İshak Ağha kembali mengingat adiknya, İlyas Reis—yang kala itu sangat senang, saat awal mula diajak berlayar oleh Oruç Reis. Sementara, Hizir Reis ikut bersama Darwis Effendi untuk memperdalam ilmu perdagangan di Dermaga Lesbos.
Saat kembali dari pelayaran yang menyenangkan, İlyas Reis selalu berlari mencium tangan kakaknya, lalu memeluknya dengan hati riang, dan İshak Ağha pun ikut senang. Lalu, İlyas berjalan-jalan dengan sahabatnya sejak kecil yang beragama nasrani, Niko.
Niko sendiri mengapa ikut keluarga Yakub Ağha—ayah dari İshak Ağha bersaudara? Karena sejak kecil, ia dirawat oleh Yakub Ağha setelah ayahnya Niko, Mikael mengalami kecelakaan kala berlayar di samudra menuju Alexandria. Kapal yang ditumpangi Mikael terhempas oleh badai yang tiba-tiba cuaca menjadi buruk.
İlyas Reis tak pernah meninggalkan Niko, sehingga Niko sudah merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Yakub Ağha. Tatkala Niko berbuat salah di keluarga Yakub Ağha, İlyas ‘lah yang selalu membela Niko agar terhindar dari ayahnya. Karakter dengan hati lembut itulah yang membuat Yakub Ağha sekeluarga begitu menyayangi İlyas Reis.
“Kau adalah saudaraku, meski tidak satu keyakinan, dan aku adalah saudaramu, meski kita berbeda Tuhan.” Begitulah kata-kata İlyas Reis terhadap Niko.
“Aku berjanji padamu, İlyas. Saat engkau berada dalam bahaya, aku akan menjadi perisai bagimu.” Balas Niko.
Namun, kata-kata itu kini hanya menjadi sebuah kenangan. Niko tampak sangat menyesal, karena ketika İlyas pergi berlayar bersama Oruç Reis, ia sedang tidak ada di Midili. Saat itu, Niko sedang berada di Sisilia mencari arloji milik ayahnya yang tertinggal di kediaman seorang tabib, kala ayahnya jatuh sakit.
Sepulang dari Sisilia, Niko bagaikan tersambar petir di siang hari, ia mendengar kabar bahwa İlyas—yang sudah dianggap sebagai saudaranya sudah terbaring tak bernyawa. Tak ayal, Niko pun menangis sejadi-jadinya.
Begitu pun Oruç Reis, pelayaran yang kesekian kalinya bersama İlyas, justru membuat İlyas kehilangan nyawanya. Oruç menyesal hanya membawa beberapa levent-nya. Sementara, levent yang lainnya ditinggalkan di Unita, yaitu sebuah organisasi pelayaran¹ tempat İsabel bekerja—yang dimana Oruç Reis mengambil barang dagangan dari sana.
“Wahai saudaraku yang berhati lembut, kini tawa-mu hanya terlihat di dalam mimpi. Bagaimana jiwa kami dapat menghilangkan haus karena rindu, oy İlyas-ku. Kami tak meminta apapun kepadamu, hanya belas kasih Allah ‘lah semoga tercurahkan kepadamu.” Tutur İshak Ağha sembari meneteskan airmata.
Air wajah İshak Ağha tentunya tengah berkisah tentang kenangan adiknya. Begitu pun, Oruç Reis, Hizir Reis, dan Niko dalam diam menyimak kisah-kisah İlyas dari wajah İshak. Hingga pada akhirnya, suasana beku itu seketika mencair, karena kedatangan Bülbül—salah satu levent Oruç Reis dengan membawa berita.
“Oruç Reis, İshak Ağha. Aku sudah mendapatkan berita dari Yareli, dan Müneccim, jika yang bernama Antuan itu, ia lebih dikenal dengan sebutan Poseidon. Ia memakai baju serba hitam.” Kata Bülbül kepada İshak Ağha dan Oruç Reis.
Ternyata, pada saat di Lesbos menuju Midili, Oruç Reis mengirim Yareli dan Müneccim untuk mengetahui siapa sebenarnya Antuan itu dengan berangkat ke Laut Aegea, yaitu laut terdekat dengan pulau Rhodes.
Mereka berdua menggunakan perahu kecil—dengan menyamar sebagai petani Venesia, sehingga keberadaan mereka berdua tidak dicurigai.
Yareli dan Müneccim, berhenti di tepi Laut Aegea, lalu berpura-pura memanen tanaman sambil menguping obrolan dari pasukan Rhodes.
Setelah informasi dirasa cukup oleh keduanya, mereka pun kembali ke Midili dengan membawa tanaman—yang itu juga tanaman pura-pura, agar tidak menjadi perhatian pasukan Rhodes.
Di Midili, segala kenangan tentang İlyas Reis tidak akan pernah terhapus. Namun, sekarang bukan saatnya untuk berduka, melainkan untuk melakukan pembalasan kepada Antuan si Hitam atau yang biasa disebut dengan nama Poseidon.










