Home / Genre / Romansa / 9. Proyek Spektakuler

9. Proyek Spektakuler

The Lion of Giza 1600x900
1
This entry is part 10 of 11 in the series The Lion of Giza

Seminggu sudah Hamzah bekerja di sana. Ternyata, perusahaan  itu adalah perusahaan kontraktor untuk pembangunan ibu kota baru yang akan segera dilaksanakan.  Beberapa senior mengatakan bahwa mereka perlu memikirkan matang-matang tentang rencana itu. Mengingat, ini menyangkut masalah kepentingan orang banyak,  terutama untuk masalah  nasional. Ibu kota baru akan dibangun  guna mengurangi tingginya kepadatan  penduduk dan juga kemacetan lalu lintas di jalanan ibu kota.  Salah satu solusi yang menjadi titik temu adalah pemindahan ibu kota dari ibu kota sebelumnya yaitu Kairo ke ibu kota baru.

Suatu hal yang belum dan tidak pernah terpisahkan dalam benak Hamzah, jika dia akan terlibat dalam mega proyek spektakuler yang tidak pernah terbayangkan, apalagi untuk ukuran dirinya yang masih berstatus mahasiswa dan tinggal beberapa bulan akan segera menyelesaikan pendidikannya di bidang arsitektur. Namun, ini juga menjadi satu pengalaman yang sangat berharga dan bisa dijadikan sebagai bahan belajar baginya.

Hamzah menjadi salah satu tim yang dipimpin langsung oleh Mahfud. Baginya, Mahfud tidak hanya sosok yang menjadi teladan, tetapi juga bak seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. Di usianya yang memasuki usia senja, tidak begitu terlihat ada gurat-gurat lelah. Wajah arifnya memancarkan keramahan dengan wibawa yang terpancar dari wajahnya.

“Hari ini, kita akan mengecek ke daerah yang akan kita bangun. Aku harap kalian semua bisa melaksanakan semua ini dengan baik, karena ini amanah dari negara demi kemaslahatan orang banyak,” ucap Mahfudz mengawali hari mereka dengan memberikan pengarahan. Tak lupa ia memberikan semangat kepada anak buahnya agak bekerja dengan penuh keikhlasan dan fokus.

Semua mulai bergerak, termasuk Hamzah yang ikut dalam bagian itu. Mata Mahfudz tertuju pada pemuda pendiam nan tenang yang tak jauh darinya.  Seketika ia mendekati Hamzah.

“Hamzah, ikutlah denganku!” titahnya. Hamzah mengangguk. Dia mengikuti langkah Mahfudz dari belakang. Ternyata, Mahfudz mengajak pemuda itu ke salah satu ruangan.Benak Hamzah penuh pertanyaan, Apa yang akan dilakukan oleh Tuan Mahfudz di sini? Mengapa dia mengajakku ke sini? Dan menjauhkanku dari rombongan?

Hamzah terpaku, sebelum akhirnya Mahfud menyuruhnya duduk.

“Duduklah, Hamzah!”

“Terima kasih, Tuan.”

Pemuda itu melihat jalanan kota Kairo yang begitu padat dari tempatnya berada. Memperhatikan kendaraan lalu lalang membelah jalanan.

“Tunggu sebentar di sini, Hamzah!”

“Baik, Tuan.”

Mahfudz keluar ruangan, sementara Hamzah  terdiam dalam duduknya. Pandangannya mengedar ke penjuru ruang. Sungguh, ruangan itu begitu estetik. Perpaduan antara unsur budaya Mesir kuno, sentuhan khas Afrika Utara, dan juga modernitas ala Barat yang kian mempercantik ruangan bercat putih bersih  dan kuning keemasan. Lambang kejayaan Mesir di masa lampau. Dalam hati Hamzah sungguh mengagumi keindahannya

Subhaanallah, siapakah arsitek ruangan yang begitu estetik ini? Manusia seperti apa yang telah terampil mengolah keindahan seni rupa dari masa ke masa? gumam Hamzah dalam hati.

Beberapa menit ia termenung. Memikirkan apa saja hal-hal yang hendak dilakukannya selama magang ini. Hingga akhirnya, terdengar derit pintu terbuka. Hamzah tak menoleh, dia masih duduk tenang.

“Hamzah, ini Fathiya. Rekan kerja barumu,” kata Mahfudz sambil memperkenalkan seseorang kepada Hamzah. Hamzah menoleh. Disampingnya ada seorang gadis cantik berdiri dengan senyum mengembang.

“Halo, aku Fathiya,” sapanya ramah.

“Oh, iya. Aku Hamzah,” jawab Hamzah sedikit bergetar.

“Duduklah, Fathiya. Kita akan berbicara lebih lanjut,” pinta Mahfudz.

“Ini proyek yang sangat spektakuler. Aku berharap, kita tidak hanya bisa mengerjakannya, tetapi juga mengawasi dan turut memantau perkembangan ke depan. Sejauh mana hasilnya. Dan_ fokuskan yang terbaik. Jangan kecewakan khalayak ramai, karena mereka adalah penguasa sesungguhnya,” imbuh Mahfud mantap.

Hamzah dan Fathiya diberi masukan dan juga tata kelola yang akan mereka gunakan guna mendukung tercapainya proyek itu. Pilihan Mahfud tepat dengan memilih Hamzah. Pemuda itu ternyata memang memiliki pemikiran dan ide-ide yang sangat cerdas. Senyum Mahfud mengembang di bibirnya.Hati dan pikirannya puas.

Mereka lantas keluar dari ruangan, mengikuti langkah Mahfud. Di luar, beberapa rekan sudah menunggu dan bersiap akan menuju tempat di mana proyek itu akan segera dibangun.

***

Beberapa hari  sudah berlalu. Hamzah begitu bersemangat mengikuti magang itu. Setidaknya, sebagai tambahan ilmu di luar kampus. Banyak ilmu tak biasa yang diperolehnya dari sana, terutama dari para senior yang telah lama berkecimpung di dunia rancang bangun.

Hari menjelang  siang. Fathiya memperhatikan gerak-gerik pemuda yang kini menjadi rekan kerjanya dari agak jauh. Meski beberapa waktu lalu dia pernah bekerjasama dengan beberapa pria, akan tetapi hal berbeda dirasakannya ketika dia mengenal pemuda Giza itu. Cekatan, trampil, tidak banyak bicara,tapi menunjukkan kinerja dan dedikasi tinggi pada pekerjaan.

“Hamzah layak menjadi pemimpin. Aku yakin, kelak dia akan menjadi salah satu insinyur handal dan disegani di negara ini,”gumam Fathiya lirih. Gadis itu tidak menyadari seseorang telah memperhatikannya semenjak beberapa menit lalu. Orang itu berdeham.  Fathiya terkejut dan seketika membalikkan tubuhnya.

“Oh, Paman. Sudah lama di sini?” tanya Fathiya sembari menutupi perasaannya. Ternyata Mahfud masih kerabat dengan Fathiya.

“Baru saja, Fathiya,” ujarnya berbohong. Dia sebenarnya sudah agak lama memperhatikan Fathiya lebih dari lima belas menit lalu. Namun, rupanya Fathiya tengah asyik memperhatikan Hamzah.

“Duduklah, Paman. Ada yang ingin Paman bicarakan denganku?”

“Tidak, Fathiya.  Hanya saja_tadi ayahmu mengabariku jika kau harus segera kembali ke Alexandria.” Ucapan Mahfud membuat perasaan Fathiya bertanya-tanya.

“Ada masalah apa dengan ayah, Paman?”

“Entahlah. Pulanglah dulu. Mungkin ada sesuatu yang ingin ayahmu sampaikan.”

Fathiya terdiam sejenak. “Bagaimana dengan proyek ini?”

“Tinggalkan sebentar. Lalu, kembalilah.”

“Baiklah, Paman. Aku akan  berangkat besok.”

“Baiklah. Sampaikan salamku pada ayahmu, Nak.”

“Insya Allah, aku sampaikan, Paman.”

The Lion of Giza

. Tawaran 0. Kerinduan
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image