Masihkah Anda imani jika doa mampu mencegah dan mengubah segala sesuatu? Barangkali kerap keraguan masih timbul dalam hati kita masing-masing. Ah, saya ‘kan hanya seorang diri. Hanya satu suara saja. Gak banyak pengaruhnya. Saya siapa ‘sih?
Ketegangan antara beberapa negara yang sedang berperang semakin meningkat. Suhu politik memanas, kasih menjadi semakin dingin. Semua yang kita lakukan seakan-akan tak berguna, gagal, sia-sia. Lapangan pekerjaan semakin sempit, banyak orang terlilit utang-piutang serta akar pahit, keluarga hancur, dan lain sebagainya. Bencana alam semakin sering terjadi. Hidup menjadi semakin sukar.
Apakah doa seseorang, satu orang saja, mampu mencegah bahkan mengubah satu atau lebih dari hal-hal mengkhawatirkan di atas? Sepertinya mustahil, semua tak terbendung lagi. Akhir zaman semakin dekat. Firman Tuhan yang tertulis/dinubuatkan dalam kitab Wahyu sedang terjadi. Akan tetapi, benarkah jika tak ada apapun yang dapat Anda atau saya perbuat?
Dalam kitab Kejadian dikisahkan Abraham berdoa/memohon untuk keselamatan keluarga keponakannya, Lot, yang tinggal di wilayah Kota Sodom dan Gomora. Penulis bayangkan, doa ‘tawar-menawar’ antara Abraham dan Tuhan Allah berlangsung sangat ketat. Berapa orang percaya yang Tuhan izinkan ‘ada’ demi keselamatan kedua kota itu? Sepertinya permintaan/doa Abraham tidak terwujud. Benar, ‘kuota’ yang dipinta Tuhan tidak terpenuhi. Sodom dan Gomora tetap dihancurkan. Akan tetapi Tuhan menyelamatkan Lot sekeluarga meskipun akhirnya masih jatuh korban. Yang selamat hanya Lot dan kedua anak perempuannya.
Doa Abraham untuk Lot seperti di atas seringkali kita panjatkan juga. Kita ingin agar Tuhan menuruti permintaan/kehendak kita. Kita amini dan yakini setengah hidup. Akan tetapi kemudian Dia berkata ‘tidak’ atau ‘tunggu’. Kita jadi kesal, kecewa, merasa Tuhan tidak adil. Penyakit saya belum dijamah/disembuhkan. Saya belum juga dapat pekerjaan. Bencana masih terjadi. Kegagalan demi kegagalan masih setia menghampiriku. Akibatnya iman kita yang hanya sebiji sesawi itu gugur. Nah, salahnya dimana?
Bukannya Tuhan tak ingin mendengarkan doa yang hanya dipanjatkan satu orang. Bukan hanya dengan cara berkumpul dua atau lebih, lantas doa lebih didengar. Jadi, apa yang bisa kita pelajari?
- Doa tak selalu terkabulkan/dijawab sesuai dengan rencana kita, akan tetapi sesuai dengan rencana-Nya. Rencana yang manusia anggap paling baik, paling benar sekalipun, belum tentu terbaik juga di mata-Nya.
- Doa bukanlah bak mantra ajaib yang mampu mengubah suatu keadaan dalam sekejap mata, melainkan permohonan manusia yang pasti didengar Tuhan. Pasti didengar bukan berarti pasti dikabulkan. Tuhan bukan ibarat Jin Biru yang punya stok tiga permintaan setelah lampu ajaib digosok. Setelah doa dipanjatkan, kita harus bersabar dan menunggu.
- Kadang doa tak langsung Tuhan jawab. Bukan hanya cukup satu kali dan sabar menunggu. Lebih baik kita sering mengulangi doa yang sama. Tuhan tidak pernah bosan mendengar, kok. Gak seperti manusia yang bisa jenuh bahkan marah jika anggota keluarganya mengeluhkan/meminta hal yang sama berulangkali, minta tolong, pinjam uang, lalu ia berkata: ah, dia lagi dia lagi! Mau apa ‘sih, menggangguku saja! Dan semacamnya, Tuhan malah senang sekali jika kita terus memohon. Permohonan berulang itu ibarat pintu yang berulangkali diketuk, menunjukkan kesungguhan si pengetuk. Ibarat tembok Kota Yerikho yang berhari-hari dikelilingi tanpa hasil, kemudian runtuh juga pada hari ketujuh setelah dikelilingi Bangsa Israel sebanyak tujuh kali. Jangan pernah jenuh berdoa!
Kesimpulan: Doa satu orang saja bisa mengubah dunia. Doa sudah pasti didengar-Nya. Doa tidak pernah ter-pending. Hanya saja, doa belum pasti langsung terkabul. Rencana kita boleh baik, bahkan luar biasa. Apapun yang kemudian terjadi adalah kehendak-Nya semata-mata.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus Kristus memberkati.
Tangerang, 18 Juni 2025











