Home / Non Fiksi / Esai / Tema yang Mengerikan

Tema yang Mengerikan

Tema yang Mengerikan

Istriku tidak pernah mempertanyakan mengapa aku menulis genre fiksi horor. Kebanyakan temanku pun tidak pernah memintaku menjelaskan bidang yang aku tekuni. Seorang temanku yang penakut—padahal dokter yang mestinya berhubungan dengan jenazah, minimal waktu kuliah—yang bertanya tentang fiksiku.

Kami sedang makan siang bersama saat reuni SMA, dan aku membawa salah satu teman yang juga seorang penulis horor, dan ketika piring-piring untuk hidangan utama sedang dibersihkan, si dokter menoleh ke arahnya dan bertanya dari mana dia mendapatkan inspirasinya. Ketika dia mulai menjawab, aku  melihat mata si dokter melirik ke arahku, dan sedikit melebar karena khawatir ketika menyadari bahwa dia telah mengajukan pertanyaan yang belum pernah dia tanyakan kepadaku.

Dia dokter yang baik, sangat teliti dalam hal semacam itu.

Jadi, setelah temanku selesai menjawab, dia menoleh ke aku dan mengulangi pertanyaannya.

Aku menggumamkan jawaban yang tidak begitu kuingat, tetapi aku sadar bahwa itu tidak menarik atau terlalu akurat.

Si dokter tidak mempermasalahkannya, dan tak lama kemudian kami menikmati hidangan penutup yang disediakan.

Ini bukan pertama kalinya aku ditanya, “Kenapa kamu menulis yang seperti itu?”

Biasanya, hal ini disuarakan oleh orang-orang yang dekat denganku, tetapi tidak terlalu dekat. rekan sesama penulis di komunitas, peserta workshop kepenulisan yang tahu kalau mentornya menulis genre horor, para sepupu yang ketemu sekali setahun, pelanggan bukuku yang minta aku menandatangani buku yang dia beli.

Setelah bertahun-tahun mendengar hal ini, aku masih belum menemukan jawaban yang tepat.

Tapi siapa bilang butuh jawaban yang tepat?

Seperti yang dikatakan seorang teman yang pernah aku ajak berdiskusi tentang hal ini, “Apa pentingnya alasan untuk menulis sesuatu? Kalau orang-orang suka bacanya, bukankah seharusnya itu yang penting?”

Mungkin memang seharusnya begitu. Tapi aku tidak bisa tidak melihat pertanyaan ini sebagai bagian lain dari pertanyaan yang tampaknya cukup sering muncul di internet, yaitu, kekhawatiran tentang sifat (dan tujuan) fiksi horor.

Kalau kita tertarik pada apa yang dilakukan fiksi horor, maka masuk akal jika kita juga tertarik pada asal-usulnya.

Saat memikirkan pertanyaan ini, aku pergi ke rak buku dan menemukan bahwa, seperti biasa, Stephen King sudah ada di sana lebih dulu. Dalam kata pengantar untuk koleksi cerpennya yang terbit tahun 1978, Night Shift, dia menulis tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepadanya sebagai penulis fiksi horor: “Mengapa Anda memilih menulis tentang subjek yang begitu mengerikan?”

Dia menjawab pertanyaan ini dengan pertanyaannya sendiri, “Mengapa Anda berasumsi bahwa saya punya pilihan?”

Menurut King, menulis adalah semacam perilaku obsesif, dan obsesi, pada dasarnya, berada di luar kendali kita.

King menulis tentang subjek-subjek mengerikan karena itulah yang dia tulis—atau, mungkin lebih tepatnya, apa yang bisa dia tulis—atau, bahkan, apa yang harus dia tulis kalau dia ingin menulis.

Ada sesuatu dalam tanggapan King. Fiksi yang dihasilkan seorang penulis belum tentu merupakan fiksi yang paling dia sukai untuk dibaca. Aku sendiri yang meskipun cukup sukses menulis kisah realistis dan misteri, aku adalah penulis fantasi terutama fiksi ilmiah yang frustrasi.

Salah satu tugas yang harus diemban oleh para calon penulis adalah menemukan jenis fiksi apa yang bisa mereka tulis. Meskipun tidak ada kewajiban untuk menjadi seorang fantasis kalau kamu benar-benar tidak ingin menulis fantasi, dalam menulis, seperti dalam kebanyakan hal, bakat dalam jenis fiksi tertentu cenderung mendorong kamu untuk berkarya di dalamnya.

Kalau cerita yang kamu hasilkan dalam genre ini berhasil, maka kemungkinan besar kamu akan terus berkarya di dalamnya. Sederhana saja.

Hanya saja, kenyataannya tidak demikian. Seruan terhadap kemampuan dengan cermat menghindari pertanyaan lebih lanjut yang dimunculkan oleh jawaban King, yaitu, kalau tulisan kamu—obsesi kamu—cenderung ke arah yang gelap, mengapa demikian?

Apa yang terjadi padamu—pengalaman apa yang mengarahkan kamu ke jalan ini?

Sejujurnya, ini adalah pertanyaan yang kita ajukan kepada siapa pun yang mengejar karier di luar—yang dibayangkan—kebiasaan. Entah itu mencalonkan diri untuk kursi dewan, atau berpraktik kedokteran, atau berganti keimanan.

Aku pikir rasa ingin tahu kita terangsang oleh jalur karier yang tidak semata-mata tentang menghasilkan uang, tetapi yang tampaknya melibatkan tujuan lain.

Lagipula, kapan terakhir kali aku bertanya-tanya tentang teman-temanku yang memilih karier di dunia korporat?

Benar atau salah, aku berasumsi mereka telah membuat keputusan berdasarkan apa yang menjanjikan gaji terbesar.

Tentu saja, kita terpesona oleh seniman dari semua aliran. Namun, bagi seniman yang dimaksud, seringkali ada lebih dari sedikit kecemasan yang melekat pada pertanyaan mengapa. Kecemasan ini mungkin lebih kuat dirasakan oleh mereka yang berkarya dalam bentuk atau mode yang berada di luar arus utama seni mereka—kelompok yang aku masukkan dalam hal ini adalah para penulis fiksi horor. Seperti yang dikatakan Ramsey Campbell pengarang The Hungry Moon, hanya selangkah dari, “Ah, jadi itu yang sedang kau tulis,” menjadi, “Ah, jadi CUMA itu yang sedang kau tulis.”

Penulis horor bukanlah satu-satunya yang unik dalam hal ini. Seiring hidupnya yang semakin terpuruk, F. Scott Fitzgerald (The Great Gatsby) menolak intervensi terapeutik apa pun, karena khawatir menelusuri sumber kreativitasnya akan meracuninya.

Penyair Rainer Maria Rilke (Sonnets to Orpheus) terpesona oleh kemungkinan-kemungkinan yang disiratkan oleh pandangan Freud tentang jiwa, tetapi juga waspada terhadap dampaknya terhadap kreativitasnya.

Tentu saja, karier Fitzgerald di kemudian hari tidak semanis tahap awalnya, sementara perkenalan Rilke dengan psikoanalisis menghasilkan beberapa momen terpenting dalam Elegi Duino-nya.

Lebih dekat dengan kehidupan nyata, keterlibatan Peter Straub (Ghost Story) dengan analisis psikologis membuahkan hasil dalam novel Julia dan cerita pendek Blue Rose. Aku menganggap Rilke dan Straub menarik karena keduanya menunjukkan bahwa, alih-alih menghambat karya seorang penulis, penyelidikan terhadap impuls kreatif yang memicunya justru dapat membuka pintu bagi karya-karya baru.

Jika ada bahaya dalam upaya semacam itu, bahayanya terletak pada potensinya untuk menyederhanakan masalah secara berlebihan.

Freud menciptakan istilah overdetermination untuk menggambarkan ekses motivasi yang melekat pada tindakan kita. Salah satu penyebab ini mungkin menawarkan penjelasan yang memadai—itulah yang kita minta dari sebuah karya fiksi—namun jiwa kita boros, menyajikan alasan demi alasan.

Godaan untuk melakukan penyederhanaan semacam itu merupakan godaan yang menghantui siapa pun yang mempelajari biografi seorang penulis, terutama ketika sebuah kejadian yang menarik muncul.

Ayah H. P. Lovecraft menjadi gila karena sifilis tersier dan harus dirawat di rumah sakit jiwa ketika Lovecraft berusia tiga tahun? Betul. Ayah Stephen King meninggalkan keluarganya ketika King berusia dua tahun? Seratus. Peter Straub ditabrak dan hampir tewas tertabrak mobil ketika sia berusia tujuh tahun? Case closed.

Namun, ada lebih banyak kejadian dalam kehidupan masing-masing orang ini daripada detail-detail tadi, meskipun tidak diragukan lagi penting bagi perkembangan mereka. Dan kalau kita dapat menyadari bahwa ada lebih banyak hal dalam kehidupan orang lain, betapa lebih banyak lagi hal dalam pengalaman kita sendiri?

Aku mencoba berjalan di garis batas tipis, berargumen untuk menyelidiki sumber-sumber kreativitas kita sambil mendesak kita untuk tidak terlalu menekankan satu penyebab tunggal. Insiden-insiden spesifik tersebut memang memiliki kegunaannya sendiri.

Mereka dapat berfungsi sebagai lensa, yang memfokuskan aspek-aspek karya seorang penulis. Sosok ayah yang gila dan absen muncul kembali dalam berbagai bentuk dalam karya Lovecraft, dari “The Rats in the Walls”, “The Call of Cthulhu”, hingga “The Shadow Out of Time”. Ada anak-anak terlantar, baik secara harfiah maupun metaforis, dalam karya Stephen King, mulai dari Carrie, It, hingga Hearts in Atlantis. Trauma dan kecelakaan menghantui karakter-karakter Peter Straub, dari Julia, Koko hingga A Dark Matter.

Ketika lensa-lensa tersebut terkunci, menghalangi kita untuk melihat lebih jauh dalam karya sang penulis, mereka menjadi penghalang.

Harus aku akui, akhirnya aku sampai juga di akhir esai singkat ini tanpa gambaran yang jelas tentang jawaban apa yang mungkin akan kuberikan kalau nanti ada yang bertanya tentang apa yang terjadi dalam hidupku yang mendorongku untuk menulis horor.

Mungkin era Darurat Militer Aceh yang mencekam. Mungkin Gempa dan Tsunami 2004 yang merenggut orang-orang yang kukenal. Aku memikirkan teror bom tahun 1995 di Jakarta. Kecelakaan yang menyebabkan frisur tulang dan ligamen belakang lutut robek yang nyaris membuatku pincang seumur hidup dua belas tahun silam. Aku memikirkan tangan pencuri yang menjulur dari jendela selebar papan menyambar kain sarung yang tergantung di situ. Aku memikirkan ibu mertua yang tertelungkup damai di tempat tidur meninggalkan dunia tanpa peringatan sebelumnya. Aku ingat menunggu kakak iparku selama sebulan lebih di rumah sakit yang remang-remang.

Semua kenangan ini terasa seolah-olah menjadi kekuatan yang mendorong kata-kata dalam font hitam melintasi halaman layar laptop. Masing-masing terasa seolah-olah menunjukkan sesuatu yang baru tentang cerita, novel, yang telah kutulis. Bersama-sama, semuanya adalah sebuah awal.


Jawa Barat, 4 Desember 2025

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Antologi KompaK’O

Random image