Cinta mungkin adalah pemakan kentang goreng paling imut di dunia. Bibirnya bergerak ke sisi mulutnya saat dia menatap kentang goreng, lalu dengan hati-hati memilih satu. Kemudian dia mengambilnya dan menggigit ujungnya. Untuk setiap kentang goreng, dia butuh dua atau tiga gigitan.
Sedangkan Adam tipe cowok yang memasukkan segenggam kentang goreng ke dalam mulut sekaligus.
Adam kemudian memesan dua porsi besar kentang goreng untuk dimakan bersama double cheeseburger dan setelah Cinta meminta untuk membaginya, Adam dengan senang hati menurutinya dan menuang kedua bungkus kentang goreng ke nampan plastik.
Biasanya Adam akan menghabiskan semuanya dalam beberapa menit, tetapi dia memaksakan diri untuk makan malam tengah malam ini. Setelah selesai, dia harus pergi, tapi dia belum siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada Cinta. Pikiran bahwa ada seorang gadis yang membuatnya terngiang-ngiang seperti ini membuatnya gila.
“Jadi, di mana mamamu?” tanya Adam sambil memperhatikan betqapa imutnya Cinta yang sedang mengu nyah kentang goreng.
Bahu Cinta terangkat.
“Aku tidak tahu.”
“Bisakah kau meneleponnya?”
Cinta menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah mencobanya. Tidak ada jawaban.”
“Aku yakin dia baik-baik saja,” kata Adam.
Cinta mengangguk.
Dia tidak banyak bicara. Adam yang ingin terus bicara.
“Jadi kau jalan kaki ke sini?”
Cinta menatap kentang goreng yang baru saja dipilihnya, lalu membaliknya di tangannya. Matanya bertemu dengan mata Adam dan menyipit menjadi garis tipis.
“Apa pentingnya buatmu?”
Seharusnya Adam berhenti sampai di sini, tetapi dia lelah karena pesta di danau dan Cinta mempengaruhinya dengan cara yang sama sekali tidak dimengertinya. Jadi ketika dia tertawa terbahak-bahak, tidak mengherankan Cinta menatapnya tajam.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Cinta, melempar kentang goreng padanya.
Adam menangkapnya dan kemudian memakannya. “Kau. Aku menertawakanmu.”
Bibir Cinta membentuk garis tipis. “Kenapa?”
Adam mengangkat bahu.
“Kau begitu jahat padaku dan aku tidak tahu kenapa.”
Adam menggelengkan kepala dan mencoba berhenti tersenyum tanpa hasil.
“Itu malah membuatku penasaran.”
Kali ini Cinta bukan melempar kentang goreng, tetapi mengepalkan tangannya dan meninju Adam tepat di lengan.
“Aduh!” seru Adam, bersandar ke kursi bangku dan mengusap lengannya.
Mata Cinta membelalak.
“Ya, Tuhan! Maaf. Sakit, ya?”
Adam menggelengkan kepala dan menyeringai. “Tidak, tetapi senang melihatmu menunjukkan semacam emosi selain permusuhan kepadaku.”
Cinta memutar bola matanya dan mengambil satu kentang goreng lagi, kali ini menyobek bungkus saus tomat.
“Maaf.”
Dia menaruh saus tomat dengan hati-hati di sepanjang kentang goreng dan kemudian menggigitnya.
“Kamu tidak pantas aku marahin. Tapi sayangnya—”
Dia menggigit kentang lagi dan semakin imut di mata Adam. “Semua orang akhir-akhir ini kena amarahku. Begitulah dunia saat ini. Jadi aku tidak bisa berhenti jadi sebaiknya terima aja.”
Cinta menatap kentang goreng dengan ujung keras. Adam mengulurkan tangan dan mengambilnya sebelum Cinta sempat menggigitnya.
“Kenapa kau bisa begitu marah?”
“Aku jadi gelandangan.”
Cinta tersentak tepat setelah mengatakannya, dan Adam memanfaatkan kesempatan itu untuk membuatnya terbuka.
“Apa lagi?”
Keheningan berlanjut selama beberapa detik dan Adam menyerah untuk membuat Cinta terbuka padanya.
Kemudian Cinta menghela napas panjang dan menatap ke luar jendela.
“Semuanya menyebalkan dalam hidupku saat ini. Aku merasa seperti mengalami semacam krisis paruh baya tapi aku baru berusia tujuh belas tahun, jadi apa artinya itu untuk sisa hidupku? Apakah akan semakin parah?”
“Hidup selalu bisa berubah arah,” kata Adam, sok terdengar filosofis, tetapi dia yakin kedengaran seperti ngaco.
“Kau harus tetap positif.”
“Gampang untuk anak orang kaya keturunan ngomong gitu,” gumam Cinta.
Adam ingin membantah, tetapi mungkin Cinta benar, dan itu membuatnya merasa lebih seperti orang brengsek daripada sebelumnya malam ini.
Sekarang Adam sadar bahwa dia dalam bahaya menjadi orang brengsek yang tidak berperasaan, seperti cowok yang meninggalkan cewek seperti Agnes yang menangis di pesta, dan di atas semua itu, dia hanyalah cowok keturunan anak orang kaya bagi cewek ini.
“Aku tidak benar-benar kaya,” kataku. “Penghasilan seratus lima puluh ribu per jam di lintasan milik papaku. Orang tuaku agak kaya, ya, tetapi aku tidak. Aku tidak punya aset sama sekali. Lagipula, bukankah kamu juga orang keturunan campuran?”
“Aku orang Sumatra.”
Cinta menatap langit-langit. “Ya, hanya itu yang diceritakan Dini tentang papaku.”
Adam tersenyum. “Hidupku juga tidak sempurna.”
“Kau bilang begitu, tapi apakah kau pulang ke tempat tidurmu sendiri malam ini?”
Adam mengangguk.
Cinta menghitung dengan jarinya.
“Apakah kamu yakin akan tinggal di kamar yang sama seminggu dari sekarang, atau setahun dari sekarang? Apakah selalu ada makanan di kulkasmu? Apakah kau punya ponsel, mobil, dan pekerjaan? Apakah kamu akan mewarisi bisnis keluarga setelah orang tuamu meninggal? Karena semua jawabanmu adalah ya dan itu membuat hidupmu jauh lebih baik daripada hidupku, Adam Satria.”
“Wow.”
Adam menatap tumpukan kentang goreng yang semakin menipis. Dia tak lagi lapar setelah khotbah dari cewek yang hampir tidak dia kenal.
Dan kemudian dia tersadar. Mungkin dia seharusnya menyadarinya ketika melihat Cinta dengan garis-garis di wajahnya seperti dia baru tidur di atas sesuatu.
“Apakah kau punya tempat untuk malam ini?” tanyanya, mencoba terdengar santai dan tidak menghakimi.
Cinta tampak ragu-ragu dan hanya itu jawaban yang dibutuhkannya.
“Aku akan mengantarmu kembali ke rumah Noni dan kau bisa tinggal di sana.”
Cintamenggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku tidak bisa kembali. Aku sudah menulis catatan yang mengatakan aku tidak akan mengganggu mereka lagi.”
Cinta mengangkat alis. “Mamamu masih belum balik, kan? Kamu butuh tempat tinggal. Mereka tidak akan peduli, mereka orang baik.”
“Aku tahu,” kata Cinta Dia menelusuri pola di atas meja dengan jarinya. Penampilannya yang tampak lemah, mungil, dan tak berdaya, membuat Adam berpikir tentang seorang anak kecil. Adam ingin melindunginya. Dia harus melindungi Cinta.
“Kau akan pulang bersamaku,” kataku, dan itu bukan pertanyaan. Itu fakta.
“Orangtuaku sudah tidur dan aku akan menyelundupkanmu masuk. Tidak seorang pun perlu tahu kalau kau tidak mau mereka tahu.”
Cinta mengerutkan kening dan Adam tahu dia ingin menolak tawaran itu, bahkan mungkin meninjunya lagi.
Adam memasang senyumnya yang terkenal penuh pesona dan berusaha keras untuk terlihat seperti tipe cowok yang layak dipercaya.
“Aku punya kamar tidur yang besar. Aku akan tidur di kasur futon dan kau bahkan tidak akan menyadari kehadiranku. Dan kamar mandiku terhubung dengan kamarku jadi kau bisa tetap bersembunyi kalau kau mau.”
“Kau punya kamar mandi sendiri?” tanya Cinta, bahunya condong ke depan.
Adam mengangguk penuh semangat, berharap Cinta setuju untuk pulang bersamanya. Dan ini pertama kalinya dalam hidupnya dia berpikir seperti ini tanpa ada pikiran aneh-aneh dalam kepalanya.
Tentu saja. Kalau Cinta setuju.











