitu. Kebetulan tukang kebun di rumahku sedang pulang ke desanya. Kau bisa menggantinya beberapa hari.Bersediakah kau?”
“Tentu saja, Prof. Saya berterima kasih sekali pada Anda,” ucap Hamzah girang.
“Baiklah, Hamzah. Kau bisa datang besok pagi ke rumahku.”
“Terima kasih, Prof. Saya permisi dulu.”
“Silakan, Hamzah.”
Hati Hamzah berbunga-bunga. Dia akhirnya bisa bekerja sambil kuliah. Tak dapat membayangkan jika ibunya harus mengirimnya tiap saat. Ibunya sudah terlalu banyak berjuang untuknya dan adiknya.
*
Hamzah mulai bekerja di rumah Professor Kamal sebagai tukang kebun. Rumah berlantai dua dan sangat luas. Di dalamnya, ada taman sedang dengan gazebo khas Arab dan juga kolam koi. Selain itu juga bunga aneka warna ditanam di sana. Hamzah bekerja dengan giat. Sore harinya ia kuliah.
Beberapa bulan berlalu. Dari hasil kerjanya, Hamzah gunakan untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sisanya ia tabung jika suatu saat ada keperluan mendadak. Ibunya di kampung sudah ia beritahu jika ia bekerja sambil kuliah.
Hari itu kelasnya ada mahasiswa pindahan bernama Aydeen. . Dia mengambil jurusan yang sama dengan Hamzah. Kini, Hamzah memiliki dua teman dekat, Gamal dan Aydeen.
Hamzah dan Aydeen tengah berada di perpustakaan. Membaca beberapa buku yang dijadikan sebagai bahan tambahan materi kuliahnya. Ketenangan mereka terusik saat seseorang memutar musik yang membuat telinganya risih diselingi dengan canda tawa.
“Siapa lagi yang buat gaduh, Aydeen?”
“Entahlah.”
Hamzah bangkit dan mencari sumbernya. Ternyata gadis yang dulu pernah dilihatnya bersama beberapa temannya. Hamzah mendekati mereka dan berkata, “Maaf, bukankah di sini dilarang gaduh? Apakah kalian tidak membaca peraturan di depan?”
Amira acuh tak acuh. Dia justru makin tak mengindahkan ucapan pemuda itu, hingga membuatnya naik pitam. “Hei! Tak bisakah kalian hargai teman lainnya? Mengapa pada berisik semua?” Kemarahan Hamzah sudah tidak terbendung. Ia mendekati Amira dan meraih ponsel gadis itu dan mematikan musiknya. Lalu berbalik pergi.
Amira marah dan berlari berusaha mengambil ponselnya yang dibawa Hamzah. Langkah pemuda itu lebih cepat darinya. Hamzah membawa ponsel Amira ke penjaga perpustakaan. “Pak, tolong simpan ini dan jangan biarkan dia mengambilnya.”
“Bagus, Hamzah. Memang sudah seharusnya begitu,” jawab penjaga perpustakaan. Sementara Amira yang baru saja datang mengucapkan sumpah serapah dan mengumpat kepada pemuda itu.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!” tudingnya ke arah wajah Hamzah. Pemuda itu tak gentar dengan ucapan Amira.
“Silakan saja. Aku tidak suka dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain,” tegasnya.
“Lihat saja nanti. Kau akan menyesal!” pungkasnya dengan marah. Gadis itu pergi meninggalkan perpustakaan diikuti teman-temannya.
Aydeen hanya melihat adegan yang membuatnya tak habis pikir.
“Kau tidak apa-apa, Hamzah?”
“Tidak, Aydeen. Kita harus tegas jika ada teman seperti itu.”
“Tentu saja.”
Hamzah dan Aydeen keluar dari perpustakaan. Di luar mereka bertemu Gamal yang baru saja keluar dari kelasnya. Hamzah memperkenalkan Aydeen kepada Gamal.
“Gamal, ini sahabat baru kita. Namanya Aydeen.”
“Apa kabar, Aydeen?” sapa Gamal menyalami Aydeen dan disambut hangat pemuda itu.
“Baik. Kau juga Gamal,” balas Aydeen.
“Alhamdulillah.”
“Ayo kita cari makan di luar,” ajak Hamzah pada kedua sahabatnya. “Sekarang kita bertiga tidak hanya sahabat, tapi juga bersaudara.”
Mereka bertiga berangkulan dan tertawa bersama.











Satu Komentar
👍👍