Belum lama, masuk keluhan dari seorang penulis tentang keresahan diri karena novel yang telah susah-payah dicipta olehnya, ternyata banyak beredar di dunia maya atas nama penulis lain, alias telah diplagiasi.
Keresahan tersebut kian menjadi pasca penelusuran pribadi penulis asli yang kemudian mendapati kenyataan bahwa novel besutannya tersebut -selain diplagiasi secara pyur-plek mulai dari prolog hingga ending- juga melibatkan pelaku yang cukup banyak.
***
Maaf, aku bingung ini. Ternyata “Tumbal Janin” banyak yang memplagiat, dan bertebaran di mana-mana.
Ada yang spoiler juga.
Padahal, aku nggak pernah up di Cersem (Grup Cerita Seram Blabla-Red.) ta opo iku. Judule ya beda pisan. Asli iki plagiat
Wes aku nyerah. Batalin aja deh, wurung dah pada tahu.
***
Tak pelak lagi, banyak saran berguliran menanggapinya. Mulai dari yang berat dan berbau-bau ranah hukum dari rekan penulis yang memang berlatar belakang bidang hukum hingga saran-saran lainnya seperti merubah ending menjadi twist, dan lain-lain yang intinya senada yaitu memberi upaya tambahan sebagai penulis asli agar karya yang telah diplagiasi tersebut menjadi berbeda dan lebih kilap sebagai karya ketika kemudian diterbitkan.
Termasuk masukan dari salah satu pegiat paling kuno dunia kepenulisan digital, yang kabarnya telah mulai menjelajah sejak dunia jaringan belum familier di negeri ini, bahkan jauh lebih lawas lagi dari periode tersebut.
***
Tulisan yang udah dibaca ribuan kali masih ada ribuan lagi yang belum baca.
Dari pengalamanku, hanya sedikit yang batal beli karena ‘udah baca versi online’nya.
Itu juga makanya aku bilang jangan hapus atau tutup semua. Cukup bagian akhir.
(Tak perlu juga mengubah ending). Yang penting buku cepat terbit dan (karya) yang (di-share secara) online digantung (endingnya).
Yang membedakan versi online dan (versi) buku (yang telah diterbitkan) punyaku (terletak) di footnote dan revisi, termasuk perbaikan logika.
Makanya jika hanya baca dari (yang versi) online, rugi.
***
Lengkap sudah saran yang didapat. Singkat. Padat: Muncrat!
Tak heran bila keresahan Lely Rosyidah langsung lesap. Meski benar tak seratus persen menguap, tapi setidaknya mampu mengubah dari yang sebelumnya patah arang menjadi kembali berani untuk setidaknya bernafas lebih lega.
Betapapun, memang tak ada karya yang dapat luput dari tindakan plagiasi dan pembajakan dalam era 4.0 kini. Tak peduli dimuat pada platform manapun. Termasuk yang gembar-gembor penuh jaminan sebagai satu-satunya wadah yang tak bisa diplagiasi, yang sontak membuat retak dada bocah SD saking tak kuatnya menahan pingkal.
Sebenarnya, ada alternatif saran lainnya yang terbilang ektrim namun dijamin tidak hanya bisa menenangkan penulis yang karyanya telah kadung diplagiasi tersebut, melainkan pula sekaligus memberi permen manis yang mampu membuat mata penulisnya niscaya berubah sumringah penuh binar semangat, yaitu: Penggunaan logika terbalik!
Yang paling wajib untuk dipahami terlebih dahulu ketika sebuah karya diplagiasi, diduga keras bahwa karya tersebut bagus, menjual atau setidaknya memang memiliki nilai lebih yang tak dimiliki oleh karya serupa di pasaran. Itu poin yang paling utama.
Poin yang kedua? Jangan pernah abaikan pemeo kuno bahwa bad news is a good news.
Akhirnya poin ketiga menjadi sebuah alternatif tindakan yang dirasa paling tepat guna untuk dilakukan, yaitu mengubah kengehekan di atas menjadi sebuah promosi yang ‘tak biasa’. Termasuk pencantuman label dalam cover yang kini sah-sah saja untuk dibuat menjadi lebih meluas dan variatif, tak melulu sekadar diberi embel-embel sejenis ‘Novel Best Seller’ dan semodelnya.
Sila tes cara Si Bay. Cantumkan kalimat dalam cover depan: “Novel paling banyak diplagiasi di Komunitas dan Grup Fiksi!” lalu cetak serta nantikan efek terbaiknya. Sebuah alternatif yang cukup menarik, bukan?
Jika misalnya ada yang memborbardir karena pencantuman label tak lazim ini, tak usah khawatir. Dalam kasuistik Plagiasi Novel Tumbal Janin karya penulis bernama pena Lely Rosyidah ini, ketika naskah telah masuk ke dalam lingkaran Grup MB, secara otomatis bukan hanya penulisnya yang terkena tanggung jawab. Ada rombongan ‘orang gila’ lain yang mau tak mau bakal turut mengurusinya: penerbit, pengampu, kurator, pencari kutu bahkan jangan dilupakan pula sosok fenomenal yang kadung diberi merek Sang Tukang Pisuh Abadi di Negeri Anying-Anying. Paket Komplet!
Setidaknya, hal ini bisa mengurangi beban sang penulis karya. Cukup satu gila di kelompok itu saja umumnya telah bisa bikin keder lawan diskusi. Terutama bila mengingat para gila itu tak bisa disamakan dengan gerombolan hyena kosong-melompong tapi banyak mulut serta hanya mengandalkan kemampuan keroyokan ketika ada yang menyenggol salah satu mereka meski sifatnya diskusi berbasis keilmuan sekali pun, dengan pola khasnya pernah begitu terkenal setidaknya dalam dekade terakhir ini di dunia literasi negeri. Apalagi bila semuanya turun gunung dengan cara khas semasingnya dari mulai melayang anggun, terjun bebas bahkan hingga ala menggelundung sambil genggam pisau tikam karya buah olah pikir melalui ujung jari.
Lantas, bagamana pula dengan nasib serta peruntungan naskah novel “Tumbal Janin” yang memang telah direncanakan untuk diterbitkan dalam jangka waktu dekat ini? Apakah bakal berpotensi untuk langsung basi-sepi peminat-tak menuai pembeli buah masifnya plagiasi hingga kadung tersebar ke banyak grup dan komunitas fiksi?
Jangan lupa fenomena mengenai Jalan Tikus-Jalan Mulus.
Taruhlah permisalan Novel “Tumbal Janin” diplagiasi serta tersebar pada 20 Grup/Komunitas yang memiliki keanggotaan masing-masing tak kurang dari 300 ribu anggota.
Baru sekitar enam juta pembaca.
Itupun bila semua membaca.
Pun bila memang benar jumlah member masing-masing grup tersebut mencapai 300 ribu karena tak banyak grup yang mampu untuk mencapai performa sebaik itu.
Sementara nun di luar sana, setidaknya masih terdapat lebih dari 200 juta calon pembaca yang belum tersentuh.
Karena semua tak lebih sekadar jalan tikus.
Jauh berbeda dengan –misalnya- bila karya diplagiasi hingga menembus Jalan Mulus media dan atau penerbit mayor, yang meski terkenal hanya memberi royalti tak seberapa dalam penantian relatif lama namun tetap harus diakui memiliki akses pembacaan luas menembus nyaris seluruh sekat dan batas.
Bila kasus plagiasi telah bergulir hingga ke Jalan Mulus, tak ada kompromi lagi. Wajib untuk diurus hingga tuntas!
Jangan pula melupakan fenomena yang tak kalah penting lainnya, yaitu: Pangsa Bergulir.
Contoh sederhana yang baru-baru ini Si Bay alami adalah novel Mandat dari Pakde (MdP).

Bergulir dari yang awalnya meledak ketika diposting di akun pribadi, dengan tipikal pembaca utama bertipe serius, peminat teks politik serta rajin saling umpat dan bertukar anjing ke rival politik, setelah diterbitkan justru berubah.
Tak tanggung-tanggung, pergeseran pangsa pembaca jauh melampaui imajinasi penulisnya sendiri, yaitu menjadi dikonsumsi dengan amat bersemangat oleh kalangan yang lebih segar secara usia. Teenager.
Padahal, sebagai karya, MdP termasuk novel yang berkategori lumayan berat karena berbasis politik serta beberapa fragmen disuguhkan dengan teknik penulisan yang mengacu kepada genre yang biasa dikenal sebagai ‘kerap butuh pembacaan lebih untuk bisa memahami isinya: Surealisme.
Ajaibnya lagi, masih pula ada yang mengkategorikan MdP sebagai novel petualangan, sebuah pengkategorian yang amat menjengkelkan keajaibannya.
Kembali ke “Tumbal Janin”, bagaimana nasib novel yang telah kadung diplagiasi tersebut, dalam kaitannya dengan peruntungan pasca diterbitkan?
Saran terbaik yang dapat Si Bay berikan, yaitu: Tak usah banyak pusing.
Selesaikan perbaikannya secepat kemampuan, lalu terbitkan. Jangan lupa cantumkan di cover depan:
NOVEL PALING BANYAK DIPLAGIASI DI KOMUNITAS DAN GRUP FIKSI!
Apakah masih butuh dirombak ulang?
Bila niatnya demi lebih menyelusupkan ‘kesadaran berlapis’ dalam teks tersebut, silakan. Bahkan hal itu menjadi upaya yang amat terpuji karena dapat membuat teks “Tumbal Janin” menjadi tetap diburu untuk dikoleksi para penggemarnya, tak peduli meski mereka misalnya telah hafal kisahnya buah pembacaan dari jalur penyebaran plagiasi itu sendiri sekalipun.
Namun bila rewrite yang dilakukan hanya demi upaya menjadikan teks “Tumbal Janin” berbeda dengan versi plagiasi yang telah kadung tersebar, sungguh upaya yang amat sia-sia.
Mengapa tak mengalihkan energi tersebut untuk membuat season 2, misalnya? Selain lebih mengukuhkan kehormatan dan jati diri sebagai penulis asli, sekaligus pula berfungsi memelihara lingkaran penggemar dasar yang telah tercipta.
Hanya sesederhana itu dari Si Bay yang memang sosok sederhana ini.
Salam literasi, bye from Bay.
***
Catatan:
- Tulisan ini di buat tahun 2021, sebelum Tumbal Janin terbit di Pimedia.
- Mandat dari Pakde dan Tumbal Janin bisa dipesan melalui komentar artikel ini, kontak pimedia, atau langsung pada penulisnya. Bisa juga dibeli online. Tinggal googling ajah.











