Seperti awan putih, kabut melayang turun menyelimuti punggung Merbabu, serupa tarian meliuk indah, kita berjalan turun menyusuri jalan setapak, tanpa ucap, hanya suara dertak jantung kita yang tetap tak mampu merobek kesunyian. Dan keheningan itu membuat angan mengembara.
Suatu hari, kita sedang duduk di halaman kampus, di bawah rindangnya pohon akasia. Segelas jus buah ada di tangan kita masig-masing, sementara matahari tak segarang biasanya, ini bulan September biasanya kemarau sangat terik. Kita menatap dalam diam merencanakan tuk mendaki Merbabu bersama. Dan kini di sinilah kita.
Kabut masih saja melayang turun, kita mendaki tengah malam dan cahaya matahari menbawa kita kita sampai ke puncak, bukan puncak utama, namun hanya sampai di sini biasanya pendaki gunung berhenti, untuk kemudian turun lagi, kabut tebal akan datang ketika hari mejelang siang, kita terjebak kabut, kau..aku termangu menunggu waktu.
Masih diam membisu, kita menyusuri jalanan berbatu, ada yang menggeletar lirih mengusikku, aku ingin sekedar kau genggam tanganku, buat usir dingin yang mulai mengusikku, berlebihankah inginku? Dan seperti bisa kau baca isi hatiku, perlahan kau genggam lembut tanganku. Ada hangat yang yang mengalir keseluruh nadiku. Senyum kecil merekah di sudut bibirku. Kamu menoleh tebarkan senyum yang sama, indah.
Hamparan padang edelweis serupa surga bagi kita. Keindahan kuntum-kuntum kecil berwarna putih memanjakan mata, bergegas menuju kesana. Angin menebarkan aroma wangi yang luar biasa, barangkali hanya di sini kita bisa menghidu aromanya. Berlari kita berlomba memetiknya, hanya sekuntum, cukup sekuntum dan kita tertawa dalam irama yang sama … bahagia.
Matahari perlahan hangatkan hari. Ini masih separuh perjalanan, masih panjang jalan yang harus kita tempuh, namun apalah artinya itu bila bersamamu? Bagiku hangat senyummu menghangatkan hatiku bahkan mungkin mampu membakarku dalam rasa yang mempesona. Kau, aku larut dalam keindahan yang tercipta.
Menjejak punggung Merbabu bersama, sepotong kenang yang tak pernah hilang. Langit seperti merestui, kabut pun perlahan menghilang. Kita tinggalkan padang edelweiss, tak mau larut dalam keindahan alam yang membingkai kisah kita. Sebelum malam merenggut senja kita harus sudah sampai di kaki gunung. Merskipun berat, kita tinggalkan padang edelweiss. Kali ini tangan kita berpagut erat, jalanan makin tak bersahabat, sesekali kita terjatuh bersama namun kita tetap tertawa.menikmatinya.
Dalam temaram senja kita nikmati secangkir kopi, kita sama-sama terdiam hingga malam menjemput senja, langit tak lagi biaskan cahaya hangatnya. Dalam gigil malam kita mencoba mengeja bersama, tentang kabut yang melayang turun, tentang padang edelweiss, tentang tawa kita yang pecah membelah langit dan tentang senja yang baru saja sirna. Adakah makna di dalamnya?
Puluhan purnama aku masih mencoba mengeja. Mencoba mencari makna apa yang tersirat dari genggamanmu. Mencari jawab tentang senyum hangatmu dan semua tentangmu. Namun kau menghilang serupa kabut. Kucari kau dalam kuntum edelweiss yang sempat kau ulurkan kepadaku, dengan senyum paling indah milikmu.
Kabut putih melayang turun perlahan, serupa tarian indah di punggung Merbabu, sendiri aku menikmatinya dari kaki Merbabu. Aku seperti melihat jejak kisah kita di sana. Aku seperti mendengar tawa kita sana. Dan bayangan-bayangan kenang itu berkelebat menemani senjaku yang sendiri. Menikmati secangkir kopi yang sama, di meja yang sama. Kabut pun menghilang seperti dirimu, menyisakan potongan-potongan kenang yang bahkan sulit kubuang.
Ungaran, 9 September 2025
#puisipanjang

Tag:puisi panjang








