Home / Genre / Chicklit / Air Mata Ibu

Air Mata Ibu

Air Mata Ibu
1

Air mata Suaibah terus mengalir dalam ketenangan. Sesekali terdengar isak tangisnya yang tertahan. Ujian hidup datang silih berganti menyapanya. Setelah suaminya ditetapkan menjadi penghuni hotel prodeo  karena dituduh menggelapkan uang perusahaan, kini dia harus menghadapi berbagai macam cibiran serta cemoohan dari keluarga, kerabat, dan juga orang-orang di sekitarnya.

Ditambah, keadaan sang ibu mertua yang sakit-sakitan semenjak beberapa bulan yang lalu,  beban hidupnya terasa makin berat. Itu pun, tidak ada saudara maupun kerabat dekatnya yang memberikan uluran tangan sekadar meringankan bebannya. Alih-alih begitu,  mereka memandang sebelah mata padanya. Ada yang mengatakan bahwa Suaibah dan keluarganya sedang mendapatkan karma atas perbuatan anggota keluarganya.

Beberapa selentingan kabar tidak mengenakkan dia dengar tentang ibu mertuanya, tetapi Suaibah tidak menanggapi. Dia lebih banyak diam. Baginya, sekeras apapun ibu mertuanya, juga termasuk ibunya.Suaibah paham jika kedudukan orang tua kandung dan juga mertua derajatnya sama. Dia tidak menghiraukan omongan orang-orang yang selalu menilai buruk ibu mertuanya itu. Dia tetap patuh dan merawatnya dengan baik, sekalipun dari mulutnya seringkali terlontar kata-kata yang menyakitkan hati dan sering membuatnya harus menahan rasa semua itu.

Di rumah sederhana yang dibangun dari jerih payah suaminya itu, Suaibah membuka usaha kecil-kecilan dengan membuka usaha jahitan pakaian. Ketrampilan yang pernah didapatkannya dari Balai Latihan Kerja serta pengalaman kerjanya di garmen beberapa tahun, membuatnya memantapkan diri membuka usahanya itu. Selain itu, dia juga berjualan secara online. Jadi, dia bisa terus mengawasi kondisi ibunya sembari bekerja.

Di sepertiga malam terakhir, Suaibah selalu bermunajat pada-Nya agar senantiasa diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi segala rintangan hidup. Meskipun begitu, dia selalu berpikir yang baik. Dia yakin bahwa suaminya tidak bersalah. Suaibah sangat yakin, karena selama ini suaminya tidak pernah melakukan hal-hal yang menyimpang.  Dia adalah orang sangat memegang teguh ajaran agama dan juga norma-norma yang ada di lingkungannya.

“Yaa Allah, aku tahu Kau sangat menyayangi keluarga ini. Apapun yang sedang Kau berikan pada kami adalah bukti kasih sayang-Mu yang besar pada orang-orang yang telah Kau pilih.”

Suaibah menutup doa dengan penuh pengharapan kepada Ilahi.

“Bah … Ibah …” teriakan Maryamah, ibu mertuanya membuat Suaibah bangkit selepas menutup doanya.

“Iya, Bu. Ibah datang ….” Dia melepas mukenanya lalu beranjak ke kamar ibu mertuanya. Dilihatnya, wanita itu menggapai-nggapai tepian ranjang hendak duduk. Suaibah segera membantunya.

“Ibu mau apa?” tanya wanita berkulit hitam dan berwajah  manis itu dengan sabar.

“Bantu Ibu duduk, Bah. Ibu lelah berbaring terus,” pintanya.

“Iya, Bu. Mari Ibah bantu.” Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, dia membantu ibu mertuanya duduk perlahan-lahan.

Wanita berusia senja itu kini bisa duduk meski dengan kondisinya yang masih ringkih dan sedikit gemetar. Suaibah duduk di sebelahnya sambil menjaga agar tubuh mertuanya bisa ditegakkan.

“Bah …” ucapnya lirih.

“Iya, Bu,” jawab Suaibah lembut.

Tiba-tiba, wanita berusia senja  itu menangis sesenggukan, membuat Suaibah kebingungan.

“Ibu kenapa?”tanya Suaibah lagi, seraya merengkuh tubuh kurus mertuanya ke dalam pelukannya.

Digenggamnya tangan menantunya itu dengan erat. Lalu dia berkata, “Bah … Ibu mau ….”

Wanita itu menjeda sejenak ucapannya.

“Iya, Bu. Ibu mau apa?”

“Ibu mau ….”

Suaibah menunggu lanjutan kata-kata mertuanya.

“Ibu mau ketemu Arman, Nak. Dia sekarang sedang menderita di sana.”

Tak disangka, ibu mertuanya mempunyai keinginan untuk menjenguk suaminya yang masih berada di hotel prodeo. Mata Suaibah mengembun sembari menahan rasa sesak dalam hatinya. Dengan lembut dia membujuk ibu mertuanya agar menenangkan diri.

“Bu, Ibu yang tenang ya? Sebentar lagi Mas Arman pulang, kok. Ibu nggak usah pergi ke sana,ya?”kata Suaibah penuh keyakinan meski sebenarnya dia kurang yakin.

Yaa Allah … Kaulah penentu segalanya. Dengarkan rintihan hamba-Mu ini. Jerit hati Suaibah.

Wajah wanita itu terlihat muram. Dia tahu jika menantunya itu hanya menghiburnya agar dia tidak terus menerus memikirkan Arman.

“Maafkan Ibu, Ibah. Ibu sudah banyak membuatmu terluka. Ibu sudah seringkali membuat luka hati Ibah. Sering merepotkan.” Dia memeluk menantunya dengan berurai air mata. Ada semacam rasa penyesalan dalam dirinya yang mendalam teringat dulu dia sangat membenci menantunya itu.

“Anak-anak Ibu sendiri, justru tidak ada yang mau mengurus Ibu. Mereka hanya mengejar harta dan kesenangan semu,” lanjutnya lagi, membuat Suaibah terharu. Dia mencoba menenangkan wanita itu agar tidak larut dengan keadaan yang sedang dihadapinya.

“Bu, Ibah juga anak Ibu. Ibah sayang sama Ibu. Apakah Ibu lupa, dulu awal-awal Ibah datang kemari, Ibu yang ngajarin Ibah banyak hal? Ibu adalah guru terbaik bagi Ibah, Ibu ngajarin Ibah jadi istri dan wanita yang sesungguhnya,” tutur Suaibah penuh kasih sayang. Membuat Maryamah tidak dapat memahan isak tangisnya.

“Tapi … Ibu dan juga kakak-kakak Arman seringkali menyakiti hati dan juga perasaanmu. Kamu pun tidak permah menjawab, kamu selalu patuh pada ucapan Ibu. Tanpa  Ibu sadari, kata-kata Ibu sudah menusuk hati Ibah dan terluka. Dan sekarang mungkin ini peringatan untuk Ibu. Hati dan pikiran Ibu kini sudah terbuka, tahu mana yang tulus dan tidak.”

“Nggak apa-apa, Bu. Dulu kita belum sedekat ini. Yah … anggap saja itu awal mengenal kita saling mengenal satu sama lain,” ucap Suaibah bijaksana.

Azan subuh terdengar menggema, memanggil jiwa-jiwa rapuh untuk kembali  pulang. Seperti halnya Maryamah. Kini, dengan bantuan menantunya, Maryamah mendekat kembali kepada Sang Pemberi Kehidupan. Selepas subuh, Maryamah yang terbiasa tidur lagi, lebih banyak berzikir. Merenungkan hal-hal yang pernah dilakukannya di masa lalu.

Yaa Allah, ampunilah dosa-dosa hamba pada menantu hamba. Sungguh anakku tidak salah memilihnya. Tetapi mengapa Kau uji cinta mereka dengan cara seperti itu? Aku mohon pada-Mu. Satukan kembali cinta mereka, jangan pisahkan lagi. Pinta Maryamah dalam hati.

***

Sementara itu, di kediaman Indra, anak sulung Maryamah, beberapa orang datang dan meminta Indra untuk segera melunasi hutang-hutangnya karena kalah judi. Tetapi ternyata, Indra sudah kabur entah ke mana. Hanya istrinya saja yang ada dan dia pun sangat terkejut, tidak pernah menyangka jika suaminya ternyata memiliki hutang hingga ratusan juta. Karena selama ini suaminya mengaku mendapatkan bonus dari perusahaan tempatnya bekerja sebagai penghargaan atas prestasi-prestasinya.

“Jika dalam jangka waktu seminggu suami Anda tidak bisa mengembalikan pinjamannya, maka dengan terpaksa, kami persilakan Anda segera pindah dari rumah ini,” kata salah seorang di antara mereka.

“Apa?” Sheila, istri Indra serasa tidak percaya dengan ucapan pria di hadapannya itu. “ Lhoh! Tidak bisa, Pak! Ini rumah saya sendiri, bukan rumah Mas Indra. Rumah ini orang tua saya yang beli. Jangan seenaknya saja!”

“Maaf,  Bu. Kami tidak mau tahu rumah ini milik siapa. Suami Anda sudah menggadaikan sertifikat rumah ini sebagai jaminannya.”

“Yaa Tuhan ….” Tubuh Sheila seketika limbung. Dia tidak pernah menyangka jika semuanya akan menjadi seperti itu.

Di sisi lain, Nesya, kakak perempuan Arman juga sedang tersandung masalah. Suaminya  kepergok menjalin hubungan gelap dengan rekan kerja sekantornya, dan wanita itu kini sudah berbadan dua. Nesya tidak pernah menyangka, jika perjalanan pernikahan yang dulu diimpikan penuh kebahagiaan, justru berubah menjadi bencana. Nesya pun segera melayangkan gugatan cerai.

Pengorbanan Nesya selama ini tidak dihargai oleh Dani, suaminya. Ketahuan selingkuh, Dani bukannya sadar diri, dia justru mengatakan bahwa Nesya telah salah memilihnya sehingga adu mulut pun terjadi di antara mereka. Nesya mengusir Dani dari rumahnya yang dibeli dari hasil jerih payahnya. Nesya sadar, inilah teguran dari Sang Maha Pencipta untuknya.

Beberapa hari kemudian, Sheila dan Nesya pergi menuju kediaman Maryamah. Mereka ingin meminta maaf karena selama ini memgabaikannya. Dengan kondisinya yang masih ringkih, Maryamah menyambut kedatangan anak dan menantunya itu dengan raut muka sedih.

Begitu pula kepada Suaibah. Sheila dan Nesya meminta maaf kepadanya. Jujur saja, mereka sangat berkecil hati berhadapan dengan Suaibah. Mereka menilai Suaibah adalah wanita yang sangat sempurna. Memiliki ketabahan dan kekuatan hati di atas mereka.

“Maafkan Kakak, ya, Dek? Kakak selalu memandang rendah kamu dan juga sering menyakitimu,” ucap Nesya seraya memeluk Suaibah disusul Sheila.

“Aku juga ya,Dek Ibah, maafkan aku. Kamu wanita yang sangat mulia. Tidak salah jika Arman memilihmu.”

“Iya, Kak. Sudahlah, mari kita perbaiki semua ini dari awal. Belum ada kata terlambat untuk kita tunjukkan rasa bakti pada Ibu. Ibu juga ibuku, sudah selayaknya sebagai anak aku merawatnya.”

Ucapan Suaibah kembali membuat kedua kakak iparnya terdiam. Mereka sangat bahagia memiliki saudara seperti Suaibah yang berhati bersih.

Rumah sederhana itu kini ditempati mereka bersama setelah berbagai badai kehidupan datang melanda. Kesehatan Maryamah berangsur-angsur pulih melihat anak-anaknya rukun.

Hari yang dinantikan pun datang. Dari beberapa kali sidang, Arman dinyatakan tidak bersalah karena semua bukti tidak mengarah padanya. Doa Suaibah terkabul. Hari bahagia pun datang.

“Aku bahagia kita bisa bersama lagi, Mas.” Suaibah memeluk erat suaminya. Dia terisak bahagia dalam dekapan Arman.

“Mas juga, sayang. Allah tidak akan menimpakan cobaan melebihi kemampuan kita.”

Arman mencium kening Suaibah penuh kasih sayang.

Maryamah bahagia putranya tidak bersalah dan pulang ke rumah. Arman merasa sedih melihat keadaan ibu dan juga kakak-kakaknya. Dia tidak pernah menduga merek akan menghadapi masalah berat. Di sisi lain, Arman sangat bahagia memiliki Suaibah. Wanita berhati mulia yang sudah beberapa tahun ini dinikahinya.

Maryamah memperlihatkan foto-foto kebersamaannya bersama anak-anaknya di sebuah album tua yang masih terawat hingga kini.

Dia bercerita dikelilingi anak dan menantunya.

“Lihatlah ini Indra, dia suka sekali naik-naik pohon. Ini Nesya lagi main masak-masakan sama sepupunya. Ini Arman, dia suka membuat kerajianan tangan. Dan … ini, ayah mereka sedang memperbaiki pagar di rumah lama.”

“Ibu adalah ibuku yang terbaik. Karena berkat bimbingan ibu aku selalu juara kelas dan mendapatknaa beasiswa hingga kuliah.” Arman menidurkan kepalanya ke pangkuan sang ibu. Maryamah membelai lembut rambut anak bungsunya itu dengan penuh kasih sayang.

“Dan kamu memberikan ibu menantu yang sangat baik,” Maryamah menatap lembut Suaibah, membuatnya menundukkan pandangannya.

 Kebahagiaan kembali terasa di keluarga kecil itu. Kini Sheila, Nesya, dan Arman mencoba membuka usaha kecil-kecilan. Mereka bekerja sama mengembangkan beberapa UMKM yang modalnya juga patungan. Sisanya Suaibah menjadi partner, karena Arman tidak mengijinkan istrinya bekerja terlalu keras. Semasa di hotel prodeo, Arman berkenalan dengan Fendi, seorang psngusaha yang memiliki jaringan bisnis luas. Fendi pun terkena fitnah hingga masuk bui. Mereka berdua bebas selang sehari.

Untung saja, Fendi memberikan nomor telpon rumahnya kepada Arman, sehingga mudah baginya untuk menjalin kerjasama. Perlahan tapi pasti, usaha yang dijalankan mereka mulai berkembang pesat.

Kebahagiaan Arman dan Suaibah semakin bertambah ketika mereka dikaruniai momongan. Begitu pula dengan Sheila dn Nesya. Indra yang sempat masuk bui dan memiliki banyak tunggakan hutang akhirnya bisa bebas dan juga memperbaiki diri. Sedangkan Nesya, urung melayangkan gugatannya setelah kebenaran terungkap bahwa ayah dari janin yang dikandung oleh rekan kerjanya itu bukanlah anak Dani. Melainkan hasil hubungan gelapnya dengan beberapa pria.

Memang, tak mudah untuk memberikan kepercayaan setelah dikhianati, tetapi perlahan Nesya juga memahami kekurangan dirinya yang terlalu keras dan penuntut pada suaminya.

Kebahagiaan kini menyelimuti mereka semua. Maryamah pun bisa menghabiskan waktunya bersama cucu-cucunya hingga akhir hayat.

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image