Berita tentang korupsi yang bertubi-tubi itu sangat meresahkan. Bukan hanya di kalangan masyarakat biasa, tapi juga para pelajar. Semua mengutuk kejahatan yang tergolong sangat luar biasa. Tidak terkecuali pelajar yang masih belia, meskipun hanya lewat puisi.
Ya, puisi. Melalui bait-bait puisi para pelajar itu melontarkan uneg-unegnya. Mengutuk perilaku tak terpuji para pejabat yang terlibat persekongkolan. Memperkaya diri sendiri atau orang lain, mengabaikan penderitaan orang lain yang seharusnya menikmati kekayaan negara.
Meskipun dibungkus dengan bahasa yang halus, terasa sekali betapa para pelajar itu dapat merasakan akibat buruk perilaku koruptif. Hal ini tercermin dalam puisi-puisi yang memenangkan lomba penulisan puisi dalam rangka Gerakan Anti Korupsi. Jangan hanya lihat ini ucapan anak-anak, tetapi dengarkan apa yang mereka sampaikan.
Lihatlah dalam puisi “Tutup Mata” karya Salma ini:
Ambil
Umpetin
dan tutup mata
Miris rasanya, namun beginilah awalnya
Kehancuran sebuah negara kaya raya
Atau penggalan puisi “Negeri Temaram” karya Aji berikut ini:
Tangan-tangan rakus merangkak di balik meja
Mencuri bukan dengan senjata
Tapi dengan wajah berpura-pura
Hebatnya para pelajar itu masih punya keyakinan bahwa keadaan ini masih bisa diatasi, jika semua elemen masyarakat bersatu padu melawan tindak korupsi. Seperti tercermin dalam puisi “Darah Kotor” karya Arif:
Ayo lawan, mari bersuara
Dengan pena, aksi dan doa
Negeri ini bisa berjaya
Jika korupsi bisa sirna
Pesan-pesan yang meskipun tak nyaring, namun patut menjadi renungan jika ingin melihat negeri yang gemah ripah loh jinawi menjelma menjadi Indonesia Emas.
Semoga!
Jkt, 0202525











