Home / Genre / Fantasi / Cinde Lara: Bab 11

Cinde Lara: Bab 11

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 12 of 27 in the series Cinde Lara

Tatiana membuka matanya sedikit. Di mana-mana ada duri dan berputar-putar. Dia menutup matanya lagi lalu membukanya.

Awalnya, dia melihat langit-langit, dicat putih dan sebuah lampu gantung yang indah berada di tengahnya.

Awalnya, dia bingung. Apakah dia telah dinobatkan menjadi ratu? Apakah dia di rumah? Di mana dia? Lalu, bagai kilatan cahaya, ingatan tentang sopirnya yang ditembak tiba-tiba menyambarnya, membuatnya tersentak dan berdiri.

Dia menyadari bahwa ia berada di sebuah ruangan.

Ruangan itu indah, berperabot lengkap dan juga mahal, tetapi ada sesuatu yang janggal. Dia diculik dan mereka membawanya ke sini.

Dengan cepat, dia mencari ponselnya, memeriksa tempat tidur, di bawah bantal, tetapi tidak ada apa-apa. Kemudian dia berjalan ke pintu dan mulai menariknya, tetapi pintunya terkunci.

Dia terjebak di dalam!

Kenyataan itu mulai membuatnya panik dan sesak napas.

Dia telah diculik, itu berarti dia tidak akan berpartisipasi dalam kompetisi.  Yang artinyaakan kehilangan kesempatannya untuk menjadi ratu, uang dan waktu yang telah dia habiskan, yang telah dihabiskan ibunya, akan sia-sia!

Oh tidak!

Ia mulai menggedor pintu dan berteriak pada saat yang bersamaan.

***

Di suatu tempat di rumah, keempat pria itu berdiri dengan gelisah.

“Demi Tuhan, di mana dia?” tanya Janto sambil menekan sebuah nomor. “Ini sudah keseratus kalinya aku menekan nomor ini, tadinya sibuk, sekarang mati.”

“Aku bahkan tidak mengerti semua ini.” Bobo menjawab, “Kita butuh sisa uangnya agar kita bisa pergi. Apa sebaiknya kita meninggalkannya di sini? Kita sudah punya setengah uangnya, kenapa tidak kita habiskan saja?”

“Dan tidak mengambil sisanya?” tanya Kali. “Tidak mungkin, dia sedang mempermainkan kita. Aku sarankan kita bawa wanita ini dari sini dan minta dia membayar dulu sebelum kita membawanya kepadanya.”

“Jadi kalau kita bawa dia dari sini, di mana kita taruh dia?” tanya Lanjar.

“Bagaimana dengan rumahmu?” jawab Kali.

“Rumahku?” tanya Lanjar lagi, “Di kamar siapa, kamar ibuku atau kamar kakak-kakakku?”

Janto mendesah.

“Kita tidak akan membawanya dari sini, kita tunggu saja apakah dia muncul sebentar lagi. Hari sudah mulai gelap, kusarankan kita pulang saja. Tinggalkan cewek itu di sini dan berharap dia menelepon.”

Kali bergumam, “Begini bos, aku tidak setuju. Kenapa kita tidak melakukan pemungutan suara?”

“Yang setuju kita harus menerima setengah pembayaran lagi, angkat tangan.” Kata Janto dan Kali sendiri yang mengangkat tangannya.

“Yang ingin kita pulang?” tanya Janto lagi, dan ketiganya mengangkat tangan.

Dia menghadap Kali.

“Lihat, skornya tiga satu. Ayo kita pergi, teman-teman,” katanya dan mereka mulai pergi. Tapi saat itulah mereka mendengar suara seseorang berteriak dan menggedor pintu.

“Seperti yang kukatakan, kita harus membawanya bersama kita, kalau tidak, bagaimana kalau dia tidak kembali tepat waktu dan seseorang menyelamatkannya? Dia sudah lihat muka kita, kau tahu?” Kali menjelaskan dan yang lainnya bertukar pandang, bingung harus berbuat apa.

***

Zhoya menginjak rem dan mematikan mesin. Hari sudah gelap dan dia tidak tahu di mana dia berada, tetapi dia telah meninggalkan tempat kejadian perkara dan pergi lebih jauh ke dalam kota.

Ponsel cowok itu sedang dia charge dengan pengisi daya mobil, menunjukkan baterainya penuh. Jadi dia mencabutnya dan menyalakannya.

Tiba-tiba ponselnya hidup dan bergetar. Banyak pesan masuk, dari seseorang bernama Sam.

Bro, di mana kau?

Aku masih terkunci.

Tolong bilang sesuatu.

Apakah kau sudah mendapatkan sang putri? Kalau sudah, kau harus segera datang dan melepaskanku dari sini.

Zhoya berhenti sejenak, alisnya sedikit terangkat, ia mengerutkan kening dan membaca pesan itu lagi.

Apakah kau sudah mendapatkan sang putri? Jika sudah, kau harus segera datang dan melepaskanku dari sini.

Astaga! Itu berarti pria yang mencoba menyelamatkan  sebelumnya, orang yang diculik itu juga, bagian dari geng itu!

Oh tidak! Dia harus menemukan cara untuk menghubungi Sam ini.

Dengan cepat, dia mengetik,

Ya, Bro, kau di mana?

Beberapa detik kemudian pesan masuk.

Kau mabuk, di mana lagi aku? Aku di kamarmu, astaga, aku masih terkunci.

Zhoya mengerutkan kening. Terkunci di dalam? Dikunci oleh siapa?

Dia mendesah, bagaimana dia bisa meyakinkan pria ini untuk percaya bahwa dialah pemilik ponsel itu tanpa membuat kesalahan dan mengacaukan semuanya?

***

Sam tidak bisa tidur. Bagaimana mungkin? Dia tahu kalau besok pagi Jun tidak muncul, riwayatnya akan tamat. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah mengunci diri agar tidak ada yang bisa masuk, tetapi tetap saja, itu akan membuat Jun dan dirinya semakin dalam masalah. Karena ada jendela dan siapa pun bisa masuk melalui sana atas perintah Raja.

Terdengar ketukan lagi di pintu.

“Pangeranku, makan malammu sudah siap.”

“Aku tidak lapar.” Ia berteriak.

“Ibundamu berkata kepada….”

“Tolong, beri tahu Yang Mulia bahwa aku baik-baik saja.” Dia berteriak lagi, berusaha sebisa mungkin terdengar seperti Jun. Lalu dia menunggu, tak ada jawaban. Ia menarik napas dalam-dalam dan kembali ke ponselnya.

Dia tak mengerti pertanyaan bodoh yang diajukan Jun, dia mencoba menelepon, tetapi terus saja berdering tanpa dijawab.

“Jun, kau baik-baik saja? Ada apa denganmu? Kenapa kau bertanya di mana sang putri padahal kau sendiri yang memberi petunjuk arah pada orang-orang itu.”

***

Jun, kau baik-baik saja? Ada apa denganmu? Kenapa kau bertanya di mana sang putri padahal kau sendiri yang memberi petunjuk arah pada orang-orang itu.

Zhoya membanting kemudi dengan marah.

Apa yang akan dia lakukan?

Dia mendesah dan mulai berpikir ketika ponselnya berdering. Kali ini, bukan Sam, melainkan Janto.

Janto?

Nama itu terdengar seperti nama penjahat, ia memutuskan untuk menjawabnya tanpa berkata apa-apa dan diam-diam mendekatkan ponselnya ke telinganya.

“Halo bos, ada masalah apa? Di mana Anda? Kami sudah mendapatkan sang putri, tapi kami tidak bisa menemukan Anda. Di mana Anda? Apa Anda mencoba mempermainkan kami atau apa? Kami akan membawa sang putri bersama kami sampai Anda menyelesaikan kekurangan kami! Halo, halo?”

Zhoya mengakhiri panggilan.

Ini terlalu membingungkan.

Kalau cowok itu terlibat dalam penculikan, lalu di mana dia? Jelas, dia tidak bersama para penculik dan temannya juga sedang mencarinya. Jadi di mana dia? Tapi tidak ikut dengan para penculik?

Zhoya masih ingat bagaimana dia dilempar ke belakang van seperti Cinde.

Ini tidak masuk akal.

Pesan lain masuk.

Apakah Janto dan yang lainnya bersamamu? Kenapa bersikap seperti ini? Apa kau tak sadar ibumu akan membunuhku kalau kau tidak pulang tepat waktu?

Tanpa berpikir, Zhoya mulai mengetik.

Telepon Janto.

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 10 Cinde Lara: Bab 12

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image