Home / Fiksi / Cerpen / Kencan Penyamaran

Kencan Penyamaran

Kencan Penyamaran
5

Washington, D.C., Oktober 1965

Aku pasti melewatkan pelatihan Agensi tentang cara bersin dengan masker lateks wajah penuh tanpa membuka penutup.

Secara harfiah.

“Gesundheit. Dan permisi, nona, tetapi wajah Anda tampaknya telah berpisah dengan leher Anda. Très Marie Antoinette.”

Mitra sementaraku menggerakkan jarinya secara dramatis di sepanjang kerahnya, sambil terkekeh. Saputangan yang dia tawarkan sangat rapi, dengan lipatan yang ditekan dengan tajam.

“Apakah kamu menyetrika ini atau menaruhnya di bawah kasur? Satu-satunya sapu tangan lain yang pernah aku lihat dengan tepi yang tajam ini adalah milik kakekku, dan aku yang menyetrikanya sendiri.”

Aku mencoba untuk membuang ingus tanpa memperburuk keadaan. Yang membuatnya tertawa, dan tawanya membuatku tertawa. Itu sering terjadi pada tugas ini.

Dia mengabaikan upayaku untuk mengembalikan sapu tangannya.

“Anak kolong, ya?”

“Turun temurun sejak Perang Saudara.”

“Sama. Apa Anda tidak terkejut mengetahui kaus kaki anak-anak lain tidak kusut?”

Aku menahan tawa kecil ketika petugas Secret Service di kursi depan melotot ke arah kami dari balik kacamata Ray-Ban-nya.

Untuk seorang agen CIA, rekanku punya selera humor yang aneh. Bukannya aku mengeluh—itu membuat kami tetap waras selama dua minggu terakhir saat kami mengamankan perdamaian dunia dengan berpura-pura menjadi duta besar Prancis dan sekretarisnya yang loyal.

Tentu, berkeliling pusat kota D.C. dengan limusin plat nomor diplomatik tampak seperti pekerjaan yang cukup nyaman. Bahkan glamor. Jauh dari bazar steno Agensi tempatku menghabiskan lima tahun pertamaku di Langley. Namun, ada sisi buruk dari pekerjaan mata-mata.

Sebagai permulaan, siapa tahu kapan orang gila dengan pistol dan dendam membaara akan mulai menembaki kami, mengira kami adalah McCoys yang sebenarnya. Lalu ada gaun-gaun lusuh ini, topeng yang menyesakkan, wig bouffant yang gatal, dan kacamata mata kucing plastik yang jelek.

Begitulah gaya Prancis yang terkenal. Dan pria kurus yang duduk di sebelahku tampak dan terdengar persis seperti atase yang ramah dan suka bepergian dengan pesawat jet yang fotonya terpampang di seluruh kios koran.

Tapi, tidak ada yang tahu apa yang ada di balik topeng itu. Kerja lapangan mengajarkanmu untuk mempertanyakan segalanya. Seperti, mengapa orang Prancis palsu ini tampak—terasa—begitu akrab? Dia mengingatkanku pada …

Tidak. Tidak mungkin.

Dengan hati-hati dia mengusap rambut palsunya, berhati-hati agar tidak mengganggu ikal yang diberi Brylcreem.

“Sebelum kita sampai di pesta kedutaan—Yah, ini malam terakhir kita dan sekarang tugasnya hampir selesai—Ini bukan protokol, Mademoiselle Robbins, tapi…”

Ray-Bans mendengarnya dan menatap kami dengan tajam. Pengemudi berbadan besar itu menyeringai simpatik di kaca spion.

Rekanku menekan beberapa tombol kecil di sampingnya, dan sekat pembatas kaca terangkat.

Aku menyembunyikan senyum kemenangan di balik tas tanganku.

“Ternyata memang kamu! Sudah lama, Duta Besar O’Reilly. Apa kabarmu, John?”

“Apa yang membuat aku ketahuan, Sarah?” Aksen Prancis yang kental itu menghilang, dan suara Texas yang bergemuruh yang kuingat muncul.

“Bekas luka di ibu jarimu itu.”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

“Gara-gara kau melempar papan catur ke aku?”

“Aaku tidak suka dituduh curang.”

Tawanya mengalir deras di dalam diriku bagai wiski. “Kalau begitu, kau seharusnya tidak menendang papan catur itu. Tidakkah kau malu pada diri sendiri, seorang cewek berteriak-teriak di gelanggang mahasiswa?”

“Kamu tahu betul aku tidak akan—Oh, kamu membuatku emosi! Tunggu sebentar. Bagaimana kamu tahu itu aku?”

“Bersinmu yang seperti kucing. Bersin itu seperti sidik jari—tidak ada dua yang sama.”

“Kita seharusnya tidak berbicara seperti ini. Kamu tahu aturannya.”

Aku menggeser jari-jariku keluar dari bawah jarinya, dan memperhatikan daun oranye terang yang menempel di jendela yang terkena hujan.

“Sejak kapan kau dan aku mematuhi aturan?”

Nada bicaranya yang malas dan membujuk, yang sama yang hampir membuatku kabur bersamanya sepuluh tahun lalu. “Ingat malam ketika aku—”

“Kita sebaiknya mengganti topik,” kataku.

Tepi daun itu berkibar seolah siap terbang ke senja Oktober yang gelap. Aku menoleh padanya.

“Oh, John…”

Dari balik topeng, matanya berbinar.

Jantungku dan limusin itu berakselerasi bersamaan dengan dentum peluru yang tidak salah lagi.

John menghantam partisi, dan kami berbelok di tikungan berikutnya seperti roket Apollo. Gerakan mendadaknya membuatku terjepit oleh tubuhnya.

Aku melepaskan diri dari lengan besi itu dan mengintip ke luar jendela belakang. Mobil yang membuntuti kami semakin mendekat. Kami menarik pistol dinas kami. Saling memandang selama sedetik.

“Aku akan membidik sopir. Kamu ambil roda?” Matanya kembali ke mobil di belakang kami.

“Oke.”

Belasan blok kemudian, limusin itu meluncur turun dari jalan parkir bawah tanah dan berbelok ke sudut yang dalam. Pengemudinya mematikan mesin.

“Kami ambil alih dari sini, O’Reilly,” kata Ray-Bans setelah menunggu dalam keheningan yang menegangkan. “Kalian berdua pergilah.”

John melepaskan topeng dan rambut palsunya.

Mengapa aku begitu senang melihat rambutnya yang hitam legam masih mencuat ke segala arah?

Setelah topeng dan rambut palsuku kubuang, aku mengibaskan rambutku, memoles lipstikku, berganti sepatu hak tinggi perak dan membalikkan mantel wolku yang bagus ke sisi satin yang anggun.

Aku menyadari tatapan matanya yang mengawasi, dan detak jantungku kembali berpacu.

Saat kami tiba di Pennsylvania Avenue, kami hanyalah pasangan lain yang berjalan-jalan ke Willard Hotel untuk makan malam yang menyenangkan. Namun, lengannya di sekitarku terasa lebih dari sekadar kamuflase.

“Kau masih mengenakan cincin itu.”

Dia mengusapnya dengan ibu jarinya yang terluka. Aku melihat sehelai daun merah tua berputar-putar di depan kami.

“Tidak pernah punya niat untuk melepasnya.”

Ciuman yang dia berikan padaku di tangga hotel akan meyakinkan siapa pun bahwa kami sepasang kekasih.

Termasuk aku.

Bekasi, 24 Mei 2025

Tag:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image