2 “Siapa berani menebak takdir?” dia tersenyum sambil meletakkan cangkir pertamaku bersamanya petang ini tepat di hadapanku, sebelah tangannya lembut menyentuh bahu bagian belakangku. Kopi buatann...
Sebagaimana cerita yang baik akan selalu membawamu kembali pada alinea pertama setelah kau tiba di endingnya. Sekedar sicocok dengan logika baris kata dan logika dalam kepala lalu tergeleng send...
1 Ia datang terengah-engah seperti biasa. “Cuci tanganku, Mar. Cuci!” lalu menyodorkan kedua tangan sambil menangis, suaranya tak terdengar jelas, tapi aku telah lebih dari hafal apa maksudnya. Se...









