“Ya, aku memang dibuang karena ini, tapi aku adalah anak kesayangan Ayahanda dan beliau melakukannya sebagian untuk menghentikanku tidur dengan selir atau gundik saudaraku dan mencegahnya mengejar tunanganku. Aku tidak percaya padanya. Dia mungkin menemukan cara untuk masuk di antara kita. Sayangku, jangan dengarkan dia. Jangan biarkan dia masuk di antara kita.”
Arya Daringin tidak melihat atau mendengar aku dan Waiz, ini hanya peringatan, pikir Ghea. Suamiku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku harus menghentikan hal ini dengan Waiz sebelum terlambat.
“Baik, Kangmas. Aku mengerti. Aku berjanji untuk berhati-hati.”
“Aku harap kau tidak menganggapku paranoid atau semacamnya. Aku tidak ingin dia memiliki sedikit pun kesempatan denganmu, apalagi menciummu. Aku sangat percaya padamu. Kalau aku mendengar sesuatu tentang kalian berdua, itu akan membuat hatiku hancur.”
Sial! Aku dalam masalah besar! pikir Ghea.
“Kangmas tidak perlu khawatir. Aku hanya milikmu.”
Arya Daringin tersenyum dan membelai dagu Ghea dengan ibu jarinya.
“Kau juga ingin mengatakan sesuatu padaku?”
“Aku mencintaimu, Kangmas, tidak ada orang lain,” jawab Ghea dan Arya Daringin tersenyum.
Arya Daringin berdiri, melepaskan jas dan menggantungnya di kursi di dekatnya. Kemudian dia membungkuk ke arah Ghea, mencium istrinya perlahan, sementara tangannya yang lain berada di dada Ghea, membuka peniti kebaya.
“Ratuku Ghea, Apakah ada permintaan yang ingin kau sampaikan sebelum kita mulai?”
Ghea terkekeh ketika tangan Arya Daringin meluncur di dadanya, membuatnya menggelinjang.
“Paduka pujaanku Kangmas Pangeran Arya Daringin. Apa pun yang ingin Kangmas lakukan, jangan berani-berani berhenti.”
Arya Daringin menggendong Ghea dan membaringkannya di tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya. Tangan Ghea bergerak cepat untuk membuka kancing kemeja suaminya sementara Arya Daringin melepaskan kain panjang istrinya.
Ghea memejamkan mata dan merasa seakan-akan suaminya memiliki banyak tangan, menyentuhnya di mana-mana. Semakin suaminya menciumnya, semakin dia menginginkan lebih.
Pikiran tentang Waiz menghilang, dan …. oh Tuhan! Aroma dan rasanya! Seperti kembang api Malam Tahun Baru di Monas meledak di sekujur tubuhnya!
Kulit Arya Daringin panas membara. Tangan Ghea menjelajahi dada suaminya saat gairah menenggelamkannya. Tubuh Arya Daringin berotot dan berkulit hangat. Ghea tenggelam, ditelan olehnya.
***
Arya Daringin terbangun dan Ghea sudah tidak berada di sampingnya. Dia tersenyum mengingat apa yang telah terjadi di antara mereka.
Ini adalah momen termanis dalam hidupnya. Bercinta dengan seseorang istri yang dia cintai adalah hal yang paling sempurna. Ya, dia telah tidur dengan wanita yang tak terhitung banyaknya, tetapi tidak ada yang terasa benar. Tidak ada kata yang bisa mengungkapkannya.
Ghea semanis yang dia impikan selama ini dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Arya Daringin merasa sangat puas.
Dia masih telanjang sampai pinggang dan sudah merindukan istrinya. Melihat jam saku, baru lewat beberapa menit dari pukul dua belas. Sisi tempat tidur tempat Ghea berbaring tidak lagi hangat, itu mungkin berarti Ghea telah pergi cukup lama.
Dia akan segera datang, Arya Daringin berkata dalam hati sambil memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya, tapi membukanya lagi.
Aku harus menemukannya.
Dia turun dari tempat tidur dan memakai kemeja dan celananya.
Di luar pintu ada salah satu pengawal.
“Hei, apakah kau melihat istriku?” Arya Daringin bertanya.
“Ya, Pangeran, Gusti Putri pergi ke pekarangan,” jawabnya.
Arya Daringin mengerutkan kening.
Pekarangan. Apa yang mungkin diinginkan Ghea saat itu di pekarangan? Saat itu sudah sepi dan orang-orang sedang tidur.
Dia memutuskan untuk mencari Ghea.
***
“Maksudmu bukan itu, sayangku,” kata Waiz lagi, sembari mondar-mandir dengan gelisah.
Ghea bisa melihat duka di matanya, tapi dia sudah tidak peduli lagi. Dia beisa melihat Waiz membawa pedang di balik jubahnyayang tampak dari gagang pedang yang menonjol ke luar.
“Waiz, aku minta maaf, tapi aku tidak bisa melakukan ini lagi. Aku bukan wanita yang kamu cintai, aku sudah berubah.”
Waiz tidak berkata apa-apa.
Hanya ada mereka berdua di sudut halaman dengan sedikit cahaya. Ghea harus kembali sebelum suaminya bangun.
“Untuk apa kamu membutuhkan pedang?” tanya Ghea dan Waiz mengeluarkannya. Bilah pedang bersinar dalam cahaya redup.
“Kau menyuruhku membawakanmu pedang saat kita akan pergi, kau bilang untuk berjaga-jaga jika terjadi perang dan kau harus melindungi dirimu sendiri.”
“Aku bilang begitu?” tanya Ghea terkejut.
“Aku tidak bisa membiarkan dia menang,” gumam Waiz.
“Ini bukan pertandingan, Waiz,” Ghea menimpali.
“Bukankah dia bilang ini pertandingan. Selalu seperti ini dan untuk pertama kalinya, kaulah satu-satunya kesempatanku untuk membalasnya. Kau bilang kau tidak mencintainya. Kau mencintaiku.”
Waiz berjalan mendekati Ghea.
“Aku pasti mengatakan itu saat aku masih menjadi diriku yang dulu, Waiz.”
“Apa kau ingat kau memberiku cincin yang dia berikan padamu pada malam pernikahan itu? Kau memintaku untuk memberikannya padamu dan melamarmu dengan cincin itu di hari kita akhirnya akan pergi.”
Waiz mengeluarkan sebuah cincin berlian yang berkilauan bahkan dalam kegelapan.
Ghea terkesiap
Ghea satunya lagi!
“Lihat Waiz, aku mengerti semua yang kamu katakan. Tapi itu bukan aku. Itu adalah Ghea yang dulu.”
“Kalau begitu mungkin aku perlu mengambil kembali Ghea yang dulu,” kata Waiz, tiba-tiba melemparkan pedang ke tanah dan mencengkeram pundak Ghea. Mendadak dia mencium Ghea. Ghea mencoba mendorongnya, tapi Waiz menggenggam kedua tangan Ghea di belakang punggungnya.
Ghea menggigit bibir Waiz dan merasakan darah. Waiz melepaskan ciumannya. Dia melihat ke belakang Ghea, dan dari tatapan itu Ghea tahu dirinya sudah mati.
“Hai, Kakang,” kata Waiz dengan nada penuh kemenangan kepada orang di belakang Ghea.
Ghea tidak bisa berbalik atau bergerak atau bernapas. Dia tidak bisa melakukan apa pun selain berharap mati saat itu juga.
Napasnya memburu ketika mendengar suara Arya Daringin.
“Ghea!”
Lalu Ghea berbalik. Suaminya berada tepat di dekat pintu masuk pekarangan dan tatapannya membayangkan luka yang dalam, seakan baru saja ditikam di dada.
Ghea bergegas menghampirinya.
“Aku bersumpah, ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Kangmas. Aku ingin mengakhirinya. Aku datang untuk mengakhirinya.”
“Untuk mengakhiri apa? Maksudmu, kau telah menemuinya selama ini?” tanya Arya Daringin, lemah.
“Itu bukan aku, sumpah,” teriak Ghea sambil berlutut.
“Kau meninggalkan tempat tidurku untuk bertemu kekasihmu. Ya, Tuhan! Aku telah tertipu. Aku bodoh karena mendengarkanmu! Aku bodoh karena jatuh cinta padamu! Ya Tuhan!”
Arya Daringin menggelengkan kepalanya sambil meletakkan tangannya di dadanya dan bersandar di tembok.
“Tidak, Kangmas. Aku mencintaimu. Itu bukan aku. Aku sudah menceritakan semuanya padamu—”
“Semuanya? Aku pikir kau sudah menceritakan semuanya, tapi sekarang aku sadar semuanya adalah bohong! Kenapa aku pernah percaya padamu?”
“Kakang! Sadarlah! Dia adalah kekasihku selama ini, bahkan sebelum kau menikah.” kata Waiz sambil berjalan ke arah Ghea dan Arya Daringin.
“Tidak, tidak, itu bukan aku,” kata Ghea memelas sambil memegang tangan Arya Daringin yang kini menatap Waiz dengan kebencian yang belum pernah ada sebelumnya.
“Aku benci kau! Kau adalah hal terburuk di keluarga ini. Kau sangat menyedihkan dan aku merasa kasihan padamu. Kau sudah mati bagiku, Wisang.”
Waiz menertawakan kemarahan Arya Daringin dan melemparkan cincin itu padanya.
“Dia memberiku cincin ini pada malam pernikahanmu. Seharusnya kau mengasihani dirimu sendiri.”
Arya Daringin tersenyum dingin dan menangkap cincin itu dengan tangannya, lalu dia menatap Ghea.
“Kau dan orang-orangmu akan membusuk di neraka dan untukmu…” katanya kepada Waiz. “Kau baru saja menyatakan perang, saudaraku. Aku akan dengan senang hati membunuhmu dengan tanganku sendiri.”
Kemudian Arya Daringin berbalik tanpa menatap Ghea. Dia berjalan pergi sementara Ghea menangis sejadi-jadinya. Hati Ghea hancur dan dia tidak bisa menghentikan kepergian suaminya.
Ini mimpi buruk…
Ini tidak seharusnya terjadi…








