Beranda / Genre / Young Adult / 26. Nyaris

26. Nyaris

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
1
This entry is part 27 of 28 in the series Percayalah Padaku Cinta

Tangan Adam terulur dan menyentuh lengan Cinta. “Apakah itu kesalahan?”

Ya.

Cinta menegakkan kepala. “Tidak.”

“Apakah kita… mau…?” katanya, berhenti sejenak untuk menjilat bibir bawahnya.

“Terus bermesraan?” kata Cinta dengan tiba-tiba menjadi berani.

Adam mengangguk.

Cinta menarik napas dalam-dalam. “Ya.”

“Ya?” Adam menggoyangkan alisnya dan itu membuat Cinta tertawa. Di saat-saat konyol itu, dia melingkarkan satu lengan di pinggang Cinta dan menangkup wajah gadis itu dengan tangan yang lain.

Perlahan—sangat perlahan—dia menarik wajah cinta ke atas lalu menciumnya, lebih lembut dari sebelumnya.

Cinta meleleh, membalas ciuman itu dan menginginkan lebih. Lebih banyak ciuman, lebih banyak Adam, lebih banyak perasaan bahwa mungkin dunia ini tidak menyebalkan.

Saat Adam menarik diri, Cinta mengerang.

“Apakah ini berarti kamu tidak membenciku lagi?” tanyanya, menggerakkan jarinya ke bawah tali gaun Cinta.

Gadis itu merinding. Kalau dia memikirkan jawaban yang sebenarnya untuk pertanyaan itu, mungkin akan merusak suasana.

Cinta mengangkat bahu. “Itu artinya kamu sangat seksi dan aku lelah memikirkan semuanya.”

Adam tampak ingin mengatakan sesuatu yang lain, tapi Cinta menggesekkan hidungnya ke dada Adam, menciumnya hingga ke telinga. Dia mengerang ketika bibir Cinta menyentuh telinganya, dan Cinta menjilatnya dengan lidah.

“Oh,” bisik Adam.

Dalam sekejap, dia mencengkeram belakang Cinta dan menggeser tangannya ke paha, mengangkat Cinta dari lantai.

Cinta merengkuhnya ketika Adam membimbingnya ke futon di depan TV. Adam berbalik ke tempat menempel di kasur dan kemudian duduk, membiarkan Cinta mengangkanginya. Gaun Cinta terangkat terlalu tinggi, jadi dia mencondongkan tubuh ke depan, menekan dada mereka agar Adam tidak bisa melihat apa pun.

Cinta mengenakan pakaian dalam murah dari obral department store. Bukan hal terseksi yang bisa dilihat cowok pada hari pertama bermesraan.

Tangan Adam menemukan pantat Cinta dan dia memegangnya seolah-olah itu adalah tempat tangannya untuk beristirahat. Cinta mencengkeram bahunya dan menciumnya, membuat lidah mereka berkelindan.

Adam mengerang dan menggigil, menarik pinggul Cinta ke pinggulnya. Cinta tahu kalau dia telah membuatnya gila.

Dan karena Cinta tidak berencana berhubungan intim dengannya, apalagi setelah hanya satu hari tidak membencinya, dia menjauh.

Tiba-tiba Cinta teringat akan apa yang terjadi kalaau cewek membuat marah cowok yang menginginkan lebih dari sekadar bermesraan. Itu tidak pernah baik dan biasanya menyakitkan.

“Hm,” katanya, bersandar di pangkuan Adam.

Dia ingat bagaimana situasi gaunnya dan kemudian dengan hati-hati berdiri, turun dari pangkuan Adam sehingga bisa duduk di sebelahnya di futon.

“Maaf, tolong jangan membenciku,” katanya, tidak mampu menatap mata Adam.

Dia tahu nafsu Adam sudah sampai di ubun-ubun, dan Adam juga sudah mengunci pintu.

Ini bisa merusak segalanya. Cowok tidak suka ditolak.

“Kenapa aku harus membencimu?” kata Adam. Kepalanya menoleh ke kanan untuk menghadap Cinta dan dia mengulurkan tangan, menyelipkan sehelai rambut di belakang telinga Cinta.

Cinta menghembuskan napas dan mencoba terlihat manis. Berusaha terlihat seperti gadis baik yang tidak ingin dibenci.

“Aku hanya … aku belum siap untuk …”

Matanya jatuh ke celana Adam dan wajahnya terasa panas. Aku tidak bisa mengatakannya.

“Bercinta?” sambung Adam.

Cinta mengangguk dan bersiap untuk serangan balik.

Alih-alih marah, Adam menyeringai dan duduk lebih rendah di futon, merentangkan kakinya lebih lebar saat dia bersantai.

“Nggaklah. Kenapa aku harus membencimu?”

Cinta menelan ludah. ​​Sepertinya semua pembicaraan rasional telah meninggalkan otaknya untuk saat ini.

Adam mengulurkan tangan dan mengambil remote TV dan menyalakannya ke layar Netflix.

“Aku tidak akan berhubungan seks bahkan kalau kamu menginginkannya,” katanya sambil tersenyum meyakinkan. “Kamu baru saja menjadi temanku lagi. Aku ingin membuktikan bahwa aku layak untuk itu.”

“Teman?” kata Cinta sambil mendengus.

Sial. Tentu saja. Hanya itu yang terjadi.

Adam si pria tampan, berhubungan dengan setiap gadis yang ditemuinya dan memanggil mereka semua dengan sebutan “teman”.

Ya Tuhan, aku sangat bodoh.

“Ya, teman.”

Cinta mengangguk dan fokus pada televisi, tetapi Adam belum memilih acara untuk ditonton jadi itu agak sia-sia.

“Ada apa?” ​​katanya sambil mencondongkan tubuh dan menyodok lenganku.

Aku menggelengkan kepala. Berusaha tersenyum senang. “Tidak apa-apa.”

Dia menyipitkan matanya ke arah Cinta.

“Apakah aku pencium yang buruk? Itukah sebabnya kamu menjauh?”

Bola mata Cinta berputar. Dia tidak bisa menahan senyum.

“Kamu tahu kamu pencium yang hebat,” kata Cinta, merasakan kehangatan dari tatapan Adam menjalar ke seluruh tubuhnya

“Lalu kenapa kamu menjauh?”

Adam meraih dan memegang tangannya, mengaitkan jari-jarinya di antara jari-jari Cinta.

Cintau menatap tangan mereka di atas futon. Tangan Adam kecokelatan, kapalan, dan besar. Tangannya pucat, dan gemetar.

“Sejujurnya?” tanya Cinta.

Adam mengangguk. “Aku hanya menginginkan kejujuran dari kita.”

“Aku berhenti agar kau tidak marah karena aku tidak ingin berhubungan seks.”

“Ya, tetapi sekarang setelah aku menjelaskannya aku tidak ingin melakukannya terlalu cepat…” kata Adam, tersenyum menggoda yang membuat jantung Cinta berdebar. “Mungkin kamu harus kembali ke sini. Aku merindukan bibirmu.”

“Baru beberapa detik, bagaimana kamu bisa merindukannya?”

Mata Adam turun ke bibirnya dan dia mencondongkan tubuh, membuat rangka futon berderit saat bibirnya menyentuh bibir Cinta dalam ciuman yang begitu lembut, membuat seluruh tubuh Cinta menggigil.

“Karena bibirmu sempurna, itu sebabnya.”

Cinta menatapnya dan Adam mengangguk.

“Aku serius. Bibir terbaik yang pernah ada.”

Cinta menyilangkan tangannya. “

Aku harus percaya itu? Dari sekian juta gadis yang pernah kamu kencani, entah mengapa aku istimewa?”

Adam menggelengkan kepala dan mengedipkan mata padanya.

“Bukan jutaan. Mungkin mendekati ratusan ribu.”

Cinta menamparnya main-main. Adam menangkap lengannya dan menempelkan telapak tangan Cinta ke bibirnya.

Ini salah. Ini sangat salah. Aku tidak bisa membiarkan dia memenangkan hatiku seperti ini. Aku harus kuat. Aku harus ingat bahwa dia tidak sepertiku. Bahwa aku akan segera pergi dan aku akan kembali ke daerah kumuh, di apartemen kumuh dan kamar belakang di bar kumuh dan aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah sebagus ini lagi. Dan ketika aku menciumnya di teras, aku berkata pada diriku sendiri bahwa itu hanya untuk bersenang-senang, hanya lelucon, hanya cara untuk memenuhi hasratku tanpa membuatnya menjadi masalah besar.

Namun Adam tidak seperti pria lainnya. Mungkin dia pembohong yang sangat hebat. Semua orang kaya memang begitu. Namun, sepertinya dia benar-benar tulus padaku. Namun, aku akan bodoh jika berpikir seperti itu.

“Apa yang kamu pikirkan, cantik?” bisik Adam, bibirnya menggelitik telinga Cinta.

“Aku berpikir, kalau semua cewek itu bisa bersenang-senang denganmu,” kata Cinta, mencoba bersungguh-sungguh meskipun hatinya berteriak sebaliknya, “Lalu mengapa aku tidak bisa?”

Percayalah Padaku Cinta

5. Ciuman Pertama 7. Curhat ke Sahabat

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *