Home / Fiksi / Redaksi Zonk Zero

Redaksi Zonk Zero

Redaksi Zonk Zero
2

“Kau harus menyetujuinya, Lex.”

“Kalau aku tidak mau bagaimana?”

“Itu bukan keputusanmu. Tugasmu hanya meloloskannya.”

“Tapi itu bertentangan dengan nuraniku.” Aku menghenyakkan badanku di kursi putar. Kesal.

“Nurani yang mana?”

“Nurani dari kumpulan amanah yang mengharuskanku menayangkan hanya yang terbaik.” Kutatap mata Richard sambil menahan emosi.

“Terserah kau mau bilang apa, yang di mejamu itu keputusan Boss. Berdebatlah dengannya kalau kau mau.” Richard membanting pintu yang meninggalkan suara gemeretak karena rapuh.

Oh, tidak. Aku benci melakukan ini. Harusnya aku serahkan saja surat pengunduran diriku bulan lalu. Bodohnya aku masih terpengaruh omongan wanita sialan itu. Meski aku pernah satu sekolah dengannya, tapi dia membuatku muak.

“BERSEMANGAT ALA YOLA, YE … YE … YE!” Berkali-kali kubaca pun artikel ini tak menarik. Aku yakin Edi memicingkan matanya sampai belekan gara-gara memeriksa artikel ini.

Kutekan nomor Edi dari telepon bergagang.

“Ed, kau serius? Kesinilah sebentar!”

Aku harus meyakinkan diriku sendiri jika memang ini layak tayang, sementara di mataku ini sampah.

“Kau sedang mendayung ke arah mana, Brother?” Edi muncul dengan suara parau kharismatik. Hasil dari kegiatannya mengisap racikan tembakau yang menemaninya tiap malam.

“Seperti yang kau lihat. Aku mendayung di genangan lumpur padat.” Aku melemparkan artikel ini ke arahnya.

“Apalagi? Jangan mempersulit pekerjaan, Brother. Tak ada lagi suara yang bisa mencegahnya. Itu keputusan kawan kau, Inez si Boss besar.” Kubiarkan Edi mengomel panjang lebar. 

Setelah melihat aku diam saja sambil melihat ke arahnya, barulah dia melihat kembali artikel yang kini jadi pembahasan kami. 

“Trus apanya yang salah?” Edi terbatuk-batuk hingga harus terduduk di meja sudut. 

“Masa iya artikel model begitu jadi unggulan. Yang benar saja.” Aku masih tak percaya, jika harus menyetujui artikel sampah ini berlayar di jajaran teratas.

“Kamu, nih, amnesia atau bagaimana, sih? Ini sudah yang terbaik.”

“Kamu lihat, dong. Hate komennya aja melebihi pengikutnya. Ini seleb baru, loh. Gak terkenal.”

“Justru itu.”

“Maksudnya?”

“Semakin banyak komen buruk akan membuat artikel ini makin pantas jadi unggulan.”

“Aku benar-benar gak ngerti.” 

“Sepertinya banyaknya pekerjaan membuatmu stress. Atau mungkin bir pletok yang kau minum semalam sudah kadaluarsa, jadi bisa bikin amnesia. Anggap saja begitu.”

“Kata-katamu bikin kepalaku semakin pening.”

“Dengar! Kita sudah lama tidak lagi menampilkan artikel-artikel penuh inspirasi. Karena banyak orang sudah tak mencari inspirasi. Mereka hanya membaca apa yang mereka ingin, tentang kemalasan, keburukan yang diwajarkan, tentang putus asa yang tanpa motivasi. Kau tahu generasi itu? Generasi paling menakutkan dari peradaban penuh teknologi.”

Aku seolah terhipnotis, hanya diam saat Edi meneruskan omelannya.

“Mereka tak peduli tentang kenapa mereka baik-baik saja saat mereka tak bekerja, mereka bahkan mulai menjadi inspirasi yang tak menginspirasi. Berusaha menginspirasi dengan tanpa inspirasi. Sudahlah. Kau hanya bertugas menayangkan. Artikel itu memang sampah, karena itu dia jadi unggulan. 

Itu nametag kau menggantung di leher bukan tanpa guna. Itu juga biar kau ingat, kita ini siapa dan di mana!” Edi lagi-lagi keluar ruangan dengan membanting pintu reyot yang malang.

Seketika aku melihat nametag yang kupakai sejak setahun yang lalu. Di situ tertulis:

“Redaksi Zonk Zero. Be on top but not inspiring.”

Kenapa aku bisa melupakannya?

Sepertinya alzheimerku mulai parah.

16.39

Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image