Ia datang terengah-engah seperti biasa.
“Cuci tanganku, Mar. Cuci!” lalu menyodorkan kedua tangan sambil menangis, suaranya tak terdengar jelas, tapi aku telah lebih dari hafal apa maksudnya.
Segera kuhidangkan minum tawar seperti selalu.
“Aku membunuh Palim, Palim mati!”
***
Segelas air sudah tandas diminumnya, Nhas tak lagi terisak. Kini punggung kurus itu pasrah bersandar di bangsal tua rumahku warisan dari Nenek, ia memandang ke satu titik di lantai –lurus dan kosong. Jika bahu dan dadanya tak bergerak naik turun, niscaya orang yang melihat akan mengira aku tengah menghadapi patung yang menyerupai manusia.
“Dia datang lagi, Mar,” Nhas mulai berkisah, masih cerita yang sama.
“Memintamu membunuh siapa lagi?”
Nhas menggeleng, menghapus bercak air yang tertinggal di sekitar matanya, “Kasihan Palim. Harusnya ia masih bisa hidup lebih lama.”
Memang soal anaknya yang mati di usia lima tahun itu Nhas teramat merasa kehilangan. Sesuatu yang bisa kumengerti tentang perasaan Ibu pada buah hatinya. Terlebih Palim adalah satu-satunya harta yang selalu dibanggakan Nhas pada setiap orang yang bertemu baik di rumah maupun di papasan jalan. Bocah itu anak yang aktif, berkulit bersih, berambut lurus dan badan yang berisi menggemaskan – tampak gen Nhas dominan pada anak itu. Namun takdir tetaplah garis yang tak dapat dilampaui oleh manusia manapun, termasuk umur Palim yang harus berakhir sebelum sempat Nhas membanggakan prestasinya sebagai juara kelas di sekolahnya.
Itu impian lama sejak kami masih remaja. Rumah kami hanya disekat kebun kecil berjarak tak lebih dari seratus meter. Masing-masing dapat dengan mudah segera berlari ke rumah yang lain hanya untuk bertukar mainan, menghampiri untuk cari kecebong, atau sekedar ngobrol di muka halaman sambil saling mengepang rambut.
“Kelak anakku adalah juara kelas,” Nhas berapi-api pada sore di muka halaman rumahnya kala remaja kami itu.
“Bagaimana jika tidak?” tanyaku.
Nhas menggeleng, “Aku akan membimbingnya menjadi juara.”
Sering Nhas bilang padaku ia merasa kesal pada anak-anak yang mampu menjadi juara di kelasnya, sesuatu yang tak pernah mampu Nhas capai. Nhas selalu sibuk dengan khayalannya yang indah-indah, hingga tak lagi berselera belajar. Padahal Bapaknya sebelum meninggal selalu bersikap keras agar Nhas rajin belajar, tapi bentakan Bapaknya itu justru membuat Nhas semakin sering sakit kepala.
Mungkin ada yang salah dengan cara Nhas mengkhayalkan sesuatu, sebab memang tak ada khayalan indahnya yang menjadi kenyataan. Termasuk ketika khayalannya memiliki suami yang tampan dari luar kota harus kandas saat Nhas dipaksa menikah dengan tetangga kampung sebelah, lalu Paman yang menikahkannya menghilang setelah itu. Suaminya tak pernah mencintai Nhas, selalu berbuat kasar semau tangannya. Masih sempat lanang itu meninggalkan benih di rahim Nhas, sebelum kemudian meninggalkan Nhas tanpa kabar entah kemana. Sendirian Nhas melawan miskin hidup yang menyerap habis semua hingga seluruh daging di tubuhnya.
Memikirkan khayalan indahnya yang tak kunjung pun pernah menjadi nyata membuat Nhas kehilangan segalanya. Ia menjalani hari-hari yang kosong dan begitu sunyi. Jika tak ada Palim, barangkali Nhas akan benar-benar menjadi wanita yang hidup sendiri tanpa memiliki alasan bahkan untuk sekedar makan dan mempertahankan hidup. Hingga suatu hari ia bercerita tentang orang yang mendatanginya itu.
“Ia seperti teman lama yang tiba-tiba akrab padaku, seolah kami telah kenal bertahun-tahun.” ada gurat sedikit cerah di wajah Nhas – gurat yang sejak bertahun lamanya tak kutemui di sana.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Banyak, banyak sekali. Ia tahu segala hal tentangku,” wajah Nhas seperti orang tersanjung, aku hanya berusaha percaya pada apa yang dikatakannya. Nhas hanya punya aku sebagai pendengarnya, tak ada orang lain lagi.
Pada hari yang lain Nhas datang ke rumahku dan lagi-lagi membawa aduan tentang orang yang sama, tapi lain hal yang diceritakannya.
“Ia membisikkan padaku sesuatu, Mar.” katanya.
“Kalian sedekat itu?”
Nhas mengangguk, “Dia ingin aku meninggalkan hidupku yang lama dan menjadi Nhas yang baru.”
“Itu bagus. Kau tidak boleh terlalu banyak bersedih pada apa yang terjadi.”
Aku pun setuju jika Nhas harus segera beralih dari kesedihan masalalunya.
“Aku harus pergi, Mar. Keluar dari kampung ini, aku harus menemukan hidup yang baru.” lanjut Nhas mantap seperti orang yang baru saja memperoleh mukjizat.
“Palim kau bawa juga?” Aku mengkhawatirkan bocah kecil itu. Nhas hanya diam.
Barangkali telah tiba saatnya Nhas dan Palim menemukan hidupnya sendiri. Mungkin Nhas akan menikah, meski aku tidak tahu siapa sebenarnya yang selalu mendatangi Nhas itu, lelaki atau perempuankah entah. Aku sendiri belum pernah bertemu.
Namun atas cerah di hari-hari Nhas belakangan ini, kejadian itu pun tak pernah aku sangkakan akan terjadi, tepat pada pagi harusnya Nhas pergi meninggalkan kampung ini. Pagi itu Palim tak bangun dari tidurnya, mulutnya mengeluarkan buih putih banyak sekali. Nhas berteriak histeris keras hingga jeritannya terdengar ke rumahku. Ketika sambil berlari kuhampiri Nhas, ia tengah bersimpuh di ambang pintu dan menangis lemas, tangannya menunjuk Palim yang tergeletak di kamar.
“Dia menyuruhku melakukan ini, Mar. Aku yang membunuh Palim,” Nhas merintih pilu menyadari Palim harta kecintaannya tak lagi akan hidup bersamanya.
“Orang itu, Nhas?” aku sungguh tak sedikitpun pernah berpikir tentang ini.
Nhas hanya mengangguk lemah.
***
Tahun-tahun berganti sampai pada hitungan sepuluh sejak pagi itu, Nhas tak pernah berhenti bernyanyi pilu tentang Palim. Palim menjadi kehilangan besar melebihi apapun dalam hidup Nhas. Dalam rentang itu pula ia tak pernah bercerita tentang orang yang selalu mendatangi dan menyuruhnya membunuh Palim, seolah orang itu ikut hilang bersama terkuburnya si bocah.
***
“Mar, dia bilang sebaiknya aku menyudahi hidupku saja,” Nhas berkata setelah sekian lama duduk di bangsal tua warisan nenekku, lalu menghabiskan air minum yang kusajikan, menyusut mata yang basah, juga menekuri lantai dengan mata kosong. Rutinitas yang dilakukannya nyaris setiap hari sepanjang tahun, tentu dengan tetap meratapi kepergian Palim.
“Nhas, kau berhentilah begini.” aku mendesah cenderung malas bicara.
Nhas hanya menoleh menatapku sebentar, seolah ingin mengutarakan bahwa ia tak mungkin lagi mengubah keputusannya. Lalu tanpa menunggu tanggapan apapun lagi ia segera berlari menuju rumahnya, tak meninggalkan pesan apapun.
“Terserah kau-lah, Nhas,” aku lelah, tak ada yang berubah dari Nhas setelah sepuluh tahun sudah berganti.
Kubiarkan Nhas kali ini. Biar dia pergi bersama sosok yang menurutnya kembali mendatanginya tempo hari.
Sosok yang datang dari dalam kepalanya sendiri.
23 November 2016











