Home / Genre / Fiksi Ilmiah / 7. Mencuri Mayat

7. Mencuri Mayat

Kementerian Kematian
This entry is part 8 of 88 in the series Kementerian Kematian

Aku rasa kebingungan dan ketidakpercayaanku begitu kentara sehingga Razzim mencoba menjelaskan situasinya.

“Mengenai ini, mayoritas dari kita pernah punya masalah dengan hukum, jadi untuk mencegah korupsi, diputuskan untuk mencabut kekuasaan hukum apa pun dari kita.”

“Jadi, bagaimana kita bisa menjadi badan pemerintahan?” Aku menyerah.

“Ini pertanyaan yang tidak ada yang tahu jawabannya,” Dora mengangkat bahu.

Duli menggelengkan kepala dan tersenyum. “Nah, aku tahu, Raz punya seorang wanita di atas, yang dia tiduri dengan sangat heboh sehingga wanita itu menyemprotkan plasma ke segala arah dan dimensi. Wanita itu mengamankan tempat yang hangat untuknya agar dia bisa tutup mulut sewaktu diadili tentang apa yang terjadi.”

Kalau malaikat yang dibuang ke bumi—dan menurutku Razzim memang seperti itu—bisa tersipu, maka inilah situasi yang sebenarnya.

“Ini sama sekali tidak relevan,” jawab Razzim.

“Namun itu benar,” seringai Duli semakin lebar.

Mungkin itu semua hanya permainan, tetapi Dora memutuskan untuk tidak bertindak terlalu jauh dalam membuat bos kami marah.

“Kawan. Setop omong kosong yang tak perlu itu! Macam mana dengan tugasnya?”

Aku sudah menyadarinya sebelumnya, tetapi kecurigaanku terbukti hari ini. Dora bermain dua kaki. Dia suka bermain-main dengan Duli, tetapi dia cepat memihak Razzim kapan pun situasinya mengharuskan.

“Terima kasih, Dora! Ngomong-ngomong, seperti yang kukatakan, kita harus mencuri mayatnya.”

“Dan bagaimana kita akan melakukan ini?” tanyaku.

“Ini akan menjadi tugas yang sangat gampang. Kau akan masuk ke dalam, mengambil mayatnya, dan pergi begitu saja.”

Aku berharap akan ada kelanjutan dari pikiran itu. Mungkin setidaknya beberapa detail tambahan, tetapi Razzim tampak berhenti total.

“Dan?” tanyaku.

“Dan itu saja,” dia mengangguk.

“Itu rencananya?” tanyaku.

“Itu rencananya,” katanya. “Gampang banget. Antipeluru.”

“Oi, kenapa aku tak percaya?” Dora mengusap matanya.

“Aku akan memberitahumu alasannya, karena ini akan berubah seperti biasanya,” Duli mengangkat bahu.

“Tidak, tidak akan berubah,” bantah Razzim.

“Oh ya? Baiklah, kawan.Apa yang akan kita lakukan kalau seseorang, katakanlah, menghentikan kita?”

“Kau tinggal bilang kalau kau sedang menjalankan tugas resmi Kementerian Kematian, dan mereka harus mengizinkanmu masuk.”

“Tapi kupikir kita tidak punya apa-apa.” Isi kepalaku pusing berputar-putar

“Jangan tanya. Jangaan,” bisik Dora sambil menggelengkan kepalanya.

“Baiklah. Kalau begitu kita akan mencuri mayat, kurasa,” desahku.

Rencana itu menyebalkan. Dan ini adalah cara yang paling optimis untuk mengatakannya. Aku tidak yakin bagaimana ini akan berjalan, tetapi dengan melihat Dora dan Duli, aku sudah punya firasat bahwa semuanya akan kacau begitu ada kesempatan.

Firasatku terbukti saat ternyata Razzim tidak akan berpartisipasi dalam pekerjaan itu dan akan duduk di dalam mobil. Sebuah van kecil berwarna biru yang jelek dengan ruang kargo yang lumayan menunggu kami dan dia memberikan instruksi melalui semacam walkie-talkie di telinga.

“Baiklah, ini gampang banget, kok,” katanya. Tangannya mengepal roda kemudi.

“Gampang untuk mengatakannya, kaulah yang mendinginkan biji-bijimu di dalam mobil,” gerutu Duli.

“Taruh kaus kaki di dalamnya! Kita akan mengguncangnya!” Dora gelisah, sangat bersemangat untuk misi ini. “Ayo!”

Kami keluar dari mobil dan melihat sekeliling. Lingkungan yang lumayan. Bangunan-bangunan kecil yang terbuat dari batu bata merah, sesuatu yang belum pernah kulihat. Jalanan yang bersih, dan orang-orang yang jarang berjalan dengan sikap santai. Gereja adalah satu-satunya bangunan yang terbuat dari batu bata putih. Itu juga menjadi bangunan yang tertinggi di sekitar sini. Menimbulkan perasaan kagum dan gelisah.

“Sekali lagi, tugas kalian sederhana. Masuk, ambil mayatnya, dan keluar,” ulang Razzim, tetapi kali ini melalui headset kami.

“Lakukan dengan tenang, bersih, dan cepat.”

“Katakan padaku ini gampang setelah kami menyelesaikannya,” gerutu Duli lagi, menyedot habis rokoknya.

“Hei, semangat, Bocah Gede! Kita baik-baik saja.”

Dora mendorong bahu Duli, yang sama sekali tidak terpengaruh.  Aku ragu Duli menyadarinya.

“Tentu. Rasanya sudah tidak sabar untuk melihat berapa lama ini akan berlangsung.”

Atau mungkin dia menyadarinya.

Kami mendekati gereja, dan sejujurnya, aku merasa aneh. Amnesia atau tidak, aku jelas tidak terbiasa mencuri mayat tepat ketika upacara sedang berlangsung. Namun Dora dan Duli tampak tidak mempermasalahkannya. Mereka lebih sibuk mencari tahu siapa yang benar. Duli yang berasumsi bahwa semuanya akan berakhir buruk atau Dora, yang begitu bersemangat hingga siap menghadapi Tuhan sendirian.

Begitu kami mendekati gereja, dua pria besar dan kejam berpakaian keamanan menghalangi jalan kami.

“Maaf, teman-teman, ada upacara di sini, hanya mereka yang masuk daftar yang boleh masuk,” kata salah satu dari mereka, memastikan tidak ada dari kami yang akan lolos.

Duli menatap kami yang mungkin bisa diartikan seperti ‘Aku bilang apa!’, tetapi Dora tanpa mengedipkan mata melanjutkan ceritanya.

“Kementerian Kematian. kaami harus memeriksa apakah pemakaman sesuai dengan adat istiadat dan undang-undang yang berlaku,” katanya sambil menunjukkan dompet kosong.

“Tidak mendengar apa pun tentang kalian akan hadir di sini.” Petugas keamanan itu mengabaikan dompet Dora sama sekali.

“Ayolah, ini urusan pemerintah,” Dora menunjukkan dompetnya sekali lagi.

“Aku sudah mendapat instruksi dengan jelas, jangan biarkan siapa pun yang tidak ada dalam daftar masuk.” Ssekali lagi petugas keamanan itu mengabaikan apa yang baru saja dilakukan Dora.

Aku tidak mengerti apakah dia melakukannya begitu cepat sehingga petugas itu tidak menyadari bahwa dompetnya kosong atau tidak mau melihatnya sama sekali.

“Dengar, kawan. Kami sudah menghabiskan waktu dua jam di jalan cuma untuk sampai di sini. Kau mau bilang kalau aku harus menempuh perjalanan dua jam lagi hanya untuk memberi tahu bosku bahwa ada orang dengan pluit bersiul dengan upah minimum menolak kami masuk?”

Duli menghembuskan asap rokok langsung ke wajah petugas keamanan.

“Tepat sekali,” pria di pintu itu tampak tidak terkesan seperti biasanya.

“Hm, dasar sok pintar. Kau mulai membuatku kesal,” Duli mengangguk. Sepertinya dia siap membuat masalah. Malah, sepertinya Duli akan segera menjadi masalah.

“Tenang saja!” Aku mendorongnya ke samping, yang diabaikannya, dan berkata. “Dengar, Tuan, kami hanya perlu memeriksa apakah jenazahnya sudah dipersiapkan untuk dimakamkan. Kaalian tahu, orang itu digigit laba-laba radioaktif, dan siapa tahu apa yang mungkin terjadi pada jenazahnya.”

“Aku meminta kalian untuk pergi,” tuntut petugas keamanan itu.

“Atau apa?” ​​tanya Duli sambil menyeringai.

“Atau kami akan bertanya lagi, tapi tidak semanis ini,” kata petugas keamanan kedua, yang bahkan lebih besar dari pria pertama, mendekati Duli dan mencoba menatapnya.

Sejujurnya, aku agak takut.

Petugas keamanan kedua lebih tinggi dari Duli dan bahunya lebih lebar. Bahkan, dari tempat aku berdiri, sepertinya Duli kalah dalam setiap tolok ukur. Namun, Duli tidak semudah itu untuk diintimidasi.

Dengan seringai lebar, dia  melangkah ke arah petugas keamanan kedua, hampir menyentuh dagunya dengan hidungnya. “Ho-ho, bicara keras, ya? Aku suka itu. Datanglah, Nak, buat hariku menyenangkan.”

Bagus! Sekarang, ketika Duli hendak berkelahi dengan petugas keamanan, dan semuanya tidak bisa lebih buruk lagi, Dora memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk menelan pil ajaibnya. Hal ini langsung diperhatikan oleh petugas keamanan pertama, yang tampaknya juga merasa bahwa konfrontasi dengan Duli bukanlah hal yang paling waras untuk dilakukan.

“Hei, begitukah yang kupikirkan?” ia menunjuk Dora.

Yang kedua, merasa sedikit tidak yakin untuk menghadapi Duli. Mungkin dia akhirnya mengerti bahwa dia tidak berhadapan dengan pembuat onar biasa, tetapi seorang mayat hidup penembak jitu hidup dari neraka dengan karakter yang jahat dan napas yang lebih jahat lagi, juga senang mengalihkan perhatiannya.

“Sepertinya begitu.”

Kementerian Kematian

. Wewenang Kementerian Kematian . Mengenang Peter Barker

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image