Aku bukan orang gila. Meski memang tergila-gila padanya. Terkutuklah yang membawanya pergi dari sini!
***
Aku biasa menghabiskan penat dengan berjalan dari satu pameran seni ke pertunjukan yang lain. Aku bukan ahli yang tengah meneliti, hanya pengagum yang bahkan kadang tak mengerti maksud seniman melalui karyanya.
Seperti petang bermega megah itu, adalah kesukaan berbuah cinta. Aku melihatnya berdiri tepat di sisi paling tepi lorong berdinding merah muda. Aku rasa aku berubah. Aku pengagum seni ciptaan manusia, dan kini adalah penggila seni ciptaan Tuhan.
Alleona, nama segala pesona. Betul betul seni sempurna yang dapat dilihat oleh mata anak manusia. Tak yakin aku dapat menepis jika kelak ia datang sewaktu waktu merasukiku. Pada pandangan pertama, sukses mataku ditembak magis matanya. Aku lumpuh sesaat kehilangan ide berkutik. Alleona, tak ada kata selain sempurna atas wajah tajam merangkum cahaya hidup sedari bentang kening hingga dagu menggantungnya. Lekuk molek tubuhnya, ah, terlalu mengguncang bagi jiwa lelaki sepertiku ini. Alleona, aku mabuk.
Semenjak kejadian petang di lorong dinding merah muda, Alleona membiusku dengan sihir entah apa hingga tak sedetikpun aku mampu lupa. Aku pulang, Alleona turut serta. Aku bekerja, Alleona tetap ada. Hingga sempat kuputuskan mencari pengalihan dengan tak lagi berkunjung ke tempat itu, yang telah menjadi aktivitas rutin setiap hari – hanya untuk menjumpanya.
Kali ini adalah petang yang khianat. Gagal aku menikmati gema tembang dan orkestra di bawah gemerlap lampu gedung mewah, Alleona menyita semuanya. Aku merasa menghianatinya, hingga tanpa berpikir lama kupacu yang ada menuju ke sana. Pada Alleona.
Seperti biasa, ia berdiri di sana dalam balutan gaun merah menyala. Rambutnya melambai dari balik bahu. Alleonaku, tak pernah berubah dengan senyum maut yang memerangkapku dalam beku.
“Aku rindu. Maaf.” kataku di antara sorot matanya yang melubangi jantungku seketika.
Alleona hanya tersenyum. Lagi-lagi aku terhisap masuk dalam pusar kasmaran. Jika tak malu, sungguh segera ingin kuraih tubuhnya, bawa dalam erat pelukan.
“Tapi lagi-lagi aku harus pergi. Mereka tak mengizinkanku selamanya di sini bersamamu. Kecuali jika aku mampu menjaminkanmu pada mereka dengan, ah… maafkan aku, Alleona. A-aku hanya nyaris gila mencintaimu.”
Alleona melepasku pergi, dengan tatapnya yang tetap magis. Tanpa kata-kata, tanpa lambai mesra.
***
“Kemana? Kemana Alleona?” aku begitu terperanjat kala petang kemudian Alleona menghilang, tak lagi menyambutku datang.
“Alleona?” pria berpakaian khas itu melipat dahi.
“Alleonaku, yang berdiri di ujung lorong itu.”
“Ooh,” pria itu tersenyum. Aku kesal menunggunya bertutur jawab.
“Lukisan itu sudah laku. Kurator dari luar negeri. Memang lukisan itu menjadi buah bibir sejak berbulan lalu, Tuan.”
Alleona?
3 November 2016











