Matahari makin merangkak naik, panas terasa menyengat, tapi tak meluruhkan semangat untuk melanjutkan perjalanan. Aku berjalan paling depan, angin pegunungan yang bertiup membuat jilbabku berkibar pelan. Di belakang, Zack–pria tinggi berambut pirang dengan mata biru yang selalu tampak penuh kekaguman–berjalan beriringan dengan Ayesha.
Sejak awal, aku sudah menangkap sesuatu yang berbeda dari cara Zack memandang perempuan itu. Ada semacam sorot lembut, rasa ingin melindungi, yang sulit disembunyikan bahkan oleh turis paling pendiam sekalipun. Dan setiap kali Ayesha menatap balik dengan senyum yang terlihat malu-malu, aku tahu sedang berada di antara dua orang yang sedang jatuh cinta, meski baru beberapa saat berkenalan, keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama mungkin.
Namun, aku yang diberi amanah mengawal mereka, kemesraan itu sedikit mengusik konsentrasinya. Bukan karena cemburu atau terganggu secara pribadi, tapi karena aku harus memastikan setiap penjelasan tentang Zeksplorasi sejarah ini tak terlewatkan, agar perjalanan tidak sia-sia. Sementara di belakang selalu terdengar bisik-bisik Zack dan Ayesha yang terdengar seperti gumaman manis.
Sebelum meninggalkan lokasi, Zack berbalik arah, sekali lagi menatap reruntuhan batu yang menyimpan banyak misteri tentang kekuasaan Wangsa Sanjaya di masa silam. Zack masih menggenggam jemari Ayesha, “Keindahan sejarah di sini sangat menarik, indah, dan menyimpan banyak misteri. Like… history carved by the wind.”
Ayesha tertawa kecil, matanya berkilat. “Kamu ini puitis banget, ya?”
Zack tertawa, memamerkan deretan giginya yang putih di antara rahang tegasnya. Aku hanya tersenyum singkat. Fokus untuk tetap profesional. Lagipula bukan urusanku juga. Biarlah kemesraan itu menjadi urusan mereka.
“Setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan,” ujarku sambil menunjuk arah ke depan, “Kalau Kamu berdiri sedikit ke kiri, bisa melihat garis lurus yang mengarah ke Borobudur.”
“Wah, benar juga.” Zack langsung bergerak, menarik Ayesha bersamanya. Keduanya mengambil photo dengan latar pegunungan Menoreh yang seolah mengelilingi tempat kami berdiri saat ini.
“Kita harus bergegas, perjalanan masih panjang,” tegasku mengingatkan sambil berjalan mendahului menuju mobil, membuka aplikasi pencarian di ponsel untuk menentukan tujuan selanjutnya. Zack menyusul, masih menggenggam tangan Ayesha, keduanya memilih duduk di bangku belakang. Aku hanya mengedikkan bahu, meski tiba-tiba merasa seperti menjadi supir bagi pasangan bucin tersebut.
*
Aku melajukan mobil menuju Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, akhirnya sampai juga di lokasi yang dituju. Sebuah Candi yang berjarak sekitar 28 km dari situs Samberan.
Setelah sampai di Desa Kembangkuning, mobil kuparkir di area parkir terdekat. Lokasi candi yang berada di perkampungan penduduk tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan kendaraan roda empat.
“Kita sudah sampai,” ujarku.
“Di mana candinya?” tanya Zack, mengamati sekitar dengan penasaran.
“Kita lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Mobil tidak bisa lewat,” jawabku.
“Jauh?” tanya Ayesha.
“Lumayan, tapi jangan khawatir, pemandangannya bagus.” Aku berjalan mendahului. Tak ingin membuang waktu karena takut kesorean.
Kami berjalan beriringan melewati jalan setapak di antara sawah terasering dengan latar belakang perbukitan hijau dan hutan kecil, juga sungai kecil yang membuat suasana semakin asri. Meskipun sedikit menantang, jalur sepanjang 2km ini cukup mudah dilalui dan menawarkan pemandangan spektakuler sepanjang perjalanan yang merupakan salah satu daya tarik utama Candi Selogriyo
Setelah berjalan kaki kurang lebih 30 menit, akhirnya kami sampai di gapura pintu masuk candi. Zack memintaku mengambil photo berdua dengan Ayesha. Candi yang terletak i lereng timur Gunung Sumbing ini secara spesifik berada di antara tiga bukit, yaitu Bukit Condong, Bukit Giyanti, dan Bukit Malang, dan berada di ketinggian sekitar 740 mdpl.
“Boleh saya tebak, Candi … Selo gri yo ….” Zack mengeja huruf yang berada di bagian depan candi. Cara Zack mengeja membuat Ayesha tertawa.
“Candi Selogriyo.” Aku menegaskan cara pengejaan yang benar. Zack nyengir malu.
“Candi Hindu?” tanya Zack, rupanya bule ini sudah bisa membedakan dengan tepat perbedaan candi Hindu dan Buddha.
“Yup, Candi Selogriyo adalah salah satu candi Hindu. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi saat masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini merupakan peninggalan Hindu yang digunakan sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa,” lanjutku menjelaskan.
Zack dan Ayesha berjalan mengelilingi candi, mengamati setiap detail candi yang memiliki bentuk persegi dengan atap berbentuk limas. Aku menunjuk bagian dalam candi, menjelaskan bahwa terdapat sebuah ruangan kecil yang kemungkinan dulu digunakan untuk menempatkan arca pemujaan.
Jika dilihat dari bentuknya, sepertinya struktur candi sempat mengalami kerusakan akibat gempa dan longsor. Tapi sudah dipugar kembali sehingga masih bisa dinikmati hingga sekarang.
Zack berdiri pada sisi dinding candi, mengamati dengan takjub. Aku mendekat, menjelaskan setiap sisi candi. Arsitektur Indonesia klasik berlatar belakang Hindu ini menghadap ke arah timur. Di empat sisi dinding bangunan candi terdapat lima relung tempat arca-arca perwujudan dewa. Pada dinding utara terdapat Mahisasuramardini, pada dinding barat terdapat Ganesha, Agastya pada dinding selatan, serta Nandiswara dan Mahakala pada dinding timur di kanan kiri pintu masuk.
Salah satu keistimewaan candi tanpa perwara ini adalah kemuncaknya yang berbentuk buah keben. Kemuncak tersebut disebut amalaka.
“Secara mitologi, Candi Selogriyo dianggap sebagai gambaran dari Gunung Mahameru,” ujarku menambahkan penjelasan. Zack dan Ayesha memandangku bersamaan.
“Hindu kuno memiliki keyakinan yang mengasosiasikan tempat tinggi sebagai kediaman para dewa. Beberapa alasan spesifik di balik mitologi ini karena Candi ini terletak di lereng Gunung Sumbing, diapit oleh tiga gunung lain yaitu Sumbing, Sindoro, dan Merbabu. Lokasi yang terpencil dan tinggi ini dipilih secara sengaja untuk menciptakan suasana sakral dan mendekatkan diri kepada para dewa, mirip dengan puncak Gunung Mahameru yang diyakini sebagai pusat spiritual dan tempat bersemayam Dewa Siwa.”
Zack mengangguk-angguk, aku mengakui jika laki-laki ini wawasannya luas, tentu dia lebih paham dengan setiap paparan yang kusampaikan. Sementara Ayesha lebih pada bergantung pada Zack untuk menuntaskan rasa ingin tahunya.
“Selain itu untuk menjaga “Gunung Mahameru” versi miniaturnya ini, Dewa Wisnu menempatkan empat dewa di sisi-sisi candi. Keempat dewa tersebut digambarkan dalam bentuk relung atau ceruk arca pada dinding luar candi,” lanjutku.
Aku mengajak Zack dan Ayesha duduk di pelataran candi yang ditumbuhi rumput. Menatap bangunan yang merupakan simbolisme Arsitektur Hindu tersebut.
“Dalam arsitektur Hindu, atap candi yang disebut svarloka mewakili dunia para dewa, dan seluruh bangunan candi dirancang sebagai replika mikrokosmos dari alam semesta, dengan Gunung Mahameru sebagai pusatnya. Candi Selogriyo ini, meskipun ukurannya relatif kecil, dia dibangun dengan struktur dan tata letak yang mencerminkan kosmologi Hindu ini. Maka bisa disimpulkan bahwa Candi Selogriyo bukan sekadar bangunan fisik, tapi sebuah manifestasi keyakinan spiritual dan kosmologis Hindu yang menggambarkan tempat suci para dewa di bumi,” pungkasku. Aku mengakhiri penjelasan, berjalan menuju pintu keluar karena matahari mulai bergeser ke barat.
Zack terlihat masih berat meninggalkan lokasi, karena lokasinya yang cukup tersembunyi, tempat ini masih jarang dikunjungi wisatawan sehingga suasananya sangat tenang. Tak heran jika banyak orang datang ke candi ini untuk mencari ketenangan, meditasi, atau sekadar menikmati udara segar jauh dari hiruk-pikuk kota, karena suasana benar-benar membuat betah, seperti Zack yang seperti enggan beranjak.











