Home / Genre / Chicklit / 5. Rasa Bersalah

5. Rasa Bersalah

The Lion of Giza 1600x900
2
This entry is part 6 of 11 in the series The Lion of Giza

“Kau rupanya menentang kami. Jangan merasa sok jagoan!” 

“Aku tidak merasa begitu, hanya saja_aku tidak suka melihat pria mengganggu wanita,” tegas Hamzah.

“Jangan sok tahu! Minggir atau kau benar-benar akan menyesal.”

Kembali salah seorang dari mereka kian mendekat kepada Hamzah 

“Aku takkan beranjak sekalipun kalian akan menghilangkan nyawaku.”

“Kau sudah bosan hidup rupanya!” gertak salah seorang dari mereka dengan geram. Mereka menyerang Hamzah dan Gamal. Amira kebingungan melihat  adegan di depannya. Hamzah tidak gentar karena ia memiliki bekal ilmu bela diri semenjak di sekolah menengah pertama, meski ada Gamal bersamanya.

Salah seorang mengeluarkan senjata tajam dan mencoba mengarahkan kepada  Hamzah. Pemuda itu  mampu mengatasi mereka. Hanya saja, Hamzah lengah.  Salah seorang dari mereka berhasil melukai perut dan punggungnya. Darah mengucur deras. Hamzah tetap bertahan melawan tanpa peduli dengan luka yang dideritanya. Amira yang melihat masih saja menangis dan menjerit minta tolong.  

Untung saja saat itu lewat  mobil polisi yang tengah patroli. Tiga pria itu berhasil ditahan.  Gamal membawa Hamzah ke rumah sakit. Amira segera menuju rumahnya dengan rasa takut yang menyelimuti.

Amira tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Orang yang menyelamatkan adalah Hamzah. Dia bergegas masuk dan mengunci pintu kamarnya.Amira tidak bisa tenang. Hamzah yang terluka membayang di wajahnya. Hatinya gundah tak menentu.

Semoga lukanya tidak parah. Aku harap dia baik-baik saja.

Amira tidak bisa tidur. Ia terus saja memikirkan pemuda yang dulu pernah berdebat dengannya justru hari ini sudah menyelamatkannya dari gangguan pria-pria yang ingin berbuat jahat padanya.

Mengapa aku terus menerus begini? Mengapa dia membuatku khawatir dan cemas. Apa yang terjadi padaku? Mengapa dia harus terluka?

Amira tidak mampu membendung kegelisahannya. Ia keluar dari kamarnya dan menuju taman di lantai bawah. Di sana ia merenungi diri. Begitu jahatkah aku, hingga orang lain harus terkena imbasnya?

Amira menatap kelam malam  berteman hawa dingin yang menusuk. Seperti halnya hatinya. Dalam hati ia berharap agar pemuda yang menyelamatkannya baik-baik saja.

***

Pagi menyapa.  Tubuh Hamzah masih tergolek tak berdaya di brankar rumah sakit. Tidak ada yang menemaninya di sana. Gamal tengah menghadap  Professor Kamal  dan menceritakan keadaan Hamzah.

“Ada keperluan apa hingga sepagi ini kau kemari.”

Wajah Gamal begitu tegang. Gurat kesedihan dan kebingungan tergambar di wajah pemuda itu. Dia memberanikan diri bercerita tentang keadaan Hamzah.”

“Saya ingin memberitahu jika Hamzah_” Gamal menjeda ucapannya, raut wajahnya masih terlihat bimbang. 

“Hamzah kenapa? Apa yang terjadi padanya?” Professor Kamal penasaran, “Katakan!”

“Hamzah_ Hamzah terluka, Prof. Dia ditikam berandalan semalam,” terang Gamal membuat Professor Kamal terkejut.

  “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanya Profesor Kamal was-was, tak menyangka jika Hamzah akan menemui nasib seperti itu. “Ceritakan, Gamal!” pintanya dengan raut muka tegang.

“Hamzah berniat menolong seorang wanita yang diganggu tiga pria yang berniat merampok. Sayang sekali dia terkena senjata tajam salah satu dari mereka dan justru mendapatkan kemalangan seperti ini,” papar Gamal panjang lebar.

“Sungguh malang sekali nasibnya,” jawabnya. Dia terdiam sebentar sebelum akhirnya melanjutkan, “ Baiklah. Nanti sore aku akan ke sana. Jaga dia baik-baik,” pesan Professor Kamal.

“Baik, terima kasih, Prof. Saya permisi dulu.”

Professor Kamal tersenyum.  Dia menatap kepergian Gamal yang  meninggalkan ruangannya. Pikiran pria itu tak tentu. 

Yaa Allah, lindungi Hamzah dan pulihkan dia seperti semula.

 Gamal melangkah cepat meninggalkan kampus. Di depan, ia berpapasan dengan Amira dan beberapa temannya tanpa tegur sapa. Namun, langkahnya terhenti ketika gadis itu memanggilnya, “Gamal, tunggu!”

Amira berjalan ke arahnya meninggalkan teman-temannya. 

Gamal menghentikan langkah dan menoleh ke arah Amira yang mendekat ke arahnya. “Ada perlu apa?”

“Bagaimana keadaan temanmu itu?”

“Sebaiknya kau lihat sendiri supaya tahu keadaannya.  Maaf, aku harus segera kembali,” jawab Gamal acuh.  Dia meninggalkan Amira begitu saja membuat  gadis itu menggerutu dalam hati.

***

Sore itu Professor Kamal datang menjenguk Hamzah di rumah sakit. Dia prihatin melihat keadaan anak didiknya  yang masih tergolek lemah tak sadarkan diri dari kaca luar ruang rawatnya,  Hamzah dirawat intensif. 

Dia berbicara pada Gamal, “Aku sangat prihatin  melihat keadaannya. Dia anak yang baik _dan sebentar lagi   ujian semester, bukan?”

Gamal mengangguk pelan. 

“Aku hanya berharap agar dia segera membaik,”imbuhnya.

“Iya, Prof. Saya juga berharap begitu.”

Keduanya bercakap-cakap ringan. Professor Kamal ditemani putrinya, Adiba, yang juga dokter di rumah sakit itu. Dia memperkenalkan putrinya pada Gamal. 

“Ini putriku, Adiba. Dia yang akan merawat dan mengawasi Hamzah selama di sini.”

Sementara itu, Amira masih gelisah. Pikirannya tertuju dengann keadaan Hamzah. Sudah beberapa hari ini dia belum juga terlihat di kampus. Najma yang melihatnya bisa merasakan jika Amira tengah dirundung sesuatu. Ia berdeham, membuat Amira akhirnya menoleh ke arahnya.

“Rupanya tuan putri sedang galau memikirkan seseorang,” nadanya menggoda.

“Apa pedulimu,” jawab Amira acuh tak acuh. Ia beranjak meninggalkan Najma  karena tidak tahan dengan godaan-godaannya. Amira takkan mengizinkan Najma tahu kedalaman hatinya jika dia terus berpikir tentang Hamzah. Namun, Najma  sangat cerdik. Dia mengikuti langkah Amira pergi.

“Tuan putriku yang cantik, tidakkah kau tahu bahwa rasamu itu perlahan-lahan akan menjadi racun manis yang membuat hati dan pikiranmu terkontaminasi?”

Najma seolah tahu jika yang ada dalam pikiran Amira adalah Hamzah, pemuda yang sering ia ajak debat tanpa makna.

“Rasa yang dulu kau ibaratkan perang pada akhirnya akan menaklukan hatimu yang keras dan membatu.”

“Diam, Najma!”

Amira menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Najma dengan tajam.

“Sudah beberapa hari kau selalu melihat ke arah sana, berharap dia akan datang dan bisa kau ajak debat. Nyatanya kini justru kau akan merindukannya karena tidak melihatnya.”

“Diam!”bentak Amira. Amira berlari kecil meninggalkan Najma yang justru tertawa melihatnya.  Amira menuju mobilnya yang terparkir di lantai bawah dan segera pulang. Hatinya sangat kesal bercampur cemas.

Bagaimana keadaannya? Semoga dia baik-baik saja.

Aku takkan meminta maaf secara nyata, itu hanya akan menurunkan levelku.

Gadis itu tidak menyadari seseorang melihatnya dari pintu kamar. Siapa lagi jika bukan Safiya.  

Beberapa hari kemudian, kondisi Hamzah berangsur pulih. Hari itu juga ia pulang ditemani Aydeen dan Gamal. Aydeen dengan suka hati mengantarkan sahabatnya itu menuju tempat tinggalnya. 

“Kau tahu, Amira tempo hari melihatmu di rumah sakit,” kata Gamal. Sementara Aydeen membantu membersihkan ruangannya.

“Amira?” ujar Aydeen dan Hamzah bersamaan. Mereka terkejut ketika mendengar nama seorang gadis disebut.

“Iya, Amira,” jawab Gamal, “Dia ke sana saat Hamzah tidur.”

“Tidak biasanya dia mau begitu. Tapi_bisa jadi dia datang sebagai tanda terima kasih,” imbuh Aydeen.

“Mungkin saja. Atau_” Gamal terlihat berpikir sejenak,” bisa jadi dia menaruh perhatian pada Hamzah.”

Ketiganya tertawa. 

“Bisa jadi,” timpal Aydeen. “Hamzah sudah jadi ikonik yang memiliki banyak penggemar wanita.”

Hamzah menyeringai  mendengar ucapan Aydeen. “Aku menyayangi dan menghormati teman-temanku. Mereka  juga saudara-saudaraku. Jadi_ jangan pikir aku akan bangga jika memiliki banyak penggemar, terutama wanita.”

“Itu benar, Hamzah. Mungkin dulu kau bukan siapa-siapa, tetapi sekarang kau adalah panutan kami. Sungguh, aku pun mengagumimu,” Gamal membenarkan.  Meski ia berasal dari kampung yang sama dengan Hamzah. dirasakannya Hamzah kian cemerlang.

“Benar, Hamzah. Kami sangat kagum dengan perjuanganmu. Jujur saja, aku merasa rendah diri dibandingkan dengan dirimu. Itulah mengapa ayahku menyuruhmu mengajariku banyak hal,”tambah Aydeen. 

“Terima kasih. Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang hamba Allah yang lemah. Aku takkan bisa begini jika tanpa izin Allah.”

“Itulah kehebatanmu, Hamzah. Kau bahkan tak pernah menyadari  kelebihanmu karena hati dan jiwamu benar-benar tulus,” pungkas Aydeen.

The Lion of Giza

. Aku tidak Mencari Musuh . Rasa dalam Hati

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image