Cinde tahu cowok itu mungkin gila karena terus mengumpat dan berbicara sendiri sejak para penjahat meninggalkan mereka.
Cowok itu tidak berhenti bergumam, lalu tiba-tiba berteriak, “Aduh!”
Cinde mulai bosan dengan semua ini.
“Brisik amat. Lu bisa cicing, kagak? Tenang, nape?”
Cowok itu akhirnya berhenti dan menoleh ke arahnya.
“Tenang? Lu kirain dimari kita semedi?”
“Dengerin lutuye. Gue ngeregain lu diculik gegara pengen nulungin gue, tapi lu kagak guna juga jadi laki.”
Cowok itu mengerutkan kening, sedikit roman kecewa melintas di wajahnya saat mendengarkan kata-kata Cinde.
“Makesut gue, lu liat ada orang-orang idiot nyulik cewek yaitu gue, eh… lu datengin gitu aja. Ngajak-ngajak pulisi atau satpam Bank ABC, kek. Apa yang ada di otak lu? Bilang ke penculik lepasin gue? Tuh, jadi aja kita duaan diculik. Laen kali, kalo kagak punya pelening yang jelas, pegi ajah. Kagak usah ikut campur!” bentak Cinde sambil memutar bola matanya.
Jun menatap cewek itu tetapi tetap diam tanpa kata-kata. Dia terlalu bingung untuk memikirkan kata-kata yang harus dia susun sebagai balasan.
“Terus, ngapain lu ngobrol ke dia orang kayak lu kenal aja?” tanya Cinde lagi, menatap Jun penuh rasa curiga.
“Dengar, saya tak faham apa cakap nona,” jawabnya, sambil memalingkan muka. Saking bingungnya dari cengkok Betawi kembali ke cakap Melayu
Cinde mengerutkan kening. Dia tahu cowok itu menyembunyikan sesuatu darinya.
Tapi apa yang mungkin dia sembunyikan? Dia juga diculik!
Daripada membuat dirinya stres, Cinde harus mulai memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini.
Aduh! Bagaimana dengan Tatiana?
Dia menatap kakinya sendiri. Sepatu kristal itu masih menempel di kakinya.
Haruskah dia menukarnya dengan kebebasannya? Ini milik ibunya, dan begitu hilang, dia tak tahu apakah dia bisa mendapatkannya kembali.
Cinde mendesah. Dia harus bertindak cepat.
Tiba-tiba, pintu terbuka lagi dan dua pria masuk. Masing-masing membawa sepiring makanan dan sebotol air mineral yang diletakkan di depan mereka.
“Jadi, maukah kalian melepaskan tangan kami agar kami bisa makan?” tanya Jun.
Kedua pria itu bertukar pandang dan tersenyum.
“Tidak, kami akan menyuapimu. Tapi pertama-tama, kami perlu bertanya beberapa hal,” kata pria di depan Jun. Kemudian dia menarik dua bangku di dekatnya dan kedua pria itu duduk di masing-masing bangku, menghadap Cinde.
“Kalian harus bicara denganku sahaja, jangan ganggu nona yang malang itu.” Jun berteriak pada mereka.
“Tolong diamkan dia,” pria pertama berkata kepada pria satunya yang berdiri, mengeluarkan selembar kain dari sakunya. Pertama-tama meninju rahang Jun dengan sangat keras hingga Jun berteriak dan batuk-batuk. Setelah itu, dia mengikatkan kain di antara bibir Jun, begitu kuat sehingga mulutnya terbuka dan bibirnya terhalang oleh kain itu.
“Lebih baik begitu,” kata pria pertama, lalu pria satunya datang menemuinya lagi.
Mereka berhadapan dengan Cinde yang menatap mereka, jelas ketakutan.
“Sekarang, putri kecil, kau akan memberi tahu kami siapa orang tuamu. Kami akan mencari cara untuk menghubungi mereka agar kami bisa mencapai kesepakatan tentang bagaimana kami bisa dibayar sebelum kami melepaskanmu.”
Cinde mengerutkan kening.
“Tapi … gue bukan putri. Sumpah biar kaya.”
Kedua pria itu bertukar pandang dan menggelengkan kepala.
Lalu salah satu dari mereka mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke jidat Cinde.
“Kau pikir ini lelucon?” tanyanya, alisnya berkerut.
Cinde memejamkan mata ketika merasakan dinginnya laras pistol itu. Jantungnya berdebar kencang.
“Pliiis, sumpah kagak pake pocong. Gue kagak bo’ong.”
“Jadi kau bukan putri dan kau ingin kami percaya itu? Dengan gaun dan sepatu yang kau pakai? Gitu?”
Cinde tahu ini akan sulit untuk dijelaskan, tetapi dia tetap harus mencoba.
“Dengerin, gue tau kalo lu orang kagak percaya gue bukan putri, tapi percayalah. Gue pake karena gue lupa bawain dan Tatiana, putri yang beneran, ninggalin gue dan—”
Para bandit itu mengabaikannya dan salah satu dari mereka meludah ke lantai.
“Diam! Kau pikir kami ngelawak? Kau pikir kami seperti anggota dewan di matamu?” teriak yang satunya lagi.
“Jangan khawatir, begitu kami mulai menyiksamu, kau akan memberi tahu kami siapa orang tuamu.” kata pria itu sambil mengambil piring-piring berisi makanan yang belum tersentuh.
“Kau tak akan dikasih makan sampai kau memberi tahu kami siapa orang tuamu.”
“Tolong, gue cuma punya nyak tiri dan dia akur-akur bae kalo gue mati kapiran dimari. Tulungin, deh. Cari ingpo yang bener, pliiis.”
Cinde memohon, tetapi para bandit mengabaikannya.
Para penculik kemudian berdiri dan salah satu dari mereka pergi untuk membuka kain yang menutupi mulut Jun.
“Apa yang harus kita lakukan dengan dia?”
“Siapa dia?”
“Entahlah, dia cuma ikut campur urusan orang lain,” jawab yang lain.
“Dia bukan siapa-siapa, kita biarkan saja dia di sini sampai bos tahu apa yang bisa kita lakukan dengannya.”
Jun memperhatikan kedua pria itu berbicara.
Sejenak, dia berpikir sebaiknya memberi tahu mereka siapa dirinya. Kalau mereka tahu, mungkin mereka akan membebaskannya dan gadis malang itu. Tapi kalau sampai terjadi, ibundanya akan tahu bahwa dia telah menipu ibunda dan ayahandanya. Mengganti dirinya dengan temannya, dan Sam akan dihukum pasung di penjara bawah tanah seumur hidup.
Ya ampun! Apa yang bisa dia lakukan, pembaca?










