Home / Genre / Chicklit / 4. Aku tidak Mencari Musuh

4. Aku tidak Mencari Musuh

The Lion of Giza 1600x900
2
This entry is part 5 of 11 in the series The Lion of Giza

“Apanya yang tidak mungkin? Suatu saat itu semua bisa jadi mungkin. Hati-hatilah dengan ucapan dan perasaanmu. Kelak, semua itu akan menjadi bumerang,”Sharon terus menggodanya.

Gadis itu merasa muak.  Dia menuju tempat parkir dan masuk mobil. Dia tidak langsung pergi. Diputarnya beberapa lagu yang seakan menjadi teman setia kala ia merasa lelah dari semua hal.

Merasa hidupnya hampa dan tak berguna. Keluarganya berantakan. Ayah dan ibunya bercerai sejak ia masih kecil.  Ayahnya menikah lagi. Sedangkan ibunya berjuang seorang diri membesarkannya. Beberapa tahun lalu, ibunya meninggal karena penyakit yang akhirnya merenggut nyawanya. Ia akhirnya diambil kembali oleh sang  ayah. Hidup menjadi satu dengan ibu sambungnya.

Ibu, seandainya Ibu masih ada. Aku takkan mungkin hidup terombang-ambing seperti ini. Aku merasa hidupku terasa di neraka. Tidak ada kedamaian dan kasih sayang. Orang-orang egois dan hanya memikirkan  nafsu dunia saja. Ibu, aku merindukanmu.

 Gadis itu menyeka air matanya yang perlahan membanjir. Dia segera pergi dengan menyetir mobilnya. Dia sebenarnya sudah bosan dengan kehidupan di rumahnya. Tidak ada keharmonisan. Semuanya hanya mengejar dunia. Untung saja ia masih  memiliki seorang pengasuh yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Dengannya ia selalu berbagi keluh kesah.

Amira memarkir mobilnya di garasi. Ia masuk menuju kamarnya di lantai dua. Ayahnya adalah salah satu pengusaha sukses di Mesir dengan ekspansi sangat luas hingga  ke Asia. Di lantai bawah, terlihat ayah dan ibu tirinya sedang bercengkrama. Dia tidak menyapa mereka berdua meski melewatinya.

“Amira!” teriak ayahnya memanggil.

Amira menghentikan langkah dan menjawab tanpa menoleh.“Ya, Ayah. Ada apa?”

“Duduklah sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

“Maaf, Ayah. Aku lelah. Aku ingin istirahat.”

Amira beranjak meninggalkan ayah dan ibu tirinya. 

“Kau sungguh tidak punya sopan santun, Amira. Mengabaikan panggilan orang tua,” ujar ayahnya gusar. Sementara ibu tirinya hanya acuh tak acuh. Satu senyum sinis tersungging samar.

“Biarkan saja ia istirahat. Mungkin juga lelah. Kau tahu, kan, dia mahasiswi aktif  di kampusnya. Pasti dia sedang memikirkan rancangan-rancangannya yang luar biasa,” ucap ibu tirinya mencari muka di depan suaminya.

“Semoga saja begitu. Yang tidak aku sukai, dia sering mengacuhkan kita.”

“Biarkan saja. Nanti juga kalau butuh dia akan mendekat.”

Amira menghempaskan tubuhnya di ranjang. Semuanya terasa penat, begitu juga jiwanya. Ia merasa ada sesuatu yang hampa ada dalam dirinya. Seseorang memasuki kamar dan mendekatinya.

“Kau sudah pulang, Amira  sayang,” suara lembutnya menggugah sisi lain jiwa Amira. Ia bangkit dan memeluk wanita itu.

“Aku lelah, Bibi Safiya,” ucapnya lirih.  Safiya membelai rambut  gadis itu dengan penuh kasih sayang.

“Aku akan membuatkanmu teh, Sayang.”

“Tidak usah, Bibi,” cegah Amira, “ Aku ingin segera tidur.”

“Bersihkan dirimu dulu dan tidurlah. Aku akan kembali ke dapur.” 

Safiya sangat mencintai Amira layak anaknya sendiri. Sejak kepergian ibunya, Safiya yang menggantikan peranannya merawat dan menjaga Amira. Bahkan, ketika sang ayah sudah tak terlalu peduli dengannya, Amira masih mendapatkan kasih sayang dari sosok seorang ibu. Itulah mengapa sebabnya hubungan Amira dan Safiya sangat kuat bak ibu dan anak kandung.

Ibu, aku tidak pernah mencari musuh. Aku tidak pernah mencari masalah. Entah mengapa  sejak menikah lagi sepertinya kasih sayang ayah padaku seperti luntur. Dia lebih banyak mengurus istri barunya dan juga bisnisnya. Aku hanya bersama Bibi Safiya, Ibu. Hanya dialah penggantimu. Dialah ibuku setelah dirimu.

Amira menangis sambil memeluk foto mendiang  ibunya. Air matanya berderai tak berujung. Rasa sakit dan kehampaan menyelimuti jiwanya yang layu. Dia memang memiliki fasilitas lengkap yang telah disediakan orang tuanya. Gemerlap kekuasaan dan duniawi pun ada dalam genggamannya. 

Namun, semuanya tidak membuat Amira bahagia. Semuanya penuh dengan kepalsuan yang selama ini ia miliki.

“Amira, setelah lulus nanti, Ayah harap kau bisa meneruskan kuliahmu di luar negeri. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu,” kata Mansur, ayah Amira. Meski mereka tampak jauh, tetapi Mansur memiliki cinta dan kasih sayang mendalam pada putrinya. Dia kelak akan mewarisi harta yang dimilikinya selain Ziyad, putra kecilnya dari hasil pernikahannya yang kedua.

“Terima kasih atas perhatiannya, Ayah,” sindir Amira kepada ayahnya. Di seberang sana, ibu sambungnya terlihat tidak suka mendengar keduanya dekat. Namun, ia selalu pandai bersandiwara.

Malam itu Amira pergi ke rumah salah satu temannya. Mereka membicarakan hal-hal tidak penting. Amira merasa tenang meski hanya obrolan tanpa arti. Setidaknya ini sudah menjadi caranya melepaskan diri dari kebisingan pikirannya. 

“Aku setuju jika setelah lulus ini kau melanjutkan ke luar negeri.  Aku mendukungmu.”

“Aku berpikir jika ayahku memang sengaja ingin membuangku dengan cara halus.” Sorot mata indah Amira meredup. Temannya mendekat. Ia mendekap Amira penuh kasih sayang.

“Aku selalu ada untukmu. Kapan pun kau ingin bercerita, aku selalu ada,” katanya. Ia bisa merasakan apa yang tengah dialami sahabatnya itu.

“Terima kasih, Ruqayya. Kau salah satu sahabat terbaik yang aku miliki. Kau selalu ada setiap saat untukku.” Kedua sahabat itu berpelukan erat. 

Amira segera berpamitan pulang. Ia mengendarai mobilnya perlahan.  Entah mengapa, malam itu ia merasakan agak sedikit beda dari malam-malam.sebelumnya. Jalanan yang biasa ia lalui tampak lengang. Pikirannya tak menentu. Tiba-tiba ia menghentikan  mobilnya. Di depannya berdiri tiga laki-laki yang menghadang arah gerak mobilnya. Amira ketakutan. Ia coba menguasai diri.

Mereka mendekati  Amira dan menyuruhnya keluar, “Buka pintunya  dan keluarlah!” perintah salah seorang di antaranya. Amira ketakutan. Seorang lagi mengetuk kaca jendela mobilnya.

“Keluar dan serahkan mobilmu. Atau kau akan berhadapan dengan kami!” gertak lainnya sambil mengetuk kaca mobil belakang. 

“Keluar atau akan kami pecahkan mobilmu!”

“Jangan, jangan! Baiklah, aku akan keluar!” 

Dengan ketakutan teramat sangat gadis itu keluar dari mobilnya. Dia sangat takut manakala ketiganya mendekat.

“Nona, serahkan semua barang-barang yang kau punya termasuk mobilmu ini. Setelah itu kau boleh pergi.”

“Jangan, jangan. Jangan sakiti aku. Kumohon,” pinta Amira.

“Kami takkan menyakitimu, tapi serahkan dulu mobil dan semua barang yang kau punya atau kau akan rasakan akibatnya!” ancam yang lain.

Amira sangat ketakutan. Dia berteriak minta tolong, berharap ada yang mau menolongnya dari orang-orang yang berniat jahat itu.

“Tolong … Tolong …!”

Gamal dan Hamzah yang kebetulan sedang lewat mendengar teriakannya. “Gamal, kau dengar?”

“Iya. Seperti suara wanita minta tolong_arahnya dari sana,” tunjuk Gamal. Mereka bergegas menuju arah asal suara. Benar saja, tiga orang pria ingin berbuat jahat padanya.

“Hei, jangan ganggu wanita itu!” teriak Hamzah pada mereka. Semuanya menoleh ke arah Hamzah. 

“Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami!”

“Aku bukan siapa-siapa, tapi aku paling tidak suka dengan pria yang mengganggu wanita.”

“Kami tidak mengganggunya. Kami hanya ingin minta mobil dan barang-barangnya, itu saja!” tegasnya.

“Itu pun tidak layak. Jika kalian ingin mendapatkan  seperti apa yang kalian inginkan, hendaknya bekerja dengan cara yang baik.”

“Hei, kau tak perlu menceramahi kami dan jangan banyak bicara, atau kau akan berhadapan dengan kami!” hardik salah seorang di antara mereka. 

“Silakan saja. Aku tidak gentar,” tegas Hamzah.

“Jangan salahkan kami atau kau akan menyesal!”

“Aku tidak mencari musuh. Hanya saja  akan kulayani jika kalian keras kepala tetap mengganggunya.”

The Lion of Giza

. Sang Penebar Pesona . Rasa Bersalah

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image